Perjalanan Historis Kabupaten Subang

Wilayah Kabupaten Subang terbentuk sudah sejak zaman Pleistosen. Dibuktikan dengan ditemukannya fosil vertebrata dan moluska di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Subang, seperti di Curug Cina Ranggawulung, Ciereng, dan aliran Sungai Cisaar.

Bukti kehidupan lain yang ditemukan adalah perkakas Kapak Perimbas di Pringkasap, Pabuaran. Penemuan Kapak Perimbas tersebut menjadi bukti bahwa manusia purba hidup di daerah tersebut dengan kebudayaan yang cukup maju.

Kelompok manusia purba yang hidup di Kabupaten Subang diketahui hidup secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sehingga tidak ditemukan kerangka dari manusia purba tersebut. Mereka hidup dengan cara mengumpulkan makanan. Ditemukan pula Beliung Persegi, bukti kebudayaan bercocok tanam di Desa Balingbing, Pagaden, dan di Kecamatan Cisalak. Temuan benda-benda dari masa Neolitikum tersebut menandakan bahwa manusia di wilayah Kabupaten Subang telah hidup dari sektor pertanian walaupun dalam bentuk sangat sederhana. Hingga akhirnya masyarakat mengenal sistem pengolahan logan, terbukti dengan ditemukannya perkakas perunggu dengan ciri budaya Dong Son di Desa Nangerang, Kecamatan Binong.

Diperkirakan masyarakat di wilayah Kabupaten Subang sudah melakukan kontak dengan kerajaan-kerajaan di luar Jawa Barat, bahkan di luar Nusantara. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya pecahan keramik yang berasal dari Tiongkok di Patenggeng, Kalijati. Bukti peninggalan berupa pecahan keramik tersebut menandakan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin hubungan perdagangan dengan wilayah yang jauh. Pada masa tersebut wilayah Subang masuk ke dalam pemerintahan Kerajaan Sunda. Sebelum berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.

Ketika Islam masuk ke wilayah Kabupaten Subang, terdapat seorang tokoh ulama, Wangsa Goparna yang membuka pemukiman baru di Sagalaherang untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Subang. Tercatat bahwa wilayah Subang menjadi incaran beberapa kekuatan politik, seperti Kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda sebagai tempat yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan strategis yang mudah menjangkau Batavia sebagai pusat perdagangan.

Ketika konflik antara Mataram dengan VOC, wilayah Kabupaten Subang bagian utara dijadikan jalur logistik oleh pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi pencampuran kebudayaan antara kebudayaan Jawa yang dibawa oleh pasukan Mataram dengan kebudayaan Sunda. Kemudian saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda dipegang oleh Thomas Stamford Raffles, penguasaan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. [kumparan]

 

Dapatkan kilasan berita lainnya via:
twitter: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Banner Kanan 1

Twitter Update

Dellie Threesyadinda, Pemanah Cantik yang Bawa Harum Nama Indonesia https://t.co/Sw2o0r8ywT
Deklarasi Damai, Paslon Siap Menang dan Kalah di Pilkada Majalengka https://t.co/49gzmotNm4
Janji Akan Di-Perda-kan, Cabup Taufan Larang Minta Bantuan untuk Bangun Masjid di Jalanan https://t.co/tlZ0IW43ui
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page