FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Istisyfa'bil Qur'an

Indeks Artikel



 



SUBANG, TITNAHIJAU.com - Bismillah walhamdulillah wasshalatu wassalamu 'ala Rasulillah walaa haula walaa quwwata illaa billah, wa ba'du

Para ulama mengajari kita ISTISYFA' BIL QUR'AN adalah memohon kesembuhan dengan Al-Qur'an.



Allah SWT berfirman,

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80)



"(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit." (QS. As-Syu'ara: 78-80)

Berangkat dari ayat Al-Quran surat As-Syu’ara ayat 78-80 yang membahas tentang kekuasaan Allah SWT. atas diri manusia jika sakit. Pada mulanya manusia itu sakit, sehingga Al-Quran turun untuk memberikan obat penawarnya. Sakit yang dimaksud bukan hanya sakit fisik, melainkan sakit yang berupa kejahilan, kesesatan dan jauh dari petunjuk. Buktinya bisa dilihat pada surat tersebut.

Ayat pertama menjelaskan bahwa “Dialah yang menciptakan manusia dan memberikan petunjuk untuk dapat bertahan hidup”. Ini merupakan bukti cinta Allah kepada makhluk-Nya, jadi kalau dikaitkan dengan surat Al-Fatihah maka makna rabbul ‘alamiin  itu berupa penguasaan Allah atas segala konstruksi dan sistem kehidupan manusia.
Allah lah yang mengatur seluruh komponen dalam kehidupan manusia tanpa disadari dan diminta sekalipun.

Kemudian ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Allah lah yang memberikan makan dan minum manusia setelah diciptakan. Pada lanjutan ayatnya di jelaskan jika manusia sakit, maka Allah lah yang akan menyembuhkannya. Redaksinya berbunyi, “Jika aku sakit maka Dia (Allah) lah yang akan menyembuhkan ku”.  Di ayat ini ada penjelasan oleh imam Qurtubhi bahwa redaksi tersebut bermakna “sakit itu tendensinya dari manusia”.

Perihal sakit, lebih detail di jelaskan dalam surat Al-Isra’ ayat 82. Dalam  ayat tersebut dijelaskan bahwa Al-Quran turun sebagai rahmat dan obat. Kata Gus Dhofir, logikanya jika Al-Quran turun sebagai obat maka manusia pada dasarnya adalah sakit.

Kemudian sumber hadis riwayat Al-Baihaqi dalam Sunan Kabir jilid IX nomor 344 menjelaskan bahwa “Ayo kamu berobat dengan dua syifa’. Pertama adalah dengan MADU, dan kedua adalah AL-QUR'AN."

Logikanya madu diproses di dunia, maka jika sakit mata maka berobatlah dengan obat sakit mata. Jika sakit harus mengikuti hukum sebab akibat yakni dengan berobat ke dokter. Namun, kalau obat Al-Quran disebut berobat dengan CARA LANGIT.

Di surat Yunus, Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh (syifa') bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Baca selengkapnya di halaman berikutnya



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

5 Keistimewaan Hari Jumat Bagi Umat Muslim https://t.co/KWSb96FUno
Gandeng Google Inisiative dan Cek Fakta, AMSI Jabar Gelar Pelatihan Literasi Berita Tangkal Hoaks https://t.co/gbBZz2QGGg
PT KAI Berinovasi, Wagub Jabar: Ada Layanan Live Cooking https://t.co/Zs4LfIKT2m
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter