FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Mengenal Gus Baha, Ulama Ahli Tafsir dan Kharismatik NU Yang Sederhana



K.H. Ahmad Bahaudin Nursalim (Gus Baha) / Foto : Halaman FB Gus Baha

 

SUBANG, TINTAHIJAU.COM - Profil K.H. Ahmad Bahaudin Nursalim (Gus Baha) menarik untuk diketahui, selain sosoknya yang sangat sederhana, saat ini kajian-kajian keilmuanya sedang digemari oleh kalangan milenial, Gus Baha adalah tokoh ulama NU yang kharismatik, bahkan sekelas Prof. Quraisy Syihab saja mengatakan bahwa Sulit menemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Qur’an hingga detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti Gus Baha.





Walaupun saat ini memiliki banyak penggemar, Gus Baha tetap menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa dan sederhana, kopiah hitam, kemeja putih dan memakai sarung yang menjadi ciri khasnya. lalu siapakah sosok Gus Baha.

Gus Baha’ merupakan putra dari seorang ulama ahli Al-Qur’an, yaitu KH. Nursalim Al-Hafizh dengan Nyai Hj. Yuhanidz Noer Salim dari Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. KH. Nursalim adalah murid dari KH. Arwani Al-Hafidz Kudus dan KH. Abdullah Salam Al-Hafidz Pati. Beliau lahir pada tanggal 15 Maret 1970 Masehi atau 7 Muharram 1390 Hijriah.



Jika dirunut dari silsilah keluarga ayah beliau, terhitung dari buyut Gus Baha hingga generasi ke-empat kini merupakan ulama’-ulama’ ahli Al-Qur’an yang handal. Silsilah keluarga dari garis ibu beliau merupakan silsilah keluarga besar ulama’ Lasem, yaitu dari Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu yang pesareannya ada di area Masjid Jami’ Lasem, sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota Rembang.

Untuk pendidikan yang ditempuh, saat masih kecil, Gus Baha’ mulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur’an langsung dibawah asuhan ayahnya sendiri. Pada usia yang masih sangat belia, Gus Baha telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.



Menginjak di usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha’ untuk mondok dan berkhidmah kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan. Di Pondok Pesantren Al-Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam ilmu syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Dalam riwayat pendidikan, dari kecil hingga beliau menjadi pengasuh pesantren warisan ayahnya, Gus Baha’ hanya mengenyam pendidikan pesantren dari ayahnya sendiri dan pesantren Al-Anwar asuhan Mbah Moen.

Selain mengasuh pondok pesantren, Gus Baha’ juga mengajar di Lembaga tafsir Al-Quran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan juga diminta mengasuh Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Bojonegoro.

Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur’an dari se-antero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Suatu kali Gus Baha’ ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur’an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar.

Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional, hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai mufassir, juga sebagai mufassir faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Kealiman Gus Baha sudah menonjol saat dirinya menimba ilmu di Pondok Pesantren A-Anwar, ini terbukti dalam kafasihanya dalam ilmu hadits, fiqih, dan tafsir. Dalam ilmu hadis, Gus Baha mampu mengkhatamkan hafalan Sahih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan juga sanadnya. Selain Sahih Muslim, beliau juga berhasil mengkhatamkan dan hafal isi kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika bahasa arab seperti ‘Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Selepas menyelesaikan pendidikan pesantrennya di Sarang, Gus Baha kemudian menikah dengan seorang anak Kiai yang bernama Ning Winda pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. 

Setelah menikah, Gus Baha mencoba untuk hidup mandiri dengan keluarga barunya. Selanjutnya Gus Baha dan keluarga pindah dan menetap di Yogyakarta. Selama di Yogyakarta, beliau menyewa sebuah rumah untuk ditempati keluarga kecilnya.

Saudara-saudara Gus Baha, K.H Nasirul Mahasin, K. Abdul Ro'uf (alm), Mufadlotul Izzah, Gus Abdul Khakim, Gus Zaimul Umam, dan Gus Fuad sedangkan kitab karya beliau adalah Hifdzuna Li Hadza al Mushaf Kitab ini menjelaskan tentang rasm usmani yang dilengkapi dengan contoh dan penjelasan yang disandarkan pada kitab al-Muqni’ karya Abu ‘Amr Usman bin Sa’id ad-Dani (w. 444 H.). Kitab ini berguna bagi siapapun untuk mengetahui bagaimana memahami karakteristik penulisan al-Qur’an di dalam mushaf rasm usmani.

Kemudian Tafsir al-Qur an versi UII dan al-Qur’an terjemahan versi UII Gus Baha’ (2020). Salah satu ciri khas tafsir dan terjemahan UII yang ditulis oleh Gus Baha’ dan Timnya adalah tafsir ini dikontekstualisasikan untuk membaca Indonesia dan dengan rasa Indonesia. Dan tafsir dan terjemahan UII ini sama sekali tidak merubah dari ke aslian al-Qur’an itu sendiri. Demikianlah ulasan kehidupan dan profil Gus Baha.

 

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

 

 

 



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Tipu Banyak Mama Muda di Medsos, Pria Ini Dibekuk Polisi https://t.co/80DpyNqAZB
Holywings Ditutup Pemprov Jakarta, Nikita Mirzani Buka Suara https://t.co/KjGjoysV9s
Keluarga Berikan Klarifikasi Terkait Hilangnya Marshanda di AS, Saat Ini Baik-baik Saja https://t.co/0cnG7JgaHg
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter