FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Gaduh Soal Tiket Masuk Brobudur Naik, Ini Tiga Faktanya

Indeks Artikel




SUBANG, TINTAHIJAU.com -  Sebelumnya dikabarkan bahwa Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan akan membatasi pengunjung Candi Borobudur dan menerapkan tarif baru untuk tiket masuk Borobudur bagi turis asing maupun harga tiket masuk candi borobudur untuk wisatawan lokal (tiket Borobudur).

Tak tanggung-tanggung, pengunjung lokal atau turis lokal nantinya diharuskan membayar tiket masuk Borobudur Rp 750.000 untuk setiap pengunjung.

Sementara untuk wisatawan mancanegara, lanjut Luhut, bakal dikenakan tiket masuk Borobudur 100 dollar AS atau jika dirupiahkan setara dengan Rp 1.443.000 (kurs Rp 14.400) atau hampir dua kali lipat dari harga tiket masuk Candi borobudur untuk turis lokal.

BACA JUGA:
Heboh Harga Tiket Borobudur Naik, Pakar Pariwisata Angkat Bicara

Awalnya Luhut menyatakan tiket ke Candi Borobudur akan dibuat menjadi Rp 750.000 per orang bagi wisatawan lokal. Tapi, khusus untuk pelajar yang jadi wisatawan lokal tiketnya jadi Rp 5.000 saja per orang.

Sementara itu untuk wisatawan mancanegara alias wisman tiket masuk Borobudur naik jadi US$ 100. Di sisi lain, Luhut juga menyebutkan akan ada pembatasan kuota turis yang naik ke Candi Borobudur sebanyak 1.200 orang saja per hari.

"Kami juga sepakat dan berencana untuk membatasi kuota turis yang ingin naik ke Candi Borobudur sebanyak 1.200 orang per hari, dengan biaya US$ 100 untuk wisman dan turis domestik sebesar Rp 750.000. Khusus untuk pelajar, kami berikan biaya Rp 5.000 saja," ujar Luhut dalam unggahannya di akun Instagram resmi @luhut.pandjaitan.

Saking hebohnya diperbincangkan masyarakat, fakta-fakta baru pun terungkap. Berikut ini rangkumannya:

1. Tiket Rp 750.000 Demi Konservasi

Luhut bilang alasan konservasi kelestarian kekayaan sejarah dan budaya yang terkandung dalam Candi Borobudur menjadi alasan utama rencana kenaikan harga tiket. Konservasi akan dilakukan di situs bersejarah itu

"Langkah ini kami lakukan semata-mata demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan budaya nusantara," kata Luhut.

Menurut Luhut, sebagai situs sejarah, Candi Borobudur memiliki berbagai kerentanan dan juga ancaman. Berdasarkan kajian dari berbagai ahli yang memberikan masukan kepada pemerintah, kondisi situs bersejarah itu saat ini mulai mengalami pelapukan. Selain itu, perubahan iklim hingga potensi erupsi gunung berapi, gempa bumi, juga menjadi tantangan tersendiri.

Mirisnya tantangan-tantangan itu harus bertambah dengan ulah pengunjung yang merusak Candi Borobudur. Dia mengungkapkan banyak laporan kelakuan pengunjung yang melakukan vandalisme sampai membuang sampah sembarangan.

Maka wajar saja bila pemerintah berencana melakukan pembatasan ketat untuk pengunjung Candi Borobudur, salah satunya dengan 'memahalkan' biaya untuk naik ke area Candi.

"Silahkan cek atau tanya ke teman-teman pengelola di sana. Belum lagi perilaku pengunjung yang suka melakukan vandalisme, menyelipkan benda tertentu di sela-sela batu candi, membuang sampah sembarangan, dan yang lebih parah adalah tidak bisa menghargai Candi Borobudur sebagai situs umat Buddha. Ini semua kan perlu penanganan khusus," papar Luhut.

Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Dony Oskaria membenarkan wacana yang disampaikan Luhut soal tiket naik Canei Borobudur senilai Rp 750.000 memang sedang dikaji oleh pihaknya.

InJourney sendiri adalah holding pariwisata bentukan BUMN, salah satu anggota holding, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) adalah pengelola langsung kawasan Borobudur.

Dia menyatakan rencana 'memahalkan' biaya untuk naik ke Candi Borobudur ini dilakukan dalam rangka menjaga keberlangsungan konservasi situs bersejarah. Hal itu dilakukan agar tidak merusak kondisi asli Candi Borobudur.

Wacana ini pun datang sebetulnya bukan dari Luhut, melainkan dari kementerian yang memang mengurus konservasi Borobudur, yaitu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud). Tepatnya, usulan ini datang dari Ditjen Kebudayaan.

"Faktor konservasi menjadi fokus utama dengan mempertimbangkan carrying capacity sehingga tidak merusak kondisi Candi Borobudur. semua tentu atas masukan dan pertimbangan dari ahli khususnya Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan," jelas Dony seperti dilansir pada detikcom.





baca selanjutnya di halaman berikutnya



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Pesawat Jokowi Diakabarkan Berputar 360 Derajat di Perbatasan Iran dan Turki, Ada Apa? https://t.co/KXIxjYnsK1
Jual Uang Palsu di Medsos, Pasutri Asal Indramayu Ditangkap Polisi https://t.co/3AGGvsnkSY
Tipu Banyak Mama Muda di Medsos, Pria Ini Dibekuk Polisi https://t.co/80DpyNqAZB
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter