FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Sosok Buya Syafii Maarif dan Warisan Pemikiranya



Buya Syafii Maarif / Foto : Facebook Buya Syafii 

 

SUBANG, TINTAHIJAU.COM - Bangsa Indonesia hari ini kehilangan tokoh dan juga seorang guru bangsa yang begitu sangat dihormati, beliau adalah Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif atau yang lebih dikenal sebagai Buya Syafii Maarif, wafat pada usia 86 tahun pagi tadi Jumat pukul 10.15 di RS PKU Muhammadiyah Gamping.





Bangsa ini seperti kehilangan sosok seorang ayah, persis seperti dimana ketika almarhum KH. Abdurahman wahid (Gusdur) wafat. Bedanya kalau Gusdur dikenal sebagai Ulama dan Tokoh NU sedangkan Buya Syafii Maarif lebih dikenal sebagai Tokoh Muhammadiyah, namun sampai akhir hayat keduanya tetap konsen memperjuangkan isu-isu tentang kemanusiaan dan keadilan.

Bagi sebagian kalangan, terutama kelompok-kelompok keagamaan konservatif keduanya tidak begitu populer, tuduhan bahkan hujatan keji mungkin sering kita jumpai dari rekam jejak digital mereka. Namun dikalangan aktifis nama Gusdur dan Buya Syafii Maarif sampai hari ini masih melekat dan menjadi sumber inspirasi untuk terus memperjuangkan isu-isu tentang kemanusiaan dan keadilan.



Penting bagi kita, terutama anak-anak generasi milenial untuk lebih mengenal warisan pemikiran dan kiprah kedua tokoh bangsa ini, dan apa yang menjadi konsen perjuangan mereka hingga akhir hayat, namun penulis saat ini hanya akan lebih banyak mengulas tentang sosok Buya Syafii Maarif. 

Buya Syafi'i selama ini lebih dikenal sebagai ulama, tokoh dan cendekiawan Indonesia yang rendah hati, bersahaja dan sederhana, pada saat-saat tertentu sosok buya terekam kamera sedang menaiki kereta seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Padahal, kalau kita mau menengok rekam jejak dan pemikiranya, Buya Syafii layak sebagai tokoh yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia.  



Selain dikenal sebagai seorang tokoh, Buya Syafii juga aktif menuangkan ide-ide dan pemikirannya kedalam bentuk tulisan, beliau kerap menulis buku bertemakan Islam, politik, humanisme dan juga kebhinekaan. 

Beberapa buku Buya Syafii Seperti "Fikih Kebhinekaan" yang diterbitkan tahun 2015, "Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah" yang terbit tahun 2009, dan"Membumikan Islam" yang terbit tahun 1995 dan masih banyak lusinan buku lainnya yang semua itu bersumber dari gagasan dan pemikiran sang cendekiawan. 

Baik dalam tulisan atau menjadi pembicara aktif, Buya Syafii seperti mencoba untuk merefleksikan kegelisahanya tentang keindonesiaan dan manusia Indonesia hari ini dan kedepan. Bangsa ini tengah dihadapkan pada sebuah tantangan besar yang kerap jauh berbeda dan lebih progresif dari masa-masa yang telah dilewati oleh sosok Buya Syafii. 

Namun sebelum lebih jauh mengenal pemikiran Buya Syafii, alangkah baiknya kita juga mengenal Buya Syafii Maarif darimana beliau berasal. Buya Syafii Maarif lahir pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau. Ayah beliau adalah kepala suku dan saudagar bernama Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu. Sementara ibunya, Fathiyah wafat ketika Syafii baru berusia 18 bulan.

Saat masih kecil, Buya Syafii Maarif bersekolah di Sekolah Rakyat (SR). Sedangkan untuk belajar agama, dia mengambil dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah, Buya tamat dari SR sekitar tahun 1947 tanpa ijazah karena saat itu masih terjadi perang revolusi kemerdekaan.

Setelah usai menamatkan pelajaran di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Balai Tangah, Lintau, yang saat itu baru usia 19 tahun, kemudian pada tahun 1953 Buya merantau ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Muallimin Yogyakarta sampai dengan tahun 1956. Di Muallimin, Buya Syafii aktif dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar.

Pada usia 21 tahun, Buya Syafii berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru di sebuah kampung bernama Pohgading sampai tahun 1957. Setelah itu Buya Syafii melanjutkan pendidikan di Universitas Cokroaminoto, Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP UNY, Universitas Ohio Amerika Serikat hingga Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Buya Syafii Maarif menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama tujuh tahun dari 1998-2005. Buya Syafii Maarif juga pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Selepas menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif aktif dalam komunitas Maarif Institute dan menjadi tokoh bangsa yang sering menyampaikan kritik secara objektif dan lugas baik melalui tulisan-tulisannya di berbagai media.

Atas karya-karyanya, pada tahun 2008 Buya Syafii Maarif mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina. begitu juga seorang Penulis Damiem Demantra telah membuat sebuah novel tentang masa kecil Ahmad Syafi’i Maarif, yang berjudul ‘Si Anak Kampung’ yang telah sukses difilmkan dan meraih penghargaan pada America International Film Festival (AIFF).

Sebelum wafat, Buya Syafii masuk ke rumah sakit itu sejak Sabtu 14 Mei 2022, Buya Syafii mengeluh sesak napas akibat jantung. Bahkan, pada awal Maret lalu, Buya Syafii juga sempat menjalani perawatan medis di RS PKU Gamping. Saat itu, Buya hampir dua pekan menjalani perawatan sampai kondisinya membaik dan diperkenankan untuk pulang. 

Kini walaupun beliau telah tiada, warisan pemikiran dan tulisan-tulisan Buya Syafii tetap akan abadi dan akan terus menjadi inspirasi dan dibaca oleh para pemikir, aktifis dan para cendikiawan bangsa Indonesia, ketika satu generasi hilang maka warisan peradaban dan pemikiran tentang keIndonesiaan, kemanusiaan dan perjuangan tentang keadilan akan terus tumbuh dan melahirkan pemikir-pemikir baru dari bangsa ini. 

 

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Jabatan Wakapolres dan Sejumlaah Perwira Polres Purwakarta Disertijabkan https://t.co/luilYOeU9R
Regional Jawa Buktikan Adanya Cadangan Migas Baru di WK PHE ONWJ https://t.co/i64HUyOSjv
Pesawat Jokowi Diakabarkan Berputar 360 Derajat di Perbatasan Iran dan Turki, Ada Apa? https://t.co/KXIxjYnsK1
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter