FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Pertamina dan PLN Pamer Jurus Efisiensi Setelah Disentil Jokowi

Indeks Artikel





SUBANG, TINTAHIJAU.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini menyoroti pemberian subsidi kepada PT Pertamina (Persero) dan PLN tanpa ada upaya efisiensi.

Presiden meminta ke-2 BUMN tersebut tidak bergantung kepada subsidi pemerintah.

Presiden Joko Widodo menyentil Pertamina dan PLN dalam sidang kabinet paripurna pada awal pekan ini.

Kedua BUMN ini menjadi sorotan presiden di tengah ancaman krisis energi dunia dan kenaikan harga sejumlah komoditas energi.

Presiden menegaskan pemerintah memang berkomitmen memberikan subsidi ke masyarakat membutuhkan seperti BBM Pertalite, solar, dan listrik.

Namun, subsidi harus diimbangi dengan efisiensi dan penghematan dari PLN dan Pertamina, selain itu produksi minyak perlu dipacu lebih tinggi.

BACA JUGA:
Hari Jadi Yang ke-61, Presiden Jokowi Mendapatkan Kejutan dan Banyak Ucapan Selamat Ulang Tahun dari Tokoh dan Masyarakat Indonesia

Subsidi BBM dan listrik mendominasi pos belanja subsidi dalam APBN.

Hingga April 2022, pemerintah sudah menghabiskan Rp 34,8 triliun untuk subsisi BBM dan elpiji, serta Rp 11,6 triliun untuk subsidi listrik.

Pemerintah juga masih harus membayar kompensasi kepada PLN dan Pertamina.

Pertamina pun buka suara menanggapi pernyataan Presiden.

Perusahaan pelat merah itu menyebut telah melakukan serangkaian upaya efisiensi dan mengoptimalkan biaya, terutama operasional Pertamina di tahun kedua pandemi Covid-19.

Jumlah efisiensi yang dibukukan Pertamina mencapai sebesar USD2,2 miliar atau setara dengan Rp32 triliun. Triliunan efisiensi tersebut diperoleh dari program penghematan biaya (Cost Saving) sebesar Rp20 triliun, penghindaran biaya (Cost Avoidance) sebesar Rp5 triliun, serta tambahan pendapatan (Revenue Growth) sekitar Rp7 triliun.

Berbagai inovasi, terobosan dan cara tak biasa ditempuh menyiasati beratnya tantangan bisnis di tengah lonjakkan harga minyak mentah dunia akibat disrupsi rantai pasok dan kondisi pandemi yang masih berlangsung. Tantangan semakin berat di tahun 2022 dengan adanya dinamika geopolitik yang dipicu konflik Ukraina-Rusia yang mengakibat kenaikan ICP di atas USD100/barrel.





baca se selanjutnya di halaman berikutnya



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Jual Uang Palsu di Medsos, Pasutri Asal Indramayu Ditangkap Polisi https://t.co/3AGGvsnkSY
Tipu Banyak Mama Muda di Medsos, Pria Ini Dibekuk Polisi https://t.co/80DpyNqAZB
Holywings Ditutup Pemprov Jakarta, Nikita Mirzani Buka Suara https://t.co/KjGjoysV9s
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter