FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: Nasib Pembelajaran Daring Pasca Pemberlakuan PTM

Indeks Artikel



Dimulainya kembali kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas di sebagian besar daerah disambut baik oleh para guru. Kebijakan tersebut memberikan kesempatan kepada mereka untuk membimbing anak – anaknya secara langsung sehingga lebih maksimal.

Dengan dibukanya kembali sekolah, berbagai kendala teknis yang selama ini dikeluhkan oleh para guru dalam pembelajaran daring tidak akan kita temukan lagi. Di sisi lain, dilaksanakannya kembali kegiatan pembelajaran di sekolah berpengaruh terhadap kebiasaan guru dalam mengajar. Sebagian guru mulai meninggalkan pembelajaran daring hanya karena sekolah telah kembali dibuka.

 Mereka beranggapan, pembelajaran daring hanya cocok dilaksanakan manakala anak – anak tidak diperbolehkan belajar secara langsung di sekolah. Akibatnya, pola pembelajaran jarak jauh yang sudah terbentuk selama satu tahun itu pun mulai terkikis seiring tingginya euforia atas diselenggarakannya pembelajaran secara langsung. Video– video pembelajaran yang dahulu sempat mengisi ruang – ruang di dunia maya pun perlahan mulai tak terlihat lagi. Latihan soal atau ujian yang biasa dilaksanakan menggunakan aplikasi juga mulai ditinggalkan dan kembali menggunakan alat tulis konvensional.

Dalam pandangan penulis, pembelajaran jarak jauh ataupun daring merupakan sebuah keniscayaan, ada ataupun tidaknya pandemi. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan pembelajaran. Adapun pandemi hanyalah pemicu untuk mempercepat terjadinya transisi digital di negara – negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di beberapa negara maju, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah menjadi kebutuhan dan telah dijalankan jauh – jauh hari sebelum datangnya pandemi. Prinsip – prinsip efisiensi, akurasi dan efektivitas dalam pembelajaran menjadi dasar bagi mereka untuk menyelenggarakan pembelajaran berbasis teknologi informasi tersebut.




Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa digelarnya kembali PTM tidak semestinya dijadikan alasan oleh guru untuk meninggalkan pembelajaran daring. Sebaliknya, menggabungkan kedua teknik pembelajaran tersebut perlu dilakukan oleh para guru guna mendapatkan hasil yang maksimal.

Karakteristik generasi digital yang sangat akrab dengan gawai dan lebih menyukai pembelajaran berbasis visual semestinya dijadikan pertimbangan oleh guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan.  Selain itu pesatnya perkembangan teknologi informasi juga seyogyanya dipandang sebagai peluang untuk melaksanakan proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran secara efektif, efisien dan objektif.

Untuk itu guru dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya khususnya di bidang teknologi informasi (IT). Saat ini cukup banyak lembaga pemerintah maupun komunitas yang rutin menggelar berbagai pelatihan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi guru di bidang IT. Pelatihan – pelatihan tersebut diselenggarakan secara daring dan tanpa dipungut biaya, Guru bahkan diberikan sertifikat sebagai bukti bahwa mereka telah mengikuti kegiatan tersebut.Oleh karena itu, tidak selayaknya guru menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Oleh : Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Bripda Randy yang Perkosa Novia Widyasari Akhirnya Dipecat Secara Tidak Hormat https://t.co/cOtVD4TOnu
BNPB Sebut 14 Orang Meninggal Dunia dan 56 Luka Akibat Erupsi Gunung Semeru https://t.co/hKVt1pU8wG
Tahukan Kamu, Sebenernya Temanmu Suka Padamu, Ini Tanda-Tandanya https://t.co/JfWtYJCJ5y
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter