FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Sosok Gus Dur dan Konteks Pemikiranya untuk Indonesia



KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur)

 

SUBANG, TINTAHIJAU.COM - KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh dan juga guru bangsa yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia maupun dunia internasional karena sikap, tindakan, dan pandangan-pandangannya yang kritis dan bijaksana. 





Gus Dur mengabdikan hidupnya bagi Islam lewat keterlibatan dirinya dalam organisasi Nahdhatul Ulama (NU). Pemahaman keislaman Gus Dur mendorongnya untuk melampaui batas ikatan primordial agama menuju suatu keterbukaan terhadap dunia.

Gus Dur menampilkan pemikiran-pemikiran kritis tentang kehidupan berbangsa, demokrasi, dan juga terhadap agama-agama termasuk agamanya sendiri.



Gus Dur selalu menempatkan isu keadilan, kemanusiaan dan kebangsaan diatas segalanya, tidak jarang pemikiran kritisnya selalu bertabrakan dengan kelompok-kelompok konservatif yang hingga kini masih tetap mencari eksis di Indonesia. Lalu siapakah sosok Gus Dur.

Abdurahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara.



Ayah Gus Dur adalah anak dari seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy'ari, yaitu KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri dari pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri.

Gus Dur kemudian menikah dengan Sinta Nuriyah, dari perkawinan ini mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta.

Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi.

Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir.

Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang.

Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.

Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo.

Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4.

Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat dalam usianya yang ke 69 pada tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Kepergian Gus Dur menjadi duka bagi bangsa Indonesia, bukan hanya muslim namun juga banyak para tokoh dari agama-agama lain yang kehilangan dengan sosok Gus Dur hingga hari ini. terutama dari kalangan aktifis.

Selain sebagai seorang tokoh agama dengan kedalaman ilmu agama yang dibesarkan dalam lingkungan pesantren, Gus Dur juga mewariskan pemikiran yang menjadi sumber kajian hingga hari ini.

Pemikiran dan pemahaman keislaman Gus Dur selalu menjadi bahan kajian yang menarik hingga kini terutama bagi kaum muda, karena Gus Dur selalu melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda dari tokoh-tokoh agama lainya yang lebih konservatif, namun Gus Dur mampu menghadirkan sesuatu hal yang baru dengan kontek kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Konteks pemikiran Gus Dur yang pertama adalah perdebatan tentang perlunya memasukkan Islam kedalam kontitusi bernegara yang dari dulu hingga kini masih terjadi sejak awal bangsa ini merdeka, dan menjadikan pancasila sebagai dasar negara.

Kenyataan ini hingga saat ini baik secara sembunyi ataupun terang-terangan wacana menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara agama masih terus diperbincangkan terutama kalompok Islam politik dan gelombang transnasional di Indonesia yang mengusung konsep dan ide-ide khilafah.

Konteks pemikiran Gus Dur berikutnya adalah tentang sebuah negara demokratis, Gusdur selalu melihat bahwa bangsa Indonesia perlu merumuskan suatu relasi yang jelas antara sistem demokrasi dengan keberadaan agama-agama.

Hal ini terjadi karena sebagai negara yang bukan negara agama dan bukan negara sekular, masyarakat Indonesia berada di antara dua konsep yang membentuk keindonesiaan. Oleh karena itu, sebagaimana demokrasi memberi ruang pada agama, agamapun harus menemukan peran yang tepat dalam sistem demokrasi.

Dan konteks pemikiran Gus Dur yang ketiga adalah pandangan Gus Dur tentang salah satu ciri dari masyarakat Indonesia adalah adanya budaya-budaya lokal. Tak jarang masuknya agama-agama non lokal telah menimbulkan suatu pertanyaan akan eksistensi budaya-budaya itu dalam agama.

Hal mengenai penerimaan budaya tertentu atau penolakan budaya lainnya tentu perlu memiliki dasar yang jelas. Selain itu, perkembangan sains telah membentuk kebudayaan manusia yang baru. Terhadap hal itu agama tentu perlu menyatakan posisinya sebab bagaimanapun juga orang-orang beragama pasti ikut dalam perkembangan kebudayaan itu.   

 

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Tipu Banyak Mama Muda di Medsos, Pria Ini Dibekuk Polisi https://t.co/80DpyNqAZB
Holywings Ditutup Pemprov Jakarta, Nikita Mirzani Buka Suara https://t.co/KjGjoysV9s
Keluarga Berikan Klarifikasi Terkait Hilangnya Marshanda di AS, Saat Ini Baik-baik Saja https://t.co/0cnG7JgaHg
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter