FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Karena Kurang Cahaya Matahari, Bumi Pernah Jadi Bola Salju



Bumi pernah mengalami zaman es global setidaknya dua kali 700 juta tahun yang lalu. Ilmuwan memperkirakan peristiwa ini mungkin terjadi karena berkurangnya cahaya matahari dalam jangka waktu yang pendek.

Dalam salah satu event zaman es yang paling ekstrem, es membekukan Bumi dari wilayah kutub dan menjalar hingga daerah di latitude yang lebih rendah.

Bukti dari fenomena pendinginan global seperti ini telah ditemukan di catatan geologi, termasuk event glasiasi di zaman Cryogenian. Ilmuwan mengatakan peristiwa pendinginan global ini melahirkan fenomena yang disebut Snowball Earth atau Bumi bola salju.

BACA JUGA:
Planet Bumi 'Diteror' 1,3 Miliar Ton Sampah Plastik, Kondisinya Semakin Mengerikan
Ternyata Ada Meteor yang Hantam Bumi dan Bulan 800 Juta Tahun Lalu
Awas, Akan Ada Lagi Asteroid Berbahaya Dekati Bumi
Waspada!, BMKG Dunia Umumkan Hal yang Mengerikan Bagi Warga Bumi

Ilmuwan belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan fenomena seperti ini terjadi. Tapi ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology sudah mendapatkan penjelasan teoritis yang diterbitkan di Proceedings of the Royal Society A.

"Ada banyak ide tentang apa yang menyebabkan glasiasi global ini, tapi mereka semua mengarah pada beberapa modifikasi implisit radiasi matahari yang masuk," kata peneliti ilmu planet dari MIT Constantin Arnscheidt, seperti dikutip detikINET dari Science Alert, Minggu (2/8/2020).

Dengan kata lain, Snowball Earth bisa terjadi ketika cahaya matahari yang sampai ke permukaan Bumi berkurang dan menyebabkan temperatur Bumi menjadi lebih rendah hingga akhirnya membeku.

Dalam simulasi yang dilakukan Arnscheidt dan koleganya ahli geofisika dari MIT Daniel Rothman menemukan bahwa jika radiasi matahari turun cukup cepat dalam waktu yang cukup lama bisa menyebabkan Snowball Earth.

Mereka memperkirakan berkurangnya cahaya matahari yang mencapai permukaan Bumi sebanyak 2% dan terjadi selama 10.000 tahun sudah cukup untuk memicu fenomena ini. Jika dibandingkan dengan usia Bumi yang mencapai 4,5 miliar tahun, durasi ini memang terbilang singkat tapi bisa membawa banyak perubahan.

Arnscheidt dan Rothman tidak tahu secara pasti apa yang bisa menyebabkan berkurangnya cahaya matahari yang sampai ke Bumi. Salah satu kemungkinan adalah musim dingin yang disebabkan oleh erupsi gunung berapi bisa saja menyelimuti Bumi dengan abu dan awan yang tebal.

Atau mungkin disebabkan oleh fenomena biologi di zaman purba, seperti merebaknya ganggang penghasil uap air yang bisa menghasilkan awan kondensasi yang pada akhirnya membuat lingkungan sekitarnya membeku.

Arnscheidt mengatakan penting bagi ilmuwan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Apalagi saat ini Bumi sedang menuju arah sebaliknya dengan pemanasan global yang progresnya semakin cepat.

"Ini mengajarkan kita bahwa kita harus waspada terhadap kecepatan kita memodifikasi iklim Bumi, bukan hanya besarnya perubahan," kata Arnscheidt.

Sumber: detikcom | Foto: Ilustrasi

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Covid-19 Meningkat, Pemkab Karawang Terapkan Jam Malam https://t.co/EaW0hVZsWQ
Dealer Tridjaya Motor Cabang Cipeundeuy Dibobol Maling https://t.co/83UbbMJEWr
Indeks Manufaktur Indonesia Tertinggi ke-2 di ASEAN https://t.co/NzQBwII1Bk
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter