Yanuardi Syukur: Literasi Budaya Perkuat Identitas Bangsa

Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat masyarakat Indonesia membutuhkan literasi budaya dan kewargaan agar dapat mempertahankan identitasnya sebagai orang Indonesia dan dapat hidup bersama dalam keberagamaan.

Hal ini disampaikan Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate, Yanuardi Syukur, di sela-sela diskusi di Jie Coffee & Resto, Kompleks Luwuk Shopping Mal, Luwuk, Sulawesi Tengah

Menurut Tim penyusun Panduan Praktis Pembelajaran Literasi Budaya dan Kewargaan untuk Masyarakat Kemendikbud itu, para pendiri bangsa menyadari diversitas yang dimiliki Indonesia adalah kekayaan dan olehnya itu harus dipertahankan.

"Literasi budaya adalah kemampuan memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa," kata Yanuardi. Sedangkan, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, lanjutnya lagi.

Saat ini, menurut mantan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Sulawesi Selatan tersebut, umumnya masyarakat Indonesia telah menyadari keberagaman yang ada, baik itu etnis, agama, suku, dan golongan, akan tetapi problemnya adalah tidak mudah untuk mempraktikkan keberagaman itu dalam ucapan dan sikap di dunia maya maupun nyata.

Ia mencontohkan, di Facebook misalnya, tidak jarang warganet yang bermasalah gara-gara menulis status yang mengandung hoax (berita bohong) dan fitnah. Akhirnya, masalah itu berujung pada masalah hukum.

"Bayangkan, gara-gara status Facebook yang berisi hoax seorang kepala sekolah di Kalimantan diberhentikan dan seorang dosen menjadi tersangka ditahan di Mapolda Sumatera Utara," tambah peneliti Pusat Kajian Antropologi FISIP UI tersebut.

Untuk itu, kata dia lagi, literasi budaya dan kewargaan sangat penting untuk segera disosialisasikan secara lebih massif di masyarakat agar budaya-budaya luhur di Indonesia dapat terjaga, dan masyarakat tidak mudah terprovokasi dari postingan di dunia maya yang tak jarang berisi hoax dan fitnah.

Diskusi terkait literasi budaya dan kewargaan ini dihadiri oleh aktivis literasi di Luwuk yang beberapa di antaranya Hamia Niank, penulis buku "Sebelum Kita Stupid" Abduh Sakral, guru Ilmawati Kasim, dan jurnalis Rezki Sululing yang baru saja menamatkan pendidikan master di Amerika Serikat. 


Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
Instagram: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Banner Kanan 2
Banner Kanan 3
Banner Kanan 6
Banner Kanan 4
Banner Kanan 1
Banner Kanan 5

Twitter Update

Ada Asian Games, Ini Jadwal Penutupan Jalan di Kabupaten Subang https://t.co/sCdmSuVglR
Puluhan Orang Masuk Rumah Sakit Setelah Konsumsi Miras https://t.co/OCfj8vg1C9
Dua Atlit Subang Berlaga di Asian Games 2018 https://t.co/soURafuymu
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page