Jejak Seni Gembyung di Tengah Gempuran Musik Modern

Seni Gembyung merupakan salah satu kesenian peninggalan para wali di Cirebon. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren.

Sejumlah suber menyebutkan Gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal ini Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah.

Seni Gembyung merupakan jenis musik ensambel yang di dominasi oleh alat musik yang disebut waditra. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet.

Setelah berkembang menjadi Gembyung, tidak hanya eksis di lingkungan pesantren. Di masyarakat Subang misalnya, kesenian ini banyak dipentaskan di kalangan masyarakat untuk perayaan khitanan, perkawinan, bongkar bumi, mapag sri, dan lain-lain. Dan pada perkembangannya, kesenian ini banyak di kombinasikan dengan kesenian lain.

Adalah lingkung seni Gending Pusaka Jaya pimpinan Abah Salim. Menurut Abah Salim, seni buhun ini eksis pad asaat musim hajatan, seperti nikah atau khitanan. Di luar itu, kadang tampil pada kegiatan seremonial di masyarakat. "Kalau lihat perkembangannya, saya sangat sedih. Kalau tidak ada yang hajatan, Gembyung bisa hilang," kata Abah Salim

Perkembangan seni modern, memberi kontribusi menjauhkan generasi muda terhadap kesenian tradisi. Meskipun peminatnya masih cukup banyak, namun para pelaku seni Gembyung ini tersisa mereka dari generasi tua. "Kita tidak ada regerenerasi lagi. Anak-anak jaman sekarang milih musik modern," jelasnya

Di tengah gempuran musik modern, dan keprihatinan, diperparah lagi dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap kesenian tradisi. Abah Salim menguraikan, sejauh ini belum ada upaya pemerintah untuk mengenalkan Gembyung ini ke generasi pelanjut. Tidak itu, event atau festiuval kesenian Gembyung ini jarang sekali dipentaskan oleh pemerintah.

"Berharap, gembyung lebih memasyarakat, tidak menjadi asing di tanah sendiri. Semakin banyak masyarakat yang menghargai, semakin banyak kegiatan yang bisa melibatkan seni Gembyung di dalamnya, sehingga kesenian yang begitu sarat dengan ajaran dan siloka ini bisa lestari dan menjadi budaya yang dihargai di daerahnya sendiri," harapnya. [Ratna Ning]




Dapatkan lintasan berita Subang via:

Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau


Banner Kanan 1

Twitter Update

Pesantren Darunnajah Jadi Tuan Rumah Kunjungan Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan https://t.co/6eoelIh1DI
Banjir di Perumahan Surya Cigadung Subang https://t.co/qcnW69W19C
Sambut Hari Guru, Ribuan Pelajar dan Guru Jalan Kaki 10 Km https://t.co/fAkIV1Q8Qr
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page