FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

MUI dan Pakar Jelaskan Cara Berkurban di Tengah Isu PMK




SUBANG, TINTAHIJAU.com - Sebentar lagi umat muslim akan merayakan hari Idul Adha dan berkurban, sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Deaerah Istimewa Yogyakarta meminta masyarakat untuk menghindari hewan ternak untuk iabadah kurban.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Fatwa MUI DIY Makhrus Munajat menjawab keresahan masyarakat soal isu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Hewan ternak itu baik berupa ternak baik sapi, kambing, atau kerbau yang terpapar atau bergejala penyakit mulut dan kuku (PMK) baiknya dihindari untuk ibadah kurban di Iduladha tahun ini.

"Hewan terpapar PMK itu kan berpenyakit, kalau ada hewan yang sehat sebaiknya kita tidak menggunakan hewan sakit karena akan berdampak pada hal-hal yang mudharat," paparnya dikutip dari situs resmi MUI pada Sabtu (21/5/2022).

Lantas, bagaimana harusnya kurban tersebut?

Makhrus pun menjelaskan lebih lanjut, terlepas dari kemunculan wabah PMK yang sedang melanda, memang sesuai syariat Islam hewan ternak untuk kurban haruslah sehat.

Sehat itu berarti, tidak cacat fisik serta cukup umur untuk dipakai berkurban Iduladha.

"Bahkan yang (cacat) fisik pun kita tidak boleh misalnya tanduk hilang, hewan yang ekornya putus, telinganya hilang satu juga tidak boleh," kata dia.

Karena itu, selama masih ada hewan yang sehat ia meminta masyarakat tidak memilih hewan yang terpapar maupun bergejala PMK, termasuk yang terkena antraks atau cacing hati.

Meski demikian, seandainya masyarakat tidak mengetahui bahwa ternak yang telah disembelih sebagai hewan kurban ternyata terpapar virus penyebab PMK, tetap halal untuk dikonsumsi.

"Ketika disembelih pun dagingnya halal dimakan. Dagingnya sah dimakan," ujar dia sembari meminta masyarakat tidak panik menghadapi wabah PMK.

Memilah Hewan untuk Kurban di Tengah Isu PMK

Sementara itu, Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Hendra Wibawa menuturkan masyarakat yang hendak berkurban dapat memilah hewan-hewan tersebut.

Hewan yang terpapar PMK punya beberapa ciri. Ia menjelaskan, dari sejumlah gejala klinis seperti mulut melepuh dan lendir berlebih, demam, serta luka pada bagian kaki.

Secara prinsip, Hendra menyebut PMK bukan tergolong "zoonosis" atau penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia.

Sehingga apabila daging hewan yang terpapar terpaksa dikonsumsi oleh manusia, kata dia, tidak membahayakan.

Namun demikian, ia meminta masyarakat yang mengonsumsi menghindari bagian kaki, kepala, dan jeroan atau organ dalam hewan karena bagian itu paling banyak terpapar virus penyebab PMK.

"Tidak membahayakan manusia, jadi risiko zoonosis-nya diabaikan karena belum ada penyakit PMK pada manusia. Ini berbeda dengan penyakit mulutnya manusia," ujar Hendra.

Sumber: KOMPAS.tv | Foto: Ilustrasi

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Jabatan Wakapolres dan Sejumlaah Perwira Polres Purwakarta Disertijabkan https://t.co/luilYOeU9R
Regional Jawa Buktikan Adanya Cadangan Migas Baru di WK PHE ONWJ https://t.co/i64HUyOSjv
Pesawat Jokowi Diakabarkan Berputar 360 Derajat di Perbatasan Iran dan Turki, Ada Apa? https://t.co/KXIxjYnsK1
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter