FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Khutbah Idul Fitri 1442 H di Masjid Al-Rizal: Taqwa Paripurna



SUBANG, TINTAHIJAU.com - Pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Masjid Al-Rizal Perumahan Jabong Subang berlangsung dengan penerapan Protokol Kesehatan Ketat

Dalam pelaksanaan sholat idul Fitri itu hanya diikuti 50% dari Kapasitas Masjid, jamaah wajib mengenakan masker, durasi khutbah Khotib tidak lebih dari 15 menit dan saat sholat juga hanya mebaca surat-surat pendek.

Sholat Idul Fitri dipimpin imam sekaligus khotib Gugyh Susndy SE., M.Si dengan mengangkat tema Taqwa Paripurna. Berikut adalah isi khutbah Sholat Idul Fitri di Masjid Al-Rizal, Perumahan STIESA Regency:

السلام عليكم و رحمةالله و بركاته

الله أكبر 3 xالله أكبر 3 xالله أكبر 3 x
    اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا،وَالْحَمْدُلله كَثِيْرًا،وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً. لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ،صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَر ُوَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُللهِ الًّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ اَحَسَنُ عَمَلاَ، وَ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَاعَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى.
أَشْهَدُأَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، الَّذِيْ أَوْضَحَ الطَّرِيْقَ لِلطَّالِبِيْنَ، وَ سَهَلَ مَنْهَجَ السَّعَادَةِ لِلْمُتَّقِيْنَ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَامُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِالأَمِيْنَ وَاْلإِمَامُ ِللْمُتَّقِيْنَ.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.
‘Amma ba’du

AlLâhu akbar 3x, wa lilLâhil hamd. Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.

Takbir. Tahlil. Tahmid. Tak henti-hentinya meluncur dari setiap lisan kaum beriman. Menggetarkan dada. Menyentuh jiwa. Bergemuruh di langit. Menghujam ke bumi. Dengan hati yang khusyuk, tulus dan ikhlas. Semua Muslim. Termasuk kita di sini. Bersimpuh. Bersujud. Merunduk dan merendahkan diri. Di haribaan Zat Yang Maha Suci. Hanyut dalam senandung pujian kepada Ilahi. Tenggelam dalam pengagungan kepada Zat Yang Mahatinggi. Allah Rabbul ‘Izzati.

Ramadhan telah kita tinggalkan. Idul Fitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa. Bukan kembali berlumur dosa. Begitulah seharusnya kita pasca puasa.

Idul Fitri tahun ini sama-sama kita rayakan saat kita ini masih dirundung musibah pandemi. Sungguh, hanya orang yang beriman yang bisa mengambil pelajaran. Dia-lah Yang Maha Besar, Dia-lah Yang Maha Perkasa, dan Dia-lah Yang Maha Kuasa. Yang kekuasaan-Nya tak tertandingi oleh manusia, siapa pun jua. Dialah Allah, penguasa sejati langit dan bumi.  Yang menghidupkan dan mematikan. Yang melapangkan dan menyempitkan makhluk di alam ini.

AlLâhu akbar 3x, wa lilLâhil hamd. Jamaah kaum Muslim rahimakumulLah.

Setiap tahun kaum Muslim merayakan Idul Fitri dengan sukacita. Sebab, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, Idul Fitri adalah Hari Kemenangan. Menang melawan hawa nafsu. Menang melawan godaan setan. Menang melawan setiap kecenderungan dan perilaku menyimpang. Meninggalkan hal-hal yang sebenarnya dihalalkan di waktu siang. Tak berani berbuka sebelum waktunya, karena merasa diawasi oleh Dzat Yang Maha Mengawasi.

Hari raya yang penuh dengan kemenangan semacam inilah yang sepantasnya dirayakan. Allah SWT berfirman:
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)
Pada hari itu, bergembiralah kaum Mukmin karena meraih pertolongan Allah SWT. Dia menolong siapa saja yang Dai kehendaki. Dia Mahakuat dan Maha Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5).

AlLâhu akbar 3x, wa lilLâhil hamd. Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.
Di sisi lain, sesungguhnya Idul Fitri lebih layak dirayakan oleh Mukmin yang puasanya melahirkan takwa. Tentu bukan takwa yang pura-pura. Sekadar demi citra. Demi meraih tahta dan kuasa. Namun, takwa yang bertambah sempurna. Takwa yang makin paripurna. Takwa yang sebenarnya (haqqa tuqâtih). Sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT dalam QS Ali Imran [3] ayat 102. Dalam bahasa sebagian ulama dinyatakan:
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ وَ لَكِنَ الْعِيْدَ لِمَنْ تَقْوَاهُ يَزِيْدُ
Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang ketakwaannya bertambah.

Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.

Salah satu definisi takwa dinyatakan oleh Imam al-Hasan. Kata Imam al-Hasan, sebagaimana dikutip oleh Imam ath-Thabari di dalam tafsirnya, kaum yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa takut terjerumus pada apa saja yang telah Allah SWT haramkan atas mereka dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan kepada mereka.

Al-Quran banyak mengungkap ciri orang-orang yang bertakwa. Demikian juga al-Hadis. Begitu pun yang dinyatakan oleh para Sahabat. Juga oleh banyak ulama dari generasi salafush-shalih. Menurut Imam Ali ra., misalnya, sebagaimana dinukil dalam kitab Dalîl al-Wa’zh ilâ Adillah al-Mawâ’izh (1/546) dan Subul al-Hudâ wa ar-Rasyad (1/421), takwa adalah:

اَلْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَ الْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَ الْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَ الإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

Takut kepada Allah Yang Mahagung, mengamalkan al-Quran yang diturunkan, puas dengan yang sedikit, dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi hari kepergian (ke akkirat).

Dengan demikian takwa memiliki empat unsur yaitu:

Pertama, Al-Khawf min al-Jalîl, yakni memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Orang yang bertakwa tentu selalu berhati-hati dalam hidupnya karena takut akan terjatuh pada segala perkara yang haram. Sebab setiap keharaman yang dilakukan pasti menuai dosa. Setiap dosa bakal mengundang murka dan siksa-Nya. Inilah yang ditakutkan orang yang bertakwa. Jika pasca puasa rasa takut terhadap murka-Nya ini selalu melekat dalam diri seorang Muslim maka dia layak bergembira di Hari Raya.

Demikian pula yang Allah SWT tegaskan:
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Mereka senantiasa mengharapkan rahmat Allah dan takut terhadap azab-Nya. Sungguh azab Allah itu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti (QS al-Isra’ [17]: 57).
Allah SWT telah lama menyeru kita:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Bersegeralah kalian meraih ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi kaum yang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 133).

Kedua: Al-‘Amal bi at-Tanzîl, yakni mengamalkan seluruh isi al-Quran yang telah Allah turunkan. Tentu dengan menerapkan semua hukumnya. Dengan melaksanakan dan menerapkan syariahnya secara kaffah.

Ketiga: Al-Qanâ’ah bi al-qalîl, yakni selalu merasa puas/ridha dengan karunia yang sedikit. Qanâ’ah akan melahirkan sikap zuhud terhadap dunia. Zuhud terhadap dunia akan melahirkan sikap wara’, yakni senantiasa berhati-hati terhadap dosa.

Keempat: Isti’dâd[an] li yawm ar-rahîl, yakni menyiapkan bekal untuk menghadapi ‘hari penggiringan’, yakni Hari Kiamat. Sebagaimana diketahui, kedatangan Hari Kiamat bukanlah sesuatu yang lama. Kedatangannya sangat dekat. Seperti kedatangan hari esok. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (Hari Kiamat). Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah Maha awas atas apa saja yang kalian kerjakan (QS al-Hasyr [59]: 18).

Menurut Imam ath-Thabari dan mufassir lainnya, ‘hari esok’ dalam ayat di atas tidak lain adalah Hari Kiamat. Bekal terbaik untuk menghadapi Hari Kiamat tidak lain adalah takwa. Takwa tentu harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga pada ranah masyarakat. Inilah yang boleh disebut sebagai “ketakwaan kolektif”.

AlLâhu akbar 3x, wa lilLâhil hamd. Jamaah kaum Muslim rahimakumulLâh.

Maka, Idul Fitri ini harus menjadi momentum kita semua untuk berubah. Menjadi manusia baru, laksana kupu-kupu yang indah memesona, yang baru melewati masa kepompong selama Ramadhan. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara totalitas, tanpa batas. Akhirnya, mari bergandeng tangan, eratkan ukhuwah dan kesampingkan perbedaan furu’iyyah.

Allahu Akbar (7x) waliLlahi al-hamd
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita berdoa kepada Allah, dengan penuh kekhusyu’an. Bermunajat penuh harap kepada-Nya. Semoga Allah SWT mengabulkan doa-doa kita.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَهْلِ بْيْتِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، وَ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، وَ أَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ أَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, bila kami masih sering menurutkan hawa nafsu kami dan melanggar aturanMu. Hanya kepadaMu kami berharap ampunan dan pertolongan.

Ya Allah, sungguh kami tak patut menjadi penghuni surgaMu, tapi kami takut siksa nerakaMu. Yang kata Nabi siksa paling ringan ketika telapak kaki menyentuh api neraka, mendidihlah ubun-ubunnya.

Ya Allah, jadikan kami hamba-hambaMu yang engkau cintai. Jadikan hati kami tunduk kepadaMu dengan sepenuhnya. Jangan duakan hati kami untuk menyembahMu semata.

Ya Allah, selamatkan kami dari wabah ini. Selamatkan saudara-saudara kami di berbagai negeri. Jadikan kami hamba-hambaMu yang sabar menghadapinya dan ridha terhadap qadha’Mu.

Ya Allah, kuatkan iman kami. Kuatkan semangat kami untuk memperjuangkan tegaknya agamaMu di muka bumi. Dan tolonglah kami, dengan pertolonganMu sebagaimana Engkau menolong umat-umat terdahulu yang tunduk dan taat kepadaMU.

Ya Allah, hanya kepadaMu kami berharap. Tidak ada daya dan kekuatan selain atas pertolonganMu.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
الله أكبر 3 x  و لله الحمد.

Wassalaamua’laikum wr wb



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Alhamdulillah, Populasi Badak Jawa dan Elang Jawa Bertambah https://t.co/UbrG0rQhxo
Anji Drive Ditangkap Karena Kasus Narkoba https://t.co/LCTmNjuha1
Gawat!, Covid-19 di Jakarta Menngkat 302 Persen https://t.co/DH3YpTeYft
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter