FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Pasien Jamkesda Subang Beli Obat di Luar RSUD



"Saya sama petugas di RSUD diberi resep obat agar dibeli. Dibelinya bukan di rumah sakit, tapi harus dibeli di apotek," ujar Tarkem kepada Tribun di kediamannya.

Ia menjelaskan, saat ia membeli obat tersebut, dirinya tidak mampu membeli obat yang direkomendasikan oleh petugas medis tersebut. "Harganya mahal, waktu itu saya beli Rp 300 ribu untuk empat jenis obat. Tapi karena tidak ada uang, saya tidak bisa beli semuanya. Jadi saya harus beli separuhnya saja. Setelah itu, baru obatnya diserahkan ke petugas medis di RS," kata dia.

Ia menambahkan, selama anaknya di rawat hingga satu pekan, dirinya telah dua kali membeli obat di luar apotek. Selain itu, ia menyebutkan, tidak hanya dirinya saja yang membeli obat di luar rumah sakit. Melainkan, pasien kelas III yang dirawat bersamanya di RSUD Subang, juga mengalami hal yang sama.

"Saya disuruh sama petugas medis disana karena katanya di RS obatnya enggak ada, jadi harus beli keluar. Saya beli obat di luar RS sebanyak dua kali. Pasien yang sekamar sama anak saya juga sama, ada yang beli obat di luar. Uangnya enggak diganti," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang Budi Subiantoro mengatakan bahwa tidak adanya ketersediaan obat di rumah sakit dinilainya tidak wajar. "Sebenarnya itu beda kewenangan. Soal obat itu kewenangan RSUD. Kami mendukung dari segi anggarannya saja," ujar Budi di Gedung DPRD Subang

Hanya saja, ia mengatakan, ketersediaan obat untuk pasien jamkesda, harus selalu ada. "Gimanapun caranya, ketersediaan obat di RSUD itu harus selalu ada. Apalagi untuk pasien DBD, wajib ada itu," kata Budi.

Di samping itu, ia menyebutkan dana untuk pasien Jamkesda di Subang tahun ini, mencapai Rp 7 miliar selama setahun. "Tapi perbulan biaya untuk pasien jamkesda mencapai Rp 1 miliar, jadi dana Rp 7 miliar itu hanya cukup untuk tujuh bulan. Sisanya ya berhutang lagi ke RSUD. Atau cara lainnya dengan mengajukan dana di RAPBD," kata Budi.

Terpisah, melalui sambungan telpon seluler, Humas RSUD Subang Mamat Udirahmat membantah bahwa RSUD Subang tidak memiliki stok obat yang memadai. "Kata siapa enggak ada obat di RSUD. Sejauh ini, ketersediaan obat untuk pasien jamkesda itu ada," kata Mamat.

Ia menambahkan, kalaupun ternyata ada obat yang harus dibeli oleh pasien, ia mengatakan itu karena ada kendala-kendala teknis."Kalaupun ternyata ada obat yang harus dibeli di luar, mungkin itu karena distribusi obat ke RSUD yang telat, itu saja," ujarnya.

Ketua LSM Gerakan Rakyat Mengguhat (Geram) Epid Zaenal Abidin menilai ada yang mencurigakan terkait pasien harus membeli obat di RSUD. "Jika memang pasien jamkesda harus beli obat di luar RSUD, lalu dana jamkesda untuk pasien tersebut gimana. Harusnya uang pasien jamkesda tersebut di reinbust dong," kata Epid. [m. nugraha]


TINTAHIJAU CHANNEL
Banner Kanan 1

Twitter Update

Soal AKD, DPRD Tangerang Selatan 'Berguru' ke DPRD Subang https://t.co/j9jEjNfOST
Ingin Bakar Lemak di Perut?, Ikuti 10 Langkah Berikut Ini https://t.co/spzHryWcgu
Debit Air Bendung Rentang Jatitujuh Majalengka Mulai Menyusut https://t.co/jkfdpcWPO3
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page