FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Menelusuri Keindahan Pesona Kampung Cigore



Terdiri dari kurang lebih 500 kepala keluarga, kampung ini terpisah sekitar 50 kilometer dari pusat pemerintahan Subang, dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak serta menanjak. Hanya ada satu institusi pendidikan berupa Madrasah Ibtidaiyah atau setara dengan tingkat SD.

"Kebanyakan anak-anak disini sekolah di madrasah itu. Untuk SMP hingga SMA, mereka sekolah di desa lain yang terdekat," kata Zainal Muttaqien (28), pemuda di kampung tersebut beberapa waktu lalu.

Beruntung, aliran listrik sudah masuk di kampung ini sejak setahun yang lalu. Di hari-hari libur, semua sanak saudara yang bekerja di luar kampung ini, kembali pulang. Kebanyakan dari mereka, jika mengunjungi rumah orang tua di kampung ini, mereka akan memilih untuk seharian berada di sebuah danau terbesar di kampung tersebut.

"Satu-satunya hiburan bagi warga disini ya memancing ikan di Situ Cigore. Di hari-hari biasa banyak yang memancing disini. Kalau libur lebih banyak. Selain itu, situ ini juga hiburan yang paling efektif bagi anak-anak setelah pulang sekolah karena lokasinya tepat di depan madrasah," kata dia.

Selain sebagai tempat bermain air bagi anak-anak, situ ini juga kerapkali menjadi berkah bagi anak-anak tersebut. Pasalnya, banyak warga yang memancing ini, menggunakan tenaga anak-anak yang sedang bermain air atau berenang di pinggiran situ.

"Jadi yang mancing itu kadang meminta bantuan anak-anak yang sedang bermain air untuk membawakan beberapa makan dari rumah mereka ke situ tersebut. Caranya anak-anak ini berenang ke titik tempat memancing itu yang dipasangi tempat duduk terbuat dari bambu. Imbalannya ya dikasih uang atau dikasih ikan hasil pancingan," katanya.

Ahmad Abidin (57), pria berusia setengah abad dan ditokohkan di kampung ini mengatakan, situ ini menjadi habitat ikan yang tidak terhitung jumlahnya. Sehingga, banyak warga yang pulang dari bertani atau mencari kayu bakar di hutan di kampung tersebut, memilih untuk memancing di situ ini.

"Selama situ ini ada, kami tidak pernah khawatir tidak bisa makan daging," ujar Ahmad.

Hanya saja, kata dia, saban musim kemarau, situ ini kerap kering sehingga banyak warga tidak bisa mencari ikan di tempat ini. Namun, tidak berarti warga sulit mencari lauk pakuk untuk makanan sehari-hari.

"Kalau musim hujan seperti sekarang, airnya banyak dan ikannya juga banyak. Kalau musim kemaru, situnya kering di beberapa titik. Di titik yang kering itulah warga sini memanfaatkannya untuk bermain bola, meskipun di dekat hutan pinus juga terdapat lapangan bola," kata Ahmad.

Ia yang mengaku lahir dan besar di kampung ini, sudah seumur hidupnya memanfaatkan situ tersebut sebagai hiburan satu-satunya. Dan itu, dilakukan hingga sekarang oleh anak-anak di kampung tersebut untuk ikut memancing hingga bermain air.

"Namanya orang gunung dan jauh dari kota, ya situ ini jadi tempat hiburan bagi kami. Enggak masalah jauh dari kota yang penting bisa makan,' kata dia.

Bagi ratusan warga di kampung ini, nama mantan Bupati Subang Eep Hidayat menjadi orang yang paling diingat seantero kampung ini. Itu karena Eep, menjadi satu-satunya Bupati Subang atau pejabat tinggi yang pernah singgah di kampung ini.

"Pak Eep mah baik, dia pernah datang kesini. Cuma dia saja pejabat di pemda yang pernah datang kesini. Lainnya seingat saya belum pernah. Jadi nanti gimana, pak Eep bisa maju lagi jadi bupati," kata Ahmad menutup pembicaraan. [m. nugraha l @langitmegabiru]

TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

88.111 Warga Karawang Dapat Bantuan Program PKH https://t.co/LIY4HLWpKW
Bakso Korejat Tawarkan 10 Varian Bakso yang Bikin Move On https://t.co/kzRUg5QE6D
Penjelasan Riset ITB Prediksi Kemunculan Tsunami 20 Meter di Pantai Jawa https://t.co/Bl3AdXB7zf
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter