FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Inspirasi Kepemimpinan Militer Prabowo Subianto

Indeks Artikel



Saat jalan-jalan ke Gramedia, beberapa hari setelah vaksin, saya lihat ada buku bagus. Tebal, besar, dan berat bukunya. Ukurannya 21 x 29,7 cm dan dicetak penuh warna di atas kertas glossy; bersampul keras, diberi jaket dengan berat 2,9 kg dan tebalnya 574 halaman.

Buku ini bisa disebut sebagai pengalaman dan pandangan hidup Pak Prabowo terkait para senior, kolega, yunior, dan tokoh nasional dan global (dulu dan sekarang) yang menginspirasinya sehingga menjadi prajurit yang mendedikasikan dirinya untuk kebangkitan dan kejayaan Indonesia. Setidaknya terdapat 94 tokoh yang terdiri dari 45 perwira tinggi TNI, 7 prajurit TNI non-Pati, 15 tokoh sipil dan 27 tokoh asing.

Di buku ini, Pak Prabowo menulis relasi beliau dengan mereka semua. Ada banyak tokoh di dalamnya, seperti bagaimana relasinya dengan Pak Yusuf Yosfiah, Pak Agum Gumelar, Pak Luhut B. Panjaitan, Pak Hendropriyono, dan lain sebagainya. Relasi itu ada yang berjalan seiring, tapi tak jarang ada perbedaan, namun karena pijakannya tetap nasionalisme untuk kejayaan Indonesia, maka titik tertentu perbedaan itu bertemu pada titik persamaan.

Tokoh pejuang bangsa di masa lalu juga dituliskannya. Ia menunjukkan penghormatan kepada Jenderal Sudirman, Daan Mogot, Yos Sudarso, Pattimura, Malahayati, Sultan Agung, hingga Pangeran Diponegoro dan Gadjah Mada. Nama-nama tersebut dipilihnya sebagai bagian dari apresiasi terhadap tokoh yang berjasa bagi republik, sekaligus yang berpengaruh dalam dirinya.

Meneladani Pangeran Singosari, Prabowo memandang seorang pemimpin militer harus mampu mendapatkan dukungan dari rakyat dengan memberi kebaikan yang berkesinambungan. Nggak cukup hanya jago berperang. Pemimpin militer harus pandai membangun. Belajar dari Julius Caesar, dia dikenal sebagai prajurit profesional, menguasai taktik dan strategi perang, memimpin dari depan, namun memperhatikan kesejahteraan pasukan dan membela rakyat miskin.

Pahlawan dari luar negeri lainnya juga ditulis. Misalnya, bagaimana perjuangan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, sang pembebas Yerussalem, pemberani, dan pemimpin bijaksana. Kisah orang besar tersebut juga dipadukan dengan prajurit hebat dari berbagai kontinen lainnya di dunia.

Bagi kita yang bukan militer, buku ini mengajarkan bagaimana karakter prajurit yang patut kita pelajari. Jenderal Jusuf misalnya, dikenal sebagai panglima yang sangat peduli kepada anak buahnya. Orangnya sederhana, dan religius. Waktu beliau wafat, langit mendung, hujan sedikit, saya hadir di TPU Panaikang, Makassar. Ia berwasiat agar kuburannya tidak di taman makam pahlawan tapi di samping kuburan anak laki-laki satu-satunya, Jaury Jusuf (wafat 1960-an) yang lokasinya di samping TPU.

 



Selengkapnya Klik Halaman Berikutnya...



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

5 Tips Mengurangi Rasa Takut Menjelang Melahirkan https://t.co/KNQoTWVHce
Jadwal Imsakiyah untuk Wilayah Subang Pada 5 Desember 2021 https://t.co/dhUYxwKXCm
Inilah Jadwal Samsat Keliling di Subang Pada 5 Desember 2021 https://t.co/ci4v5ZANBA
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter