Waduh! Anggota DPRD Subang Tertipu Developer Perumahan

Sedikitnya delapan orang Anggota DPRD Kabupaten Subang menjadi korban ulah nakal developer (pengembang) perumahan Surya Cigadung Subang. Bahkan, di antara yang turut menjadi korban adalah Ketua DPRD Subang, Ir Beni Rudiono.

Politikus senior PDIP baru sadar dirinya menjadi korban penipuan pihak developer setelah mendapat tagihan utang cicilan rumah ratusan juta rupiah dari salah satu Bank. Padahal rumah tersebut hingga kini tidak pernah dibangun di kompleks perumahan Surya Cigadung itu.

"Saya malah ikut juga jadi korban pengembang Surya Cigadung, seluruhnya sekitar delapan orang (yang jadi korban). Tiba-tiba ada taghan dari Bank, padahal sampai sekarang bangunan rumahnya enggak ada karena memang enggak dibangun, lahannya juga dibiarkan kosong," kata Beni seperti dikutip dari jabarpress

Beni mengisahkan, peristiwa bermula sekitar tiga tahun silam. Dia bersama sejumlah anggota DPRD ditawari oleh pengembang perumahan Surya Cigadung untuk mencicil rumah. Saat itu, dirinya sempat menandatangani kontrak untuk mencicil rumah. Namun, dirinya buru-buru menarik dan membatalkan tandatangan kontrak tersebut, setelah mengetahui adanya sejumlah persoalan yang dialami perumahan itu.

Di antaranya, mengenai status tanah dan adanya penggunaan bantaran sungai untuk lahan perumahan. "Begitu saya cek ke lapangan, ternyata lokasi untuk rumah saya itu ada di lahan yang rawan banjir, di mana kalau hujan deras, genangan airnya bisa sampai sedada orang dewasa. Selain itu, perumahan ini juga memanfaatkan bantaran sungai, ini kan enggak boleh karena bakal menyebabkan penyempitan, sehingga rawan memicu luapan air atau banjir. Karena itu, saya buru-buru membatalkan kontrak," paparnya.

Namun ternyata, ungkap Beni, tanpa sepengetahuan dirinya, meski telah membatalkan kontrak, pihak pengembang Surya Cigadung tetap melanjutkan kontrak tersebut bekerjasama dengan bank. Akibatnya, dirinya terkena check banking untuk membayar utang cicilan sebesar Rp200 jutaan plus bunganya sebesar Rp60 jutaan.
"Ini kan aneh, kontraknya sudah saya batalkan, tapi saya tetap ditagih oleh bank dengan jumlah total sampai Rp260 jutaan. Padahal bangunan rumahnya enggak ada, lahannya juga kosong, karena rumah enggak pernah dibangun,” keluhnya.

Dia pun mencoba mengecek persoalan tagihan itu ke BTN Purwakarta. Ternyata, kontrak yang sudah dibatalkan itu tetap dilanjut oleh pengembang. Namun, saat hendak mengajukan komplen, oknum pengembang nakal ini keburu menghilang. "Gara-gara pengembang nakal ini, saya sampai diblack-list oleh pihak bank. Saya sudah coba mau persoalkan, tapi pengembangnya keburu kabur, menghilang, sampai sekarang enggak tahu dimana,” katanya.


Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU


Twitter Update

Fraksi PDIP Subang Minta EKsekutif Tuntaskan Perbaikan Jalan https://t.co/4dAaZN0kj0
Ratih Sang, Ajak Mahasiswa UNMA Kreatif Dalam Promosi Potensi Wisata https://t.co/7RGIBjxtQ5
Terbentuk, Tim Koalisi Prabowo-Sandi Bidik 70% Suara di Subang https://t.co/BnkkjSpI88
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page