FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: 'Masa Depan' Sekolah Swasta



MENARIK mencermati fenomena minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta terlebih setelah era pandemi Covid-19. Tidak bisa dielakkan jika hal tersebut bisa menjadi fenomena “gunung es” yang melanda sekolah-sekolah swasta di berbagai daerah, sebab akibat pandemiCovid-19 ini banyak sekolah kesulitan dalam operasional sekolah karena kekuarangan murid.

Jauh sebelum Pandemi Covid-19, fenomena matinya sekolah karena kekurangan murid seperti yang terjadi pada tahun ajaran sebelumnya yaitu 2019-2020 ketika ada beberapa sekolah yang menutup aktifitas pembelajaran karena kekurangan murid. Bagi sekolah swasta, PPDB adalah tolak ukur keberlangsungan sekolah yang jelas terlihat dari perolehan siswa.

Keniscayaanya, sekolah swasta tentu tidak bisa dilepaskan dari yang namanya profit atau incomedari banyaknya siswa pendaftar. Alhasil, sekolah swasta memang menggantungkan hidupnyadan ukurannya adalah para pengguna yang masuk ke sekolah swasta. Kondisi penurunan perolehan siswa bagi sekolah swasta untuk dua tahun terakhir di era pandemi Covid-19 mulai dari PAUD, Pendidikan dasar menengah dan tinggi pun jelas-jelas terdampak sekali. Banyak sekolah swasta dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) saat ini benar-benar kekurangan peserta didik dan mahasiswa.

Harus diakui sudah sejak lama sekolah swasta kesulitan dalam mencari murid (peserta didik) terlebih ketika diberlakukannya kebijakan zonasi. Diakui atau tidak, kebijakan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) adalah badai perdana yang menghantam sekolah swasta. Harus bersaing dengan sekolah-sekolah negeri dengan gedung menjulang tinggi, fasilitas memadai, suasana sekolah yang indah dan bersih, guru dengan gaji negara tentu saja melahirkan penampilan berbeda pada peserta didiknya.

Perlahan namun pasti, fenomena tersebut kemudian menjadikan semakin kuatnya hegemoni sekolah negeri minded bagi mayoritas masyarakat. Sekolah negeri mindedplus kebijakan zonasi sebagai kebijakan yang pada implementasinya ada banyak pelanggaran yang terjadi namun tiada tindakan dan evaluasi. Misalnya masih banyaknya penambahan rombel seiring bantuan pendirian ruang kelas baru bagi sekolah negeri. Alasan lainnya adalah faktor penguat internal sekolah, di mana guru-guru negeri juga dituntut mendapatkan 24 jam mengajar minimal untuk syarat cairnya tunjangan sertifikasi.

Selanjutnya beban berat yang ditanggung sekolah swasta, pendapatan hanya bertumpu pada dana BOS dan tambahan BPOPP (jenjang SMK/SMA), tidak adanya bantuan tunjangan untuk guru-gurunya. Sejatinya tumpuan kesejahteraan guru swasta adalah tunjangan sertifikasi, akan tetapi menuju puncak itu antriannya begitu sangat panjang.

Terdapat banyak sekali guru swasta yang belum bisa mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mendapat tunjangan sertifikasi. Belum lagi masih banyak sekali guru swasta yang belum memiliki NUPTK, semuanya sudah mencoba mengusulkan tapi harus menunggu untuk waktu yang cukup lama.

Ironisnya lagi, setelah mengikuti antrean panjang terbitnya NUPTK, bisa terpanggil dan akhirnya dinyatakan lulus PPG namun sertifikat pendidiknya harus mengacu Permendikbud No 15 tahun 2018 bagi guru swasta. Kewajiban mengajar  sesuai sertifikat pendidik minimal 12 jam di sekolah induk dengan total harus 24 jam. Sebuah masalah besar bagi guru yang hanya 2 jam di kelasnya maka harus memiliki total 12 rombel untuk memenuhi ketentuan 24 jam.

Sejatinya sekolah swasta sudah sejak lama sadar posisi dan dengan semangat tinggi bangkit dengan melakukan perubahan. Akan tetapi, dalam kebijakan bantuan fisik pemerintah melalui TAKOLA juga masih menerapkan standart minimal jumlah peserta didik 216 siswa, sebuah syarat yang tidak akan mungkin diakses oleh mayoritas sekolah swasta.

Terbaru, ancaman nyata sekolah swasta adalah lahirnya Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Reguler yang diperkuat lagi dengan keluarnya Surat Edaran Kemdikbud Ristek Dikti Perihal Pembaharuan Dapodik untuk Dasar Perhitungan Dana BOS Reguler tertanggal 18 Agustus 2021. Keduanya memberikan ancaman keras akan jumlah minimal peserta didik minimal 60 siswa selama tiga tahun terakhir.

Revitalisasi Strategi
Terlepas itu semua, sekolah swasta keniscayaanya dituntut untuk senantiasa merevitalisasi strateginya guna menjamin kesesuaian tuntutan lingkungan dan persaingan dengan kekuatan internal yang dimilikinya. Ketidakmampuan suatu satuan pendidikan dalam merespon peluang dan ancaman eksternal, akan mengakibatkan menurunnya daya saing atau terhambatnya pencapaian kinerja satuan pendidikan. Jika hal ini dibiarkan, maka akan mengancam kelangsungan hidupnya.

Senyatanya sekolah swasta yang baik dan unggul bukanlah yang siswanya banyak saja, akan tetapi sekolah yang mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dan menciptakan lingkungan sekolah yang berkualitas dan bermakna. Harapan besar dan menjadi peluang bagi pengelola jasa pendidikan ketika masih ada masyarakat memilih sekolah bukan karena itu sekolah negeri atau sekolah swasta, tetapi sejuah mana kepandaian pengelola sekolah dalam menawarkan program-program keunggulan atau kekhasan.

Saat ini paling utama sekolah swasta harus kreatif dan inovatif melakukan revitalisasi strategi dalam era baru distruption, terlebih pandemi covid-19. Kondisi nyata zaman berubah, kebutuhan berubah, dan pilihan masyarakat pun berubah.

Sejarah telah mencatat bagaimana pentingnya pendidikan yang telah dilakukan oleh lembaga pendidikan swasta untuk ikut nyata membuka pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Keniscayaannya, sekolah swastaharus menempatkan dirinya sejajar dengan sekolah negeri, sehingga ancaman “kematian” sekolah swasta pun semestinya tidak terjadi.

Asep Totoh, Penulis adalah Dosen Ma’soem University



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Quote "Berkomitmen untuk bisa konsisten dan tidak pernah berhenti untuk memperbaiki." ~Anthony Robbins~ https://t.co/X1L5oOwffd
SUAMI BERSAING DENGAN ISTRI DI PILKADES KABUPATEN SUBANG https://t.co/lbLgV5jk6W
Inilah 5 Fakta Terkini Terkait Kebakaran di Gedung Cyber 1 di Jakarta https://t.co/ekZ1P7Z2zJ
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter