FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Rumah Sejarah Kalijati, Saksi Bisu Takluknya Jepang



SETIAP kali membaca naskah percakapan tersebut, antara Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkrnborgh, Panglima Jenderal Ter Porten dari Pemerintah Belanda, dan Panglima Perang Jepang Jenderal Imamura, Andan Fitriah (45),  pengelola Rumah Sejarah di Lanud Suryadarma Kalijati, Subang, sering diliputi perasaan bangga bercampur haru.

Bagaimana tidak, setelah kolonialisme Belanda di Indonesia berlangsung ratusan tahun lamanya, tepat 8 Maret 1942 Belanda akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Jepang, seminggu setelah tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa. Lokasi tanda takluk Belanda itu, yang kini menjadi Rumah Sejarah, berada di Kompleks Lanud Suryadarma, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang.

"Apakah tuan bersedia menjerah tanpa sjarat?" kata Imamura, yang tertulis dalam naskah perundingan Belanda dan Jepang di Rumah Sejarah tersebut.

"Saja menerima untuk seluruh wilajah Hindia Belanda," jawab Porter dalam naskah tersebut.

Menurut perempuan yang sering dipanggil Fitri ini, peristiwa perundingan itu sangat tragis bagi Belanda. Belanda menyerah tanpa syarat setelah selama kurang lebih seminggu Jepang membombardir Kota Subang hingga Lembang.

"Kemudian pada tanggal 8 Maret, para petinggi Belanda datang ke Rumah Sejarah ini. Hanya dalam waktu 10 menit perundingan setelah seminggu digempur habis-habisan tanpa ampun, Belanda, yang sudah menjajah Indonesia selama 350 tahun, akhirnya menyerah tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret, seluruh dunia tahu, di tempat ini Belanda menyerah," kata Fitri saat berbincang.

Menyerahnya Belanda kepada Jepang, kata Fitri, terbilang tragis. Di samping menyerah hanya seminggu, kata Fitri, pada detik-detik perundingan pun para petinggi pemerintah Belanda dirundung rasa pasrah.

"Jadi, waktu itu, Gubernur Jenderal dan panglima perangnya tiba di sini pagi-pagi sekali. Dan untuk berunding dengan Jepang, mereka menunggu perwakilan dari Jepang selama berjam-jam, bahkan seharian. Itu karena ketika mereka menunggu di sini, para petinggi Jepangnya belum pada datang. Ketika datang, saat sore, mereka berunding selama 10 menit. Dan setelah itu, Belanda menyerah tanpa syarat," kata Fitri.

Hari-hari menunggu tanggal menyerahnya Belanda kepada Jepang pun, kata Fitri, sama tragisnya. Bahkan, di hari pertama, Jepang, yang baru mendarat di wilayah pantura Subang, langsung bisa menguasai Lanud Suryadarma.

"Lanud Suryadarma itu dulu lapangan udara terbesar di Indonesia yang dibangun Belanda. Dan dalam satu hari, tanggal 1 Maret, Jepang, yang baru datang menggunakan sepeda, panser, dan pesawat pengebom, bisa menguasai Lanud Suryadarma ini," ujar Fitri.

Sebelum Belanda menyerah di Kalijati ini, pemerintah Belanda sempat meminta perundingan di Jalan Cagak. Namun, karena Lanud Suryadarma ini terbilang strategis, perundingan berlangsung di lokasi ini. Di samping itu, Lanud ini sebagai penyangga pusat pemerintahan Belanda di Jakarta.

Selain itu, dalam perundingan, kata Fitri, seperti terjadi silang paham antara Gubernur Jenderal Belanda dan panglima perangnya. Gubernur Jenderal menginginkan konsep menyerah hanya memberikan Bandung kepada Jepang, sementara Panglima Perang Hindia Belanda memilih menyerahkan semua kekuasan Belanda di Indonesia kepada Jepang.

"Dan akhirnya, Panglima Perang Belanda memilih untuk menyerahkan semua kekuasan Belanda kepada Jepang. Bisa jadi dengan pertimbangan, kekuatan militer Belanda saat itu sudah lemah setelah dibombardir oleh Jepang," kata dia.

Fitri mengaku takjub dengan kekuatan militer dan strategi perang yang diterapkan oleh Jepang. Pasalnya, Jepang, yang hanya datang ke Indonesia melalui tiga tempat di Pulau Jawa, berhasil menguasai Indonesia dan mengusir Belanda.

"Ada tiga tempat pendaratan Jepang di Pulau Jawa saat mereka pertama kali datang ke Indonesia. Setelah menguasai tiga tempat di Pulau Jawa itulah, mereka bisa mengusir Belanda yang telah bercokol di Indonesia ratusan tahun," kata dia.

Rumah Sejarah yang dikelola Fitri dari tahun 1986 ini masih menyimpan sejumlah barang peninggalan sejarah. Meja dan kursi perundingan, foto-foto, hingga arsitektur bangunan. Di rumah ini, terdapat tujuh ruangan mulai ruang tamu, ruang perundingan, dua ruang kamar, WC, dan dapur.

Kompleks Lanud itu sendiri, pada saat awal dibangun, dihuni oleh sejumlah pejabat angkatan udara Pemerintah Belanda. Adapun saat ini juga masih ditempati sejumlah pegawai dan pejabat TNI AU. Rumah ini diresmikan sebagai museum pada 1986.

Ia menjelaskan, masyarakat Subang harus merasa bangga karena dalam sejarah perang dunia kedua, Subang tercatat sebagai saksi sejarah. "Dunia mencatat bahwa di Subang, Belanda, sebuah negara di Eropa, menyerah pada negara dari Asia, Jepang," kata Fitri. [m. nugraha l @langitmegabiru]

 

TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

88.111 Warga Karawang Dapat Bantuan Program PKH https://t.co/LIY4HLWpKW
Bakso Korejat Tawarkan 10 Varian Bakso yang Bikin Move On https://t.co/kzRUg5QE6D
Penjelasan Riset ITB Prediksi Kemunculan Tsunami 20 Meter di Pantai Jawa https://t.co/Bl3AdXB7zf
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter