FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

WhatsApp Gugat NSO Group Technologies, Perusahaan Israel yang Dituduh Meretas Ribuan Akun WA



WhatsApp telah menuduh perusahaan mata-mata Israel, NSO Group Technologies, sebagai pelaku peretasan 1.400 akun WhatsApp milik pejabat pemerintah, jurnalis, dan aktivitas hak asasi manusia. Diduga, peretasan dilakukan dengan menyusupi program mata-mata (spyware) ke platform WhatsApp.

WhatsApp menyebut NSO "sangat aktif terlibat" dalam peretasan ini. Oleh karenanya, yang terkini, WhatsApp bilang NSO harus bertanggung jawab atas pelanggaran serius hak asasi manusia.

Kasus peretasan ini juga dilakukan terhadap para jurnalis di India dan kaum pemberontak di Rwanda.

NSO Group mengatakan program spyware-nya yang bernama Pegasus, telah dibeli bertahun-tahun oleh klien pemerintah untuk tujuan melacak teroris dan penjahat lain. NSO tidak punya kapasitas tentang bagaimana klien-klien itu memakai program spyware NSO untuk melakukan peretasan. Pemerintah Arab Saudi dan Meksiko juga memanfaatkan aplikasi mata-mata NSO ini.

BACA JUGA:
Fitur Anyar WhatsApp, Kini Bisa Video Call Hingga 8 Orang Sekaligus
Begini Caranya Agar Terlihat Offline di WhatsApp
Cara Sembunyikan Obrolan WhatsApp untuk Mereka yang Kepo
Awas! Jangan Terkecoh Dengan Iming-iming WhatsApp Gold, Itu Adalah Penipuan

Gugatan hukum WhatsApp terhadap NSO telah disampaikan pada tahun lalu. Di sini, WhatsApp mengungkap detail teknis bagaimana Pegasus dipakai untuk meretas.

Dalam dokumen terbaru di pengadilan, WhatsApp juga menyatakan bahwa peretasan terhadap 1.400 akun WhatsApp itu dikendalikan dari server NSO Group di Amerika Serikat, dan bukan dari server klien pemerintahan.

WhatsApp mengatakan korban peretasan menerima panggilan telepon dari fitur WhatsApp Call, yang telah dimodifikasi oleh NSO di software Pegasus.

"NSO menggunakan jaringan komputer untuk memantau dan memperbarui Pegasus setelah ditanamkan di perangkat pengguna. Komputer yang dikontrol NSO ini berfungsi sebagai pusat jaringan, tempat di mana NSO mengendalikan operasi dan pelanggan Pegasus," tulis WhatsApp, dikutip dari The Guardian.

Dalam hal ini, WhatsApp bilang NSO memperoleh "akses yang tidak sah" ke server-nya dengan melakukan rekayasa di balik aplikasi WhatsApp untuk memanipulasi fitur panggilan.

Perusahaan Israel itu tetap membela diri kepada The Guardian, bahwa mereka tak memiliki kapasitas bagaimana klien pemerintah memakai software Pegasus. Mereka juga tidak tahu siapa saja target dari sebuah pemerintahan.

“Produk kami digunakan untuk menghentikan terorisme, mengekang kejahatan dengan kekerasan, dan menyelamatkan nyawa. NSO Group tidak mengoperasikan software Pegasus untuk kliennya,” kata perusahaan itu. "Pernyataan kami sebelumnya tentang bisnis kami, dan sejauh mana interaksi kami dengan pelanggan intelijen dan penegak hukum pemerintah kami, adalah akurat."

Seorang ahli keamanan dari perusahaan software Citizen Lab di Kanada, John Scott-Railton, menyatakan bahwa kendali NSO terhadap server di Amerika Serikat ini memperlihatkan NSO memiliki catatan log, termasuk IP address, dari pengguna yang jadi target untuk dimata-matai. Scott-Railton sendiri membantu bekerja untuk WhatsApp dalam mengungkap kasus ini.

“Apakah NSO melihat log itu atau tidak, tidak ada yang tahu? Tapi ini adalah fakta bahwa pernyataan mereka bertentangan dengan apa yang sebenarnya terjadi," kata Scott-Railton.

NSO akan menyampaikan tanggapan hukumnya ke pengadilan dalam beberapa hari mendatang.

Sumber: Kumparan

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Inilah Cara Mendidik Anak Agar Berani Menyampaikan Pendapat https://t.co/U350nxjhVW
Catat! Inilah Tips Aman Saat Main TikTok https://t.co/10EaEpXGiH
Pasien Covid-19 di Karawang Tambah 5 Orang https://t.co/AewFy3IRTb
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter