FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Badruzzaman, Raja Ikan Etong di Subang Kota

 

Badru, pria asli Garut itu memulai membuka usaha pada 2006 lalu. Ia menempati sisi jalan Soeprapto atau depan Kantor Dinas Kesehatan Subang. Kesuksesan Badru usaha kuliner itu bukan terjadi secara tiba-tiba atau sim salabim. Ia harus jatuh bangun dan merasakan getirnya hidup.

Badruzzaman datang ke Subang pada 1989 lalu. Ia merantau dari tanah kelahirannya, Garut ke Subang, dengan modal aksesoris. Ia melangkah dari titik nol. Dengan menjajakan aksesoris yang ditawarkan kepada pelancong yang datang ke wisata laut Pondok Bali Legonkulon, ia berharap bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sukses belum didapat. Usahanya lebih dulu gulung tikar. Bukan karena barang dagtangannya tak laku, amun bencana Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 lalu itu berdampak ke Pondok Bali. Karuan saja, dengan berklurangnya wisatawan yang datang, usahanyapun bangkrut.

Bukan Badruzzaman namanya kalau pasrah. Sebaliknya ia putar otak mencari peluang usah lain. Dagang pakaian pilihan Badru pada saat itu. Ia menyewa salah satu kios di pasar Subang kota. Namun, usaha barunya itu tidak kunjung membaik. Wajar jika di sela-sela usahanya itu ia punya waktu luang untuk menghabiskan waktunya untuk memancing ikan, yang hasilnya untuk ia bakar bersama rekan-rekannya.

"Hobby mancing ini jadi inspirasi untuk buka usaha kuliner. Kita mancing dan hasilnya kita bakar rame-rame. Di situ kepikir, kenapa juga hobby ini tidak dijadikan usaha. Akhirnya memulai usaha dan ikan Etong saya pilih karena ini menjadi khas Subang. Ikannyapun gampang didapat," kata Badruzzaman menceritakan awal mula usahanya kepada TINTAHIJAU.com, belum lama ini.

Pada awal usahanya, dalam sehari, Badruzzaman harus puas dengan menjual tiga ekor ikan etong. Badruzzaman tidak mudah menyerah. Ia selalu mengevaluasi dan memainkan strategi untuk menarik pelanggan. Namun begitu, ia selalu menyiapkan keadaan terburuk dalam usahanya itu. "Saya selalu mengitung perkembangan penjualan ikan setiap harinya. Prinsip saya saat itu, jika tidak ada perkembangan penjualan dalam 6 bulan, lebih baik tutup. Tapi alhamdulillah, yang ada sebaliknya, selalu mengalami peningkatan," terangnya.

Saat ini, pelanggan Ikan Etong Bakar A Badru datang dari berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta dan daerah tetangga lainnya. Dalam sehari, Badru haruys menyiapkan 1 kwintal ikan Etong untuk melayani ekitar 150 porsi. Badruzzaman sudah memiliki satu cabang di Jl. Pejuang 45 atau sekitar 50 meter dari Lampu Merah Shinta. Seperti halnya di Jl. Soeprapto, usaha di Jl. Pejuang 45 cukup ramai didatangi pelanggan. "Insya Allah akan buka cabang baru lagi, termasuk di Garut," pungkasnya. [annas nashrullah l @annas_nsh]

 

foto: Owner Kuliner Ikan Etong A Badru, Badruzzaman saat berbincang dengan salah seorang pelanggannya.

 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

Berita lain terkait klik di sini


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Ayam Geprek Sambal Matah khas Sugar Rush https://t.co/yGpF5CVN1m https://t.co/llYGDm63PW
Kejar SDGs, SEAMEO CECCEP Gelar Konferensi Internasional PAUD dan Pendidikan Keluarga https://t.co/ZulTLcfHvS
Belasan Pasang di Majalengka Terjaring Razia di Hotel dan Kostan https://t.co/lYUlRJdccT
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page