FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: Kegagalan Kaum Tua dalam Memahami Politik Anak Muda

Indeks Artikel






Dan apa yang terjadi dan kita lihat sekarang apakah mengikuti siklus kegalauan 20 tahun politik Indonesia. Karena setiap masa ini siapapun penguasa atau rezim politik yang tidak mampu beradaptasi dan mengakomodir kegalauan politik anak-anak muda Indonesia tentang identitas mereka akan terlindas oleh masa dan zaman itu sendiri. terlebih generasi hari ini sebuah generasi yang berbeda dari generasi-generasi politik anak muda sebelumnya.

Pada pemilu 2014 kemudian pemilihan Presiden 2019, Jokowi yang mencitrakan dirinya sebagai gerakan politik kekuatan rakyat mampu mengambil besar suara politik anak-anak muda. dengan segala program yang sudah dan akan dibuatnya lagi.

Namun hal itu tidak berlanjut lama, setelah memenangkan pemilu Presiden 2019, dimasa awal pemerintahan yang kedua kalinya terutama sejak DPR membuat RUU KPK yang di anggap melemahkan KPK kemudian UU Omnibus Low dan Cipta Kerja, dua peristiwa ini telah membuat Jokowi semakin jauh dari gerakan kesadaran politik anak-anak muda, yang sebelumnya berharap banyak bahwa pemerintahan Jokowi bisa memahami kegalauan politik mereka.

Gerakan politik anak-anak muda, mahasiswa, tim Avangers (yang dianggap sebagai gerakan aksi pelajar atau anak-anak STM) dan gerakan buruh hari ini seperti menjadi sebuah gerakan oposisi baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan kemunculanya, karena sebelumnya Jokowi mampu menggandeng lawan politiknya Prabowo di pemilu Presiden 2019 ke dalam kabinetnya.

Sejak reformasi 1998 kita selalu mencari penyegaran format politik baru ke Indonesiaan karena hampir tiga dekade lebih kita berada dalam cengkraman kekuasaan otoriter orde baru, pikiran dikontrol, kebebasan dibatasi, aktifis politik yang kritis di kerangkeng pada waktu itu. Kita punya pengalaman dan masa-masa sulit seperti itu, yang seharusnya menjadi cerminan politik hari ini agar kita tidak salah melangkah kedua kalinya untuk melihat Indonesia ke depan.

Kita adalah sebuah negeri yang kaya, kita punya dan budaya kultur ke Indonesiaan yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Dulu kita dikenal sebagai sebuah bangsa dan masyarakat yang gotong royong, masyarakat yang ramah dengan kearifan lokal dan budaya, masyarakat yang selalu bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam memecahkan segala urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, masyarakat yang menjunjung norma-norma kepatuhan untuk saling menghormati dan menghargai sesama sekalipun kita hidup dalam perbedaan dan keragaman. Inilah kita lalu kemana itu semua hari ini?

Yaya Suryana, Penulis adalah Pemuda Subang Tinggal di Binong

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
 



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Bripda Randy yang Perkosa Novia Widyasari Akhirnya Dipecat Secara Tidak Hormat https://t.co/cOtVD4TOnu
BNPB Sebut 14 Orang Meninggal Dunia dan 56 Luka Akibat Erupsi Gunung Semeru https://t.co/hKVt1pU8wG
Tahukan Kamu, Sebenernya Temanmu Suka Padamu, Ini Tanda-Tandanya https://t.co/JfWtYJCJ5y
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter