FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

5 Orang Diringkus Polda Jabar Karena Jual Obat 5 kali Lebih Mahal dari Harga Eceran

Indeks Artikel




SUBANG, TINTAHIJAU.com -  Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar tangkap 5 orang yang menjual obat-obatan untuk pasien Covid-19 di atas harga eceran tertinggi (HET).

Bahkan obat-obatan ini dijual hingga harga 5 kali lipat padahal sangat dibutuhkan mereka yang terpapar Covid-19.

Kasubdit Perindustrian dan Perdagangan Ditreskrimsus Polda Jabar AKBP Andry Agustiano membenarkan hal tersebut.

BACA JUGA: Pelaku Rekrutmen Pegawai BNI Palsu Berhasil Diringkus Petugas, Raup Hingga Rp40 Juta

Menurut Andry mereka yang ditangkap ini berinisial ESF, MH, IC, SM dan NH dan ditangkap atas 5 laporan polisi berbeda.

"Lokasinya ada di Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat hingga Bogor," ucapnya di Mapolda Jabar, di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung pada Rabu 21 Juli 2021.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Pol Arif Rachman menambahkan kasus ini menjadi krusial karena dilakukan saat Pandemi Covid-19 sedang bertambah kasusnya. "Obat ini dijual di atas HET dan tentunya tanpa izin edar," ucapnya.

Obat-obatan Covid-19 yang ditimbun dan dijual kembali lebih mahal di antaranya Avigan 200 mg, Favikal 200 mg hingga Oseltamivir 75 mg.

Jenis-jenis obat itu disita polisi dengan rincian 104 tablet Avigan, 300 butir tablet Favikal , 7 box berisi 70 tablet Oseltamivir,  1 box Avigan, dan 5 box Avigan.





"Disparitas harga jualnya sangat tinggi. Contohnya Avigan, itu biasa Rp2,6 juta dijual hingga Rp10 juta," ucapnya.

Arif mengatakan berbagai modus operandi dilakukan oleh para pelaku dari mulai menggunakan modus berlatarbelakang apoteker, resep palsu hingga penjualan online.

"Jadi mereka menimbun lalu dijual kembali di atas HET. Kemudian menggunakan resep palsu. Ini koreksi kita, semua dimohon apotek-apotek lebih hati-hati karena mereka membeli di apotek pinggiran," kata dia.

Menurut Arif, jaringan ini merupakan jaringan antar daerah. Hal ini terbukti saat obat yang dibeli di Bandung, kemudian dijual ke Bogor. "Pada umumnya mereka ini masing-masing berdiri sendiri, terpisah di beberapa titik," katanya.

BACA JUGA: Curi Bensin dan Tabung LPG, 4 Remaja Pabuaran Diringkus Aparat

Berdasarkan pengakuan, mereka menimbun dan menjual kembali dengan harga mahal lantaran melihat kondisi di lapangan. Mereka, kata Arif, memanfaatkan kondisi lonjakan kasus.

"Tentunya tersangka ini melihat perkembangan ketika masyarakat membutuhkan ada harga yang berapa pun akan dibeli. Itu membuat mereka tertarik," katanya.

Dalam kasus ini, kelimanya dijerat Pasal 196, Pasal 197, Paslal 198 Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan atau Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang karantina kesehatan. Atau Pasal 62 ayat (1) , Pasal 10 huruf Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman mencapai 10 tahun penjara.



Sumber: Pikiran-Rakyat.com | Foto: Ilustrasi

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Bukan Hanya Kecupan Manis, Ternyata Ada 10 Fakta Unik Tentang Ciuman https://t.co/6IDiMSg2wV
Sekda Subang: PMI Garda Terdepan Urusan Kemanusiaan https://t.co/0RfqdyeJjz
Go Digital, UMKM Harus Siap Lonjakan Permintaan https://t.co/yJInVDevcG
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter