FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Ketika Media Sosial Jadi Ruang Kampanye Politik - (2)

Indeks Artikel







Lebih lanjut penulis melihat bahwa penggunaan media sosial sebagai sarana untuk melakukan kampanye politik tidaklah bisa dilakukan secara singkat dan mudah, media sosial tidak bisa diterapkan untuk kampanye politik yang sifatnya mobilisasi, namun harus dilakukan secara perlahan serta terus-menerus mulai dari membicarakan ide, visi, misi, ideologi dan lainnya. Karena para netizen khususnya para pengguna media sosial bukan orang yang mudah digiring, namun mereka akan bergerak sesuai dengan kemauan dan kesadaran mereka sendiri.

Media sosial hanya akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi para politikus yang mau bekerja terus-menerus sepanjang waktu, mereka harus intens menyebarkan ide dan gagasan pada akun media sosial miliknya dan meraih pengikut sebanyak-banyaknya, mereka juga harus mau diajak bertukar ide, membalas komentar dan terlibat dalam diskusi-diskusi yang dilontarkan oleh netizen.

Dengan demikian, media sosial tidak akan cocok bagi para politikus yang hanya bisa mengumbar janji-janji kosong, tapi media sosial memang bisa sangat efektif dimanfaatkan oleh para politisi yang memiliki kemampuan berfikir, berdialektika dan wawasan yang luas. Media sosial juga tidak akan cocok bari para politisi yang egois namun akan cocok bagi para politisi yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap masalah yang ada di masyarakat sehingga mereka akan bisa mendapatkan simpati dan empati masyarakat.

BACA JUGA:
OPINI: Kegagalan Kaum Tua dalam Memahami Politik Anak Muda

Namun begitu, bukan berarti penggunaan media sosial tidak memiliki kelemahan, tidak menutup kemungkinan adanya kegiatan kampanye yang dilakukan saat masa tenang atau saat proses pemungutan suara dilakukan, karena itu harus ada aturan yang jelas dan tegas. Permenkominfo No. 14/2014 tentang Kampanye Pemilu melalui Jasa Telekomunikasi perlu lebih disosialisasikan dan ditegaskan dengan peraturan KPU serta Bawaslu.

Potensi negatif lain yang muncul adalah tindakan black campaign atau kampanye hitam, dimana isi kampanye tersebut bersifat memfitnah terhadap lawan politik dan penyebaran hoax. Black campaign dan penyebaran berita bohong atau hoax ini biasanya dilakukan oleh akun-akun media sosial yang bersifat anonim atau akun palsu. Namun seiring dengan banyaknya berita hoax yang tersebar di media sosial, beberapa layanan media sosial populer seperti Twitter dan Facebook telah mengeluarkan aturan tegas dimana mereka akan melakukan penghapusan terhadap konten dan bahkan mematikan akun pelaku penyebaran hoax tersebut.

Ibarat sebuah pisau, teknologi memiliki dua sisi fungsi yang berbeda, ia bisa bermanfaat ketika berada ditangan orang yang benar namun ia juga bisa sangat berbahaya ketika berada ditangan orang yang salah. Setidaknya untuk saat ini media sosial dianggap mampu menjadi penyeimbang ketika media mainstream tidak lagi independen. []

Penulis: Oki Rosgani (Praktisi IT, dapat dihubungi melalui e-mail Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. dan Twitter @rosgani)

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Universitas Majalengka Teken MoU UTI Bandar lampung dan UNILA https://t.co/KSSI9IwWNq
Begini Cara Ubah Warna Tulisan di WhatsApp, Chatting Jadi Makin Seru https://t.co/GoSqDsfuMg
Rencana Redenominasi Kembali Mencuat, Akankah Segera Dimulai? https://t.co/0UuCDmfvF0
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter