Literasi

Universitas Majalengka tidak menghalang-halangi mahasiswi yang mengenakan cadar di kampus. Hal ini sejalan dengan instruksi Forum Rektor Indonesia (FRI) yang meminta semua perguruan tinggi (PT) Indonesia untuk selalu menjunjung tinggi hak asasi mahasiswa dan mahasiswi di lingkungan pendidikan tinggi.

Rektor Universitas Majalengka Prof. Sutarman  mengatakan pemakaian cadar di lingkungan kampus selama tidak ada radikalisasi, tidak perlu dipermasalahkan atau dilarang. Dia menegaskan pendidikan tinggi memiliki otonomi yang tinggi dalam merancang kebijakan di luar Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

"Kita sepakat seperti yang ditegaskan ketua FRI bahwa kita harus menghargai hak asasi mahasiswa dan mahasiswi. Namun, tetap dalam rambu-rambu kewajaran, yang tidak mengganggu pelaksanan akademik di dalam kampus. Begitu pun cadar, selama tidak ada aksi radikalisasi, tidak masalah," kata Prof Sutarman mengutip keterangan Ketua PRI Prof. Dwi Aries Tirta.

Di kampus Unma, tidak sedikit mahasiswinya yang mengenakan cadar. Gilang Pratami misalnya, dia sejak lama mengenakan cadar termasuk saat masuk kampus. Gilang mengaku bersyukur dengan adanya ketegasan dari Ketua Forum Rektor Indonesia yang menyatakan bahwa cadar adalah hak asasi mahasiswi sepanjang tidak mengganggu pelaksanaan akademik. "Saya salah satu yang bersyukur dengan ketegasan tersebut yang artinya berlaku bagi semua Perguruan Tinggi di Tanah Air," tandasnya.  (Echa)

 

foto: ilustrasi net


Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU