Menjejaki Situs Raden Aria Wangsa Goparana Sagalaherang, Subang (1)

Situs Raden Aria Wangsa Goparana, atau lebih dikenal dengan situs Nangka beurit adalah salah satu saksi sejarah tentang asal mula tersebarnya agama Islam di Subang. Mungkin sudah banyak orang yang menulis tentangnya, sudah banyak media yang menayangkan baik media online maupun media massa, sudah banyak buku-buku yang dibuat dan diterbitkan. Ya, Nangka Beurit adalah bukti dari saksi sejarah lokal yang pernah ada, tentang seorang yang tlah diangkat Walliyulloh dengan keutamaan keutamaan akhlak dan juga sepak terjangnya yang memegang peranan penting dalam menyebarkan agama Islam untuk pertama kalinya, di Subang.

Seperti halnya sejarah budaya di Indonesia, tentang fenomena situs-situs sejarah dan penziarahan yang telah dilakukan oleh pelaku peziarah, bahkan dari berbagai agama. Terkadang kita mendengar kontroversi tentang arti ziarah itu sendiri. Ada beberapa yang bersikap fanatisme, tapi lepas dari itu semua berpulang pada niat dan tujuan masing-masing individu. Yang jelas, jika dilihat dari segi budaya dalam islam itu sendiri, tradisi berziarah kubur ini telah berlangsung sejak generasi para sahabat. Dan mendoakan para ulama serta ikut menghantarkan doa kita di samping maqom para ulama/atau para wali dengan tujuan doa kita segera terkabul adalah ajaran islami.

Di Indonesia, banyak fenomena peziarahan dan tempat-tempat/situs-situs sejarah yang dijadikan ajang kunjungan para peziarah baik dari ahli sejarah maupun dari golongan-golongan lainnya yang mempunyai maksud dan kepentingan beragam. Tapi terlepas dariaaaaa semua itu, dalam pandangan sejaraha mereka adalah warga negara yang secara tidak langsung ikut memelihara dan melestarikan sejarah. Dan bukankah bangsa yang besar itu adalah bangsa yang peduli dengan sejarahnya? Nah, marilah kita satukan keragaman tujuan dan bermuara satu visi yaitu melestarikan sejarah.

Seperti juga saya. Berangkat dari kepedulian, ketertarikan saya tentang seni dan budaya dan satu hal yang tidak bisa saya ungkapkan tentang titik awal perjalanan saya hingga tiba di tempat/situs sejarah lokal Subang ini. dengan background saya adalah manusia biasa, seorang Ibu rumah tangga dan tidak mempunyai basic pendidikan yang spesifik. Saya bukan ahli sejarah, bukan ahli seni budaya, saya juga bukan seseorang yang berkompeten langsung untuk peduli pada sejarah. Saya melakukan perjalanan ziarah, pertama kalinya dengan suatu ketertarikan secara pribadi.

Lantas dari awal yang sederhana itu, dibekali sedikit bakat “keingintahuan” saya yang akhirnya berlanjut pada pengamatan, pencarian informasi lewat obrolan langsung baik dengan para peziarah, penduduk setempat, para tokoh daerah yang saya jumpai hingga pencarian informasi ke sosial media dan buku-buku yang mendukung.

Ghoparana, awalnya, seperti juga beberapa orang anak muda yang iseng saya tanya-tanya, dahulu sekali saya hanya mengenalnya (Ghoparana) adalah nama gedung dan tempat di kota Subang. Penyebaran informasi baku yang entah kurang penyampaiannya dalam pelajaran-pelajaran sejarah disekolah terutama tentang sejarah lokal atau kekurangpedulian (kurangnya animo kita) kepada sejarah lokal/daerah kita yang membuat kita seolah merasa asing pada sejarah yang justeru adalah cikal bakal langsung dari keberadaan kita di tanah lahir dan tempat pijak kita.

Sebenarnya bukan maksud hendak mencari kambing hitam atau siapa yang salah dalam hal ini. Tapi dari sinilah diharapkan timbulnya kesadaran dari setiap individu untuk “nyaliksik” menggguar diri kita sendiri, dengan mengguar sejarah yang paling dekat dengan kita. Sejarah lokal daerah. Bukan tugas pemerintah lagi, bukan tugas perseorangan atau lembaga yang berkompeten lagi, hilangkan paradigma seperti itu yang juga sempat saya dengar langsung dari seorang sesepuh.

“Menulis sejarah seperti ini bukan tugas kamu. Sudah ada pemerintah yang mengurusnya. Tidak perlu kamu, tidak perlu repot-repot ikut campur ingin menuliskan dan menggali-gali sejarah! Untuk apa?... Kamu belum mumpuni untuk itu. Ziarahmu belum cukup”

Larangan telak yang membuat saya jiper plus sedih.  Di lain sisi, kedekatan yang berhubungan dengan kegiatan ziarah yang sering/kerap saya lakukan menjadi tolok ukur dan itu dikaitkan dengan perjalanan magis layaknya para peziarah pada umumnya. Sedangkan saya tidak berafiliasi pada tujuan mistis. Seperti juga peziarah lain yang datang dengan beragam misi atau maksud, perjalanan saya mengunjungi situs-situs sejarah juga tak lepas dari misi. Ada anyak manfaat yang di dapat. Bisa bersilaturahhim dengan sesama, ikut memanjatkan do’a di tempat para aulia dan mendoakan juga.

Berawal dari situlah kemudian tunbuh rasa sayang. Rasa peduli dan keinginan untuk mengenali dan menggali cerita tentang siapa Eyang Goparana dan peranan pentingnya yang begitu berjasa pada pertumbuhan dan perkembangan agama Islam khususnya di Subang.  Saya ingin menyampaikan, menulis dengan sependek pengetahuan dengan gaya penceritaan saya meski teramat sederhana tentang Eyang Goparana. Ada bukti sejarah di nangka beurit, saksi tentang keberadaan beliau dan cerita dari mulut ke mulut tentang peranan besarnya. Keindahan, kemegahan dan keunikan peninggalan bersejarah merupakan bukti nyata betapa tingginya budaya bangsa kita dan merupakan kebanggaan tersendiri.  Peninggalan sejarah dilindungi oleh undang-undang dan kita sebagai anggota masyarakat wajib ikut memeliharanya dan melestarikannya hingga bisa terus dikenang sampai ke anak cucu kita.

Ngamumule, miara, ngaropea sejarah dan budaya kita adalah hak setiapa warga negara. Pemerintah dan masyarakat (siapapun itu).  Berawal dari berbagai latar belakang, saya akan mengetengahkan tentang perjalanan saya mengenal situs Raden Aria Wangsa Goparana. [Ratna Ningsih]


bersambung...
__________

Dapatkan lintasan berita via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau


Twitter Update

Cabuli Bocah Ingusan, Warga Palasah Majalengka ini Numpang di Rumah Teman https://t.co/3ciankwfWx
Pipin Chikal, Bidan Subang dengan Segudang Prestasi di Sirkuit https://t.co/GlLZhrdxXb
Jejak Seni Gembyung di Tengah Gempuran Musik Modern https://t.co/W41rm8gCiH
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page