FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: Hulu segala Doa

Indeks Artikel






رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

“Duhai Tuhanku, jadikanlah daku dan sebagian anak cucuku, orang yang tetap melaksanakan sembahyang. Duh, Gusti, perkenankanlah doa hamba.” (Ibrāhīm [14]: 40).

Doa yang dipanjatkan patriarkh Ibrahim tersebut, kemudian menembus zaman dari masa ribuan tahun silam. Allah menjawab doanya, karena memang Dia berkenan mengabulkan. Sebagaimana yang dikatakan-Nya bahwa, “berdoalah, niscaya akan Aku kabulkan (ud’uni astajib lakum).”

Ibrahim bukan satu²nya Nabi yang gemar berdoa. Semua manusia utusan Tuhan, juga melakukannya. Mereka menyadari penuh kekurangan dirinya di hadapan Penguasa jagat raya. Mereka mafhum betapa doa merupakan ekspresi ketundukan dan kepasrahan, di bawah Duli-Nya. Bukan semata tentang kelemahan.

Mereka bermandikan cahaya di antara harum mewangi bunga kehidupan yang sedang mekar. Membasuh rambutnya di mata air semerbak. Berumah di atas awan. Turun ke bumi bersama tetesan hujan kesejahteraan. Butiran doa mereka teruntai sempurna jadi keindahan perangai.

Nulung kana butuh, nalang kana susah. Ngahudang kanu sare, nepak kanu poho. Nyaangan kanu poekan, nganteur kanu keu’eung. Menolong yang membutuhkan, membantu yang kesusahan. Membangunkan yang lengah, mengingatkan pada yang lupa. Menerangi yang sedang kegelapan, mengantar pada yang merasa gentar.

Mènèhana teken marang wong kang wuta. Mènèhana mangan marang wong kang luwé. Mènèhana busana marang wong kang wuda. Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan.

Memberi tongkat pada orang buta. Memberi makan orang yang lapar. Memberi pakaian pada orang yang telanjang. Memberi tempat berteduh bagi orang yang kehujanan. Memberi ilmu agar orang menjadi pandai. Mensejahterakan kehidupan masya­rakat yang miskin. Mengajari kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta melindungi orang yang menderita.

Ada doa yang bersemayam dalam waktu. Ada yang mewujud kebijaksanaan purbani. Doa mengada di tiap penjuru mata angin. Doa menjalar ke relung hati manusia paripurna. Menyalakan api kehidupan. Mewarnai pusparagam keadaan. Melipur lara para pecundang.

Doa² membumbung tinggi bersama harapan. Pun ada yang mengawang sahaja lantaran berselemak cela adab di hadapan Sang Hyang Maha Suci. Jikalau sebaik² doa adalah pujian pada-Nya, maka berdoalah dengan memuji segala keagungan Ilahi. Tak boleh didasari kepentingan ego sendiri.

 





Selengkapnya di halaman berikutnya...



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Jual Uang Palsu di Medsos, Pasutri Asal Indramayu Ditangkap Polisi https://t.co/3AGGvsnkSY
Tipu Banyak Mama Muda di Medsos, Pria Ini Dibekuk Polisi https://t.co/80DpyNqAZB
Holywings Ditutup Pemprov Jakarta, Nikita Mirzani Buka Suara https://t.co/KjGjoysV9s
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter