FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Memaknai Hari Lahir Pancasila dan Tantangan ke Indonesiaan Sebagai Sebuah Bangsa Yang Plural



SUBANG, TINTAHIJAU.COM - Setiap tahun, pada tanggal 1 Juni bangsa Indonesia selalu memperingati hari tersebut sebagai Hari Lahirnya Pancasila, Pancasila adalah dasar negara sekaligus identitas dari sebuah bangsa yang bernama Indonesia, 'Panca' berarti lima dan 'Sila' berarti dasar. Pancasila adalah lima pilar dasar yang membentuk berdirinya Indonesia.





Berbicara soal Indonesia atau manusia Indonesia tak akan pernah bisa dilepaskan dari identitasnya sebagai bangsa besar, bangsa yang lahir dari sebuah proses musyawarah, sebuah negara kepulauan yang memiliki banyak sekali identitas keragaman budaya, bahasa, agama ataupun falsafah hidup masyarakatnya.

Sejak awal identitas yang melekat dari bangsa ini adalah keberagaman, bukan dari asas keseragaman. Inilah yang menjadi identitas sehingga lahirlah lima pilar yang menjadi dasar kenegaraan kita.



Pancasila selama ini adalah dasar yang mengikat kita yang menjadi sebuah kesatuan utuh sesama anak bangsa untuk bisa dan saling belajar menghormati prinsip dan kebebasan individu baik itu dalam berkehendak atau memilih sesuatu yang menjadi sumber prinsip keyakinanya.

Pancasila sebagai sebuah dasar negara sudah final, jadi posisi bangsa ini sudah bukan lagi mencari-cari bentuk negara atau dasar negara, sebagaimana tema-tema yang diusung oleh kelompok-kelompok kanan konservatif yang terinspirasi untuk kembali mengusung ide-ide khilafah dimana Kesultanan Ustmaniah hari ini sudah menjadi bagian dari sejarah.



Kelompok-kelompok ini muncul di Indonesia pasca kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, ketika krah reformasi dibuka, sel-sel mereka begitu aktif melakukan kaderisasi baik di tingkatan nasional ataupun lokal terutama kaderisasi dari kalangan mahasiswa dan pelajar.  

Sejak reformasi hingga sepuluh tahun pemerintahan SBY, kelompok-kelompok ini mendapatkan ruang dengan memanfaatkan demokrasi (kebebasan) sebagai jalan promosi untuk melakukan propaganda-propaganda masif, salah satunya dengan penyebaran buletin yang berisi ide-ide untuk kembali mengusung kekhilafahan.

Hingga akhirnya ketika Pemerintahan Joko Widodo, kelompok-kelompok ini sama sekali tidak diberikan tempat, ide-ide soal kebangsaan kembali digiatkan, kalangan Islam dari basis-basis santri dan pesantrenpun dilibatkan untuk melakukan pembinaan baik dalam jagat digital ataupun kegiatan literasi walaupun saat ini hal itu juga dirasa belum cukup. 

Pancasila dalam perjalananya selalu dihadapkan kepada dua kekuatan ideologi besar, baik dari kalangan kiri progresif ataupun kekuatan kanan konservatif, dua kutub ekstrim. Namun patut bersyukur hingga saat ini, hampir setengah abad lebih Pancasila tetap bertahan kuat mengakar sebagai sebuah ideologi dan dasar negara Indonesia.

Kalangan nasionalis dan kelompok Islam moderat yang berbasiskan santri dari pesantren-pesantren selalu membangunkan narasi dan ruang berkesadaran kepada setiap generasi tentang 'Pancasila' terutama generasi saat ini yang disebut sebagai sebuah generasi 'Alfa/Milenial' atau generasi Z.

Generasi alfa yang baru lahir di era 90an harus mengenal tentang bagaimana pancasila itu lahir dan bagaimana perjalananya selama ini, bagaimana pancasila ketika masa pemerintahan Soekarno, kemudian era Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati, SBY hingga saat ini dalam ruang lingkup pemerintahan Jokowi.

Lahirnya hari pancasila baru disahkan di era Pemerintahan Jokowi dengan Keppres Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila patut untuk diberikan apresiasi, walaupun sebelumnya di usulkan oleh Megawati kepada Pemerintahan SBY kala itu, sebelumnya 1 juni bukan dikenal sebagai hari lahirnya Pancasila tapi lebih dikenal sebagai hari peringatan pidato Bung Karno. 

Tanggal 1 Juni 1945 pada Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). pertama, Soekarno pertama kalinya menyebut istilah Pancasila, karena lahirnya Pancasila tidak bisa dilepaskan dari apa yang sudah dilakukan oleh BPUPKI.    

BPUPKI pertama kali dibentuk oleh Jepang pada 29 April 1945, dengan tujuan menarik simpati masyarakat Indonesia. Lewat BPUPKI, Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Setelah dibentuk, BPUPKI melaksanakan sidang pertama yang berlangsung sejak tanggal 29 Mei-1 Juni 1945.

Sidang Pertama BPUPKI diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Dalam sidang ini, para anggota membahas rumusan dasar negara Indonesia. Terdapat tiga tokoh yang memaparkan rumusan dasar negara, yaitu Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno.

Pada 1 Juni 1945, ketika hari terakhir Sidang BPUPKI Pertama, Soekarno menyampaikan pidato, yang kemudian menandai lahirnya dasar negara NKRI, yaitu Pancasila.

Itulah mengapa, setiap tanggal 1 Juni saat ini diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila, karena lima pilar yang menjadi dasar berdirinya Indonesia pertama kali dikemukakan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945.

Dari rumusan dasar negara yang dipaparkan oleh ketiga tokoh ini, milik Soekarno yang paling diterima oleh seluruh anggota sidang, dari hasil Sidang Pertama BPUPKI ini adalah lahirnya rumusan dasar negara Indonesia yang kemudian disebut sebagai Pancasila, yang terdiri atas lima sila, yang saat itu baru dirumuskan sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme dan peri kemanusiaan

3. Mufakat atau demokrasi

4. Kesejahteraan sosial

5. Ketuhanan Yang Maha Esa 

Kemudian rumusan dasar negara Indonesia tersebut kembali disempurnakan pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, yang dimana lima pilar dari isi Pancasila mendapat perubahan sebagai berikut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kelima pilar inilah yang hingga kini menjadi pegangan bangsa Indonesia, yang seharusnya juga menjadi dasar pandangan bagi setiap gerakan politik di Indonesia, pasca reformasi kita tau selain banyaknya partai politik baru yang lahir, tidak sedikit dari mereka yang asas partainya tidak menggunakan asas pancasila. Kita sebagai bangsa Indonesia tidak pernah tau ada agenda apa dibalik itu, yang ini harus menjadi pekerjaan rumah bagi penyelenggara pemilu dan masyarakat Indonesia untuk bisa mengawasinya.

 

Yaya Suryana | Penulis

 

 



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Pesawat Jokowi Diakabarkan Berputar 360 Derajat di Perbatasan Iran dan Turki, Ada Apa? https://t.co/KXIxjYnsK1
Jual Uang Palsu di Medsos, Pasutri Asal Indramayu Ditangkap Polisi https://t.co/3AGGvsnkSY
Tipu Banyak Mama Muda di Medsos, Pria Ini Dibekuk Polisi https://t.co/80DpyNqAZB
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter