Tradisi Unik Warga Majalengka Peringati Maulid Nabi Gelar Wayang Kulit dan Sandiwara

Wayang kulit dan sandiwara pantura dengan ceritera perjuangan Islam sampai di Jatitujuh,  mewarnai  peringatan maulud Nabi Muhamad SAW yang diselenggarakan Padepokan Nursejati, sebuah Manjlis dzikir Al Awaliah, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Menurut keterangan Ketua Padepokan Nursejati, Buyut Suhenda, Pagelaran wayang kulit dan sandiwara pantura ini biasa dilakukan setiap tahun saat memperingati Maulud Nabi atau dikenal warga muludan.

BERITA TERKAIT:
Jejak Seni Gembyung di Tengah Gempuran Musik Modern
Sanggar Nay Sunda Bangun Karakter Anak dengan Sholat dan Tari
Menjejaki Situs Raden Aria Wangsa Goparana Sagalaherang, Subang (1)

Cerita wayang kulit ataupun sandiwara menambil tema bagaimana penyebaran Islam dilakukan dengan penuh wejangan serta bagimana penyebaran Islam dilakukan dengan pendekatan dan kasih sayang, tanpa kekerasan atau intimidasi.

Sebelum pagelaran wayang dan sandiwara, anggota padepokan serta masyarakat terlebih dulu melakukan ritual serta solawatan di padepokan, setelah itu melaksanakan pencucian sleuruh benda pusaka yang diyakini mereka peninggalan nenek moyangnya saat menyebarkan agama Islam di wilayah mereka.

Air untuk mencuci seluruh benda pusaka berupa keris, batu ali, busur, panah, tumbak dan sejumlah benda lainnya dilakukan dengan air yang diambil dari tujuh sumur tua yang ada di wilayah tersebut. Air dicampur juga dengan bunga tujuh jenis atau disebut warga kembang tujuh rupa.

Saat memandikan benda pusaka ratusan warga yang ikut serta menyaksikanpun ikut berebut air pencucian, mereka meyakini air akan memabwa berkah bagi mereka. Sebagian dari warga mengaku akan dicampur dengan air sumur untuk di banjurkan ke areal pesawahan dan palawija agar membawa berkah.

Usai dicuci seluruh benda pusaka kemudian dibalur dengan minyak wangi untuk menjaga agar keris tetap baik tidak berkarat. “Minyak wangi untuk membalur benda pusaka juga tujuh jenis, ini adalah kegiatan turun temurun yang dilakukan nenek moyang kami. Ini tradisi bukan memuja,” kata Buyut Suhenda, Senin (04/12/2017).

 Setelah selesai mencuci benda pusaka, sorenya baru dilakukan pementasan wayang kulit dan sandiwara pantura. Pada pagelaran seni, masyarakat tumpah ruah menyaksikan pentas tersebut layaknya menyaksikan hiburan ditempat hajatan.

“Pagelaran ini agar anak-anak mengetahui bagaimana perjuangan para penyebar Islam di wilayah kami, dan bagaimana Islam harus di tegakan dan ajarannya harus terus diamalkan. Bagimana membentuk kasih sayang dan menyebarkan Islam tanpa kekerasan,” ungkap Buyut Suhenda.

Sedangkan pencucian benda pusaka dilakukan sebagai wujud pelestarian budaya dan adat leluhur, serta pencucian sebagai simbol untuk membersihkan badan baik lahir maupun batin dari segala kotoran yang ada dalam tubuh. Bersih dari noda dan dosa.

Neni salah seorang pengunjung yang mengambil air pencucian benda pusaka menyebutkan, dirinya setiap muludan datang untuk mengikuti ritual dan mengambil air pencucian yang akan dibawa ke sawah untuk menyiram tanaman. “Semoga saja membawa berkah bagi kami dan keluarga,” ungkapnya.

Nana warga lainnya mengatakan, peringatan Maulud Nabi di wilayahnya diperingati hampir semua warga. Pagelaran wayang dan sandiwara dinilai akan lebih mengena di masyarakat karena dalam  lakon yang dibawakan oleh para pemain penuh dengan  ajaran Islam, banyak filosofi, pepatah yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dulu kabarnya penyebaran Islam dilakukan melalui wayang golek, wayang kulit . Ini pepatah juga disampaikan lakon sambil hiburan,” kata Nana. [Abduh]



Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Promosi dan iklan: 085352324271


Banner Kanan 1

Twitter Update

Bawakan 'Cinta Noda Hitam', Ruhimat Ajak Anggota Ormas LI Bergoyang https://t.co/Ky9YwRguYc
Maman Imanulhaq Jenguk Bayi Penderita TBC di RS. Cideres Majalengka https://t.co/grUKKKBu1T
FIKOM Universitas Subang Gelar Muslimah Fashion Festival https://t.co/jjMJoQSGNO
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page