Sri Panggung Jaipong

Irama gendang menyuguhkan nuansa rancak. Malam kian mengepakkan sayapnya. Di atas panggung, Bentang Parahyangan –Mak- melenggang lenggokkan tubuhnya, meliuk. Ekspresi wajahnya yang medok berpulas make up dan bersanggul besar dengan mahkota tiara di atas keningnya begitu mengundang. Tersenyum, memainkan mata bulatnya yang masih terlihat indah dan hidup, di usianya yang sudah menginjak tiga puluh limaan. Seringkali Mak memutar dan memainkan pinggul biolanya dengan liukkan yang mengundang sorakan riuh penonton. Di bawah panggung, para lelaki yang ngibing(1) dengan memegang gepokan duit di tangan, saling berebut memberi saweran(2) pada Mak. Tentu saja, melihat penggemarnya yang saling berebut, Mak makin beringas meliukkan tubuh sintalnya.

Pemandangan itu membuat Sati gerah. Jengah dipalingkannya wajahnya. Tak kuasa rasanya melihat Mak berlaku seperti itu di atas panggung. Bergoyang sensual dalam irama jaipong. Gerak-geriknya begitu penuh daya pikat. Membuat para lelaki kehilangan akal dan menaburkan uangnya di atas panggung. Dalam salam erat tangan Mak. Bahkan banyak juga yang begitu kurang ajarnya menyelipkan uang itu di tempat-tempat yang terasa tabu. Diselipkan di atas kemben kebayanya, atau di ikat pinggulnya. Sungguh, pemandangan yang bahkan sudah bertahun-tahun membuat Sati muak.

Namun, bertahun-tahun pula, sejak ia kecil dan baru bisa berjalan sampai ia tumbuh dewasa seperti sekarang, Sati tak pernah ingin absen untuk mengikuti Mak dan rombongan jaipongannya nabeuh(3) ke hajatan yang mengundang grup mereka. Mungkin sudah seperti kebiasaan yang candu. Dulu, karena suatu kondisi, Mak terpaksa membawa Sati kecil yang baru bisa berjalan selangkah dua langkah, pergi manggung. Keadaan itu terus berlangsung. Seiring dengan kepiawaian Mak dan namanya yang mulai naik daun di kalangan para penggemar jaipong, sebagai pesinden dan penari ternama. Kecantikan Mak, suaranya yang bulat berat jika nyinden, kelenturannnya menari jaipong, memberi Mak poin plus untuk cepat dikenal.

Bermula diajak serta, karena keadaan terpaksa. Sati kecil tak ada yang ngasuh atau ngemong saat Mak manggung. Akhirnya kebiasaan it uterus terbawa. Sati selalu tak pernah ketinggalan ikut jika Mak manggung. Bahkan hingga ia beranjak remaja. Jika panggungan Mak dekat, Sati akan mengiringi Mak hingga acara tuntas. Kecuali jika jauh, Ia absen mengikuti Mak manggung. Mak dan Sati setuju jika sekolah yang harus dikedepankan.

“Mak nggak mau Sati ketinggalan pendidikan seperti Mak. Sati harus mengutamakan belajar. Biar pinter. Biar jadi sarjana!” begitu selalu Mak memberi wejangan.

Sati anak perempuan, satu-satunya untuk Mak. Sejak usia sepuluh bulan, Bapaknya Sati meninggalkan Mak karena tergoda perempuan lain. Sejak itu Mak yang berperan ganda menafkahi dan mendidik Sati. Mak yang masih terbilang belia saat itu, dengan pendidikan yang hanya tamatan SD dengan tanggungan anak yang masih sangat kecil, begitu kebingungan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Mak tidak punya keahlian apa-apa. Bahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau memasak, Mak tak terbilang cekatan. Pantas saja karena saat itu usia Mak masih sangat belia. Ya, seperti kebanyakan gadis-gadis dusun, Mak menikah dalam usia yang sangat muda.

Beruntung, dalam kebingungan itu, Paman jauhnya menawari Mak untuk belajar nyinden dan menjadi penari jaipong serta juru kawih(4) di grup jaipong yang cukup tersohor di daerahnya. Mang Karso tahu kalo suara Mak bulat dan bagus. Mak pernah belajar karawitan dan nyinden Cianjuran setelah tamat SD.

Benar saja, tak perlu belajar lama, Mak langsung diajak naik panggungan. Sejak saat itu pula Sati kecil diboyong manggung kemana-mana. Berawal dari butuh, dunia seni yang sering menenggelamkan orang pada nikmat euphoria, pun terjadi pada Mak. Apalagi ketika Mak disukai banyak penggemar jaipong, jadi sri panggung yang mahal dan tersohor. Mak makin lupa diri. Banyak lelaki yang tergila-gila pada Mak. Itu membuat Mak terbuai. Sudah tak terbilang Mak kawin cerai dengan para bos-bos yang menggilainya. Kebanyakan hanya bertahan seumur jagung karena pernikahan yang dilakukan hanya secara siri atau sembunyi-sembunyi dari istri pertama. Tak terbilang pula Mak didatangi para istri tua dan setelah itu pernikahanpun hancur. Anehnya, Mak sepertinya tak peduli dan tak merasa jera untuk terus mengulangi kesalahan serupa.

“Sati nggak mau lihat Mak sembarangan lagi memilih calon suami. Sati malu Mak! Citra buruk pesinden yang genit dan penggoda tlah Mak hidupkan di diri Mak. Sati tak suka!” protes keras Sati yang makin mengerti seiring pertumbuhan dirinya yang beranjak dewasa yang membuat Mak mulai menghentikan petualangannya pada lelaki-lelaki yang menggilainya. Tapi Mak juga mengungkapkan kalau semua itu Mak lakukan demi kelangsungan hidup mereka.

“Kalau urusannya Mak butuh seseorang yang bisa menanggung hidup kita, carilah yang benar-benar pas Mak. Tak perlu Mak pilih bos-bos kaya tapi punya istri. Pernikahan itu sakral Mak. Takkan Mak mencoreng moreng janji nikah dengan terus kawin cerai. Carilah lelaki yang sayang sama kita, mau nerima Mak apa adanya. Tak kayapun taka pa-apa, asal mau bekerja. Itu cukup buat Sati Mak!”

“Tapi kamu butuh biaya besar sekarang Nak! Sebentar lagi kamu lulus SMU. Mak pengen kamu melanjutkan ke perguruan tinggi, Sati. Menjadi dokter seperti cita-citamu, itu kan membutuhka biaya yang sangat besar. Mak mau jujurkan sekolahmu sampai kamu jadi ‘orang’. Tapia pa cukup hanya dengan mengandalkan penghasilan Mak sebagai pesinden? Izinkan Mak menerima pinangan Bos Hendi ya Nak? Dia pengusaha kayu dan property bangunan yang banyak duitnya. Mak janji kali ini Mak mau menjaga pernikahan kami. Mak mau hati-hati. Itu demi kamu Nak!” rayuan Mak dengan suara yang lirih dan penuh haru terus terngiang di kuping Sati.

Kata-kata Mak itu pula yang membuat Sati seolah perang dingin dengan Mak. Sati tetap mengikuti Mak manggung. Seperti malam ini. Itu Sati lakukan demi sebuah misi. Menjaga Mak agar tak kegenitan pada penggemar-penggemar lelakinya, termasuk bos kayu cengengesan yang sudah lama menginginkan Mak. Sati tetap tak mau Mak nikah lagi, kalau dengan lelaki itu. Untuk itu Sati melancarkan perang dingin dengan Mak.

‘Urang kudu eling, ulah jongjon teuing… Di dunya urang ngumbara, henteu langgeng salawasna…(5)’
Suara bulat, berat namun bening milik Mak menggema diikuti tepak kendang yang mampu mengundang para penggemar jaipong untuk mengibing. Sati seperti tersadar dari lamunannya. Terlebih ketika seseorang menepuk pundaknya. Sati tergeragap, serentak menoleh ke sisi kirinya.

“Melamun aja Ti. Ntar kesurupan lho!” Amir, anak bos pemilik grup Jaipong sudah nyengir di sampingnya. Amir sengaja menggantikan Bapaknya mengiringi grup Jaipongnya. Kebetulan kuliahnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) sedang liburan semester.

“Ahh nggak kok A. Duduk diam saja disini. Abis, mau ngomong sama siapa?” Sati tersenyum takjim pada anak majikan Maknya itu.
“Kenapa gak ikutan nyinden atau menari sama Makmu di panggung sana Ti? Lumayan ka bisa dapet saweran…”
Sati mendecak.

“Malulah A. Lihat tingkah Mak di panggung saja aku malu. Apalagi ikutan nyinden atau ngibing. Nggak ahh!”
“Lho? Kenapa mesti malu? Nari atau nyinden? Itu seni lho Ti. Seni budaya kita yang sudah sepatutnya kita jaga dan lestarikan. Aku malah bangga sama Bapak yang tetap menjaga grup ini tetap hidup meskipun dengan nyawa yang sudah kembang kempis. Sedih karena sekarang tak begitu banyak orang yang mau nanggap jaipong di acara-acara hajatan atau keriaan. Orang sekarang maunya manggil Organ dangdut untuk acara-acara hiburannya. Aku malah berencana akan ikut menjaga kesenian ini agar tetap hidup dan ditanggap orang…” kata-kata Amir itu membuat Sati melekatkan tatapnya pada cowok manis yang berpostur jangkung itu. Takjub juga.

“Aa tahu apa yang membuatmu merasa malu dengan pekerjaan Makmu dan seni jaipong ini. Tapi Ti…seni dimana-manapun kontroversi pelakunya memang seperti itu. Karena dalam seni, ada darah, ada gairah, yang jika si pelaku tak pandai mengendalikannya akan membuatnya terseret arus. Itu terkait oknum pribadinya Ti. Nah, kembali pada pribadi masing-masing untuk menyikapi dan menjalaninya. Jika saja telah terlanjur ada cap yang berlaku, berarti tugas kita untuk meluruskan dan memperbaikinya. Tapi Ti…Aa yakin, darah seni itu mengalir kental di tubuh kamu!” malam itu setelah perbincangan lumayan panjang dengan Amir, Sati untuk yang pertama kalinya membuat wajah Mak dipenuhi kejut.

Mak tak percaya dengan pandangannya. Sati menari jaipong ‘Adu Manis’ dengan tarian yang indah dengan liukan badan yang lentur, dinamis.

“Sati mau jadi juru kawih dan penari jaipong!” tegas Sati di hadapan Mak dan paman-pamannya. Menciptakan bengong dan nelangsa yang berganti-ganti di wajah Mak.

Sati, Mak tahu betul adat anak itu. Sati memang agak pendiam, kritis sedari kecil, serius tapi kalau sudah ada kemauan, ia akan teguh mempertahankan apa yang dia mau. Keras kepala anak itu. Mak telah menanyakan berulang kali kemana Sati akan melanjutkan kuliah. Saat itu Sati memang tak memberi jawaban pasti. Keinginannya masih beragam. Terkadang ia mengungkapkan ingin jadi dokter karena mata pelajaran MIPA yang sangat dikuasainya. Tapi sering juga keinginannya berbelot untuk menjadi guru dengan alasan ingin mengabdikan dirinya di bidang pendidikan untuk anak-anak tak mampu di pedesaan. Sekarang, ia keukeuh ingin menjadi penari dan pesinden, itu semenjak Sati akrab dengan Amir, anak bos grup seninya.

“Pikirkan lagi Sati. Untuk apa menjadi penari dan pesinden? Profesi yang tak dilirik anak-anak pintar apalagi di jaman sekarang. Apa istimewanya? Kamu lihatlah Mak! Meski Mak berhasil menjadi pesinden tersohor tapi bukankah kamu seringkali tak suka dengan profesi Mak?” Mak mencoba mempengaruhi jalan pikiran Sati.

“Yang Sati nggak suka bukan masalah seni jaipongnya. Tapi sikap Mak yang pecicilan, genit dan suka memanfaatkan popularitas Mak untuk menggoda para lelaki. Sati ingin memperbaiki citra pesinden dan penari jaipong juga melestarikan seninya itu sendiri Mak. Jaipong itu seni tradisional kita yang sangat unik dan indah. Tepak kendangnya, bunyi gamelannya begitu rancak dan menggugah. Pesan-pesan moral dalam tembang-tembangnya yang lestari dan punya pakem tersendiri, sangat sarat ajaran kebaikan. Mak renungi lagu Bangbung Hideung, Awet Rajet, Papacangan, semua liriknya memberikan nasehat dan wejangan yang sangat berharga kalau kita renungi…”terang Sati panjang lebar. Masukan Mak yang memberinya berbagai alasan sudah tidak digubrisnya lagi. Sati tetap bersikukuh untuk melanjutkan sekolahnya ke STSI dan mendalami seni karawitan.

Mak pun tak bisa mencegah lagi ketika Sati dengan intens melebur ke dalam grupnya. Ikut manggung dan menjadi penari jaipong. Membawakan ibing jaipong yang sangat indah, lentur dan mempelajari vakem gerakannya hingga tak terkesan sensual dan liar seperti yang selama ini dicitrakan para penari panggungan lainnya.

***

Riuh tepuk tangan menggema di aula Kabupaten setelah para penari dengan kostum burung merak lengkap dengan mahkota kepala burung dan sayap indah warna warni itu usai menarikan satu lagu jaipong.

Gerakan yang tertata dan terlatih apik dan indah, sangat dinamis tanpa melepaskan kesan sensual dari tarian jaipong itu sendiri, namun lebih terkesan santun dan berkelas, membuat para penonton terpana dan takjub. Termasuk Pak Bupati yang duduk di deretan kursi kehormatan, paling depan. Lima orang juru kawih, muda dan cantik, bergantian nyinden memperdengarkan suara khasnya yang bening.

“Rumah tangga jeung manehna…Bapak Bupati yang terhormat…geus teu kaitung lilana. Ti bujangan jeung parawan…Bapak Sekwilda…tepi ka reauy anakna…(6)” Sambil ngawih, Pesinden tetap memanggil namun dalam panggilan yang lebih sopan. Kata ‘sayang’ atau ‘ganteng’ dengan dibarengi permintaan saweran tak lagi digunakan. Itu berkat aturan baru dari pimpinan grup Seni jaipong “Wanda Baru” pimpinan Amir dan Sati. Dua orang generasi penerus seni tradisional jaipongan yang sudah menyelesaikan studynya dan bahu membahu memajukan grup kesenian itu.

Sati sengaja mengambil panayagan(7), Juru Kawih dan Penari Jaipong yang dibentuk khusus dalam beberapa grup tarian yang sedikitnya menampilkan dua atau tiga orang pada satu lagu, semua dari alumni sekolahnya. Mereka sarjana-sarjana seni yang mau bergabung untuk membangun suatu misi. Melestarikan budaya dan membangun pencitraan yang positif dan mahal.
Mak masih tetap nyinden sebagai juru kawih sepuh di antara para juru kawih muda. Masih tetap menari jaipong dengan memperlihatkan kepiawaiannya melenturkan tangan dan badan, namun tanpa kerlingan mata menggodanya. Sati mengarahkan Mak untuk santun membawa diri, sebagai pekerja seni.

***

Catatan Kaki
Ngibing: Joget/nari sebutan untuk pejoget Jaipong
Saweran: Uang yang dibagikan penonton yang joget pada pesinden   
Nabeuh: Manggung/naik panggung/panggilan manggung
Juru Kawih: Pesinden/Penyanyi lagu Jaipong
Panayagan:  Panggilan untuk para penabuh gamelan

***

karya: ratna Ning nama pena dari Runengsih, warga Lebaksiuh Rt 001/05 Desa Sukasari Kec. Dawuan kab. Subang. Beberapa tulisannya pernah dimuat di beberapa tabliod remaja, surat kabar dan majalah. Beberapa buku antologi sudah diterbitkan

foto: ilustrasi

_____________
Dapatkan lintasan berita Subang via:

Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau
Iklan & Promo: 089624350851


Twitter Update

Pedangdut Via Vallen dan Konsistensi Lagu Daerah https://t.co/33mftfbshA
Gubernur Anies: ASN Bukan untuk Dimusuhi tetapi Dibina https://t.co/Rtit2O2yEj
Maju dari Perseorangan, Endang Kosasih Data KTP Dukungan https://t.co/OpkB3dQTWk
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page