FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: Pembelajaran Inovatif untuk Mewujudkan Merdeka Belajar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim telah menetapkan empat program pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”.  Program tersebut meliputi Rencana Pelaksana Pembelajaran (RPP), Ujian Nasional (UN), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi, dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

Pemerhati pendidikan Dr. Made Alit Mariana menilai kebijakan ini memberikan peluang bagi sekolahn untuk menjadi sekolah yang unggul dan kesempatan guru untuk semakin inovatif. Pembelajaran yang inovatif dalam konsep merdeka belajar yang diusung oleh Nadiem Anwar Makarim memberikan kesempatan emas bagi guru untuk kreatif dan inovatif dalam melangsungkan proses pembelajaran. Konsep merdeka belajar juga akan memberikan kesempatan terhadap murid bagaimana menggali dan menempa dirinya untuk menemukan bakat dan minat dalam belajar. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Artinya dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Sebelum mencapai terhadap tujuan dari konsep merdeka belajar, pembelajaran yang inovatif sebagai jalan yang menghubungjan untuk memberikan rangsangan dalam belajar agar tidak jenuh dan bosan yang harus dimaksimalkan oleh guru. Mengutip Tokoh Filsuf Pendidikan, Paulo Freire mengatakan bahwa tujuan dari merdeka belajar adalah sebuah pendidikan yang memebaskan untuk mencapai sebagai subjek yang hakikat diri secara utuh.

Artinya dalam proses pembelajaran yang melibatkan interaksi antara guru dan murid tidak memuat model pendidikan ala gaya bank, yang seyognya peserta didik hanya didoktrin untuk menerima informasi dan budaya menghafal tanpa memunculkan rekayasa pendidikan yang interaktif bagaimana guru mampu memberikan rangsangan yang dialogis terhadap peserta didik. Sehingga peserta didik ditempatkan sebagai subjek aktif bukan malah sebagai objek yang didominasi oleh guru. Bagi Paulo Freire, pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat objektif atau subjektif, tapi harus kedua-keduanya.

Sementara pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk membangun pengetahuan itu sendiri atau secara mandiri. Dalam mewujudkan pembelajaran inovatif sangat dibutuhkan adanya model pembelajaran, media pembelajaran, dan yang paling utama adalah strategi pembelajaran.

Menurut Prawiradilaga ada beberapa aspek yang mempengaruhi inovasi yaitu kebaruan, temuan ulang, kekhasan, manfaat relatif, sesuai, sumit, dapat dicoba dan diamati. Dalam proses belajar mengajar dibutuhkan suatu pengembangan untuk mencapai pembelajaran yang inovatif. Seorang guru sangat diuntut untuk kreatif dan inovatif melihat keadaan siswa dengan menggunakan media sebagai pembelajaran yang berinovatif.

Dewi mengatakan bahwa Pengembangan inovasi dapat dilakukan dari beberapa hal. Diantaranya adalah : faktor tidak terduga, kesenjangan, kebutuhan proses, perubahan persepsi, dan keilmuan baru. Dalam pengembangan pembelajaran yang inovatif ini dapat dirancang dengan menyusun suatu kerangka yang jelas yang biasa disebut dengan model pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran harus mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan mampu membangkitkan semangat perserta didik. Dalam menentukan model pembelajaran agar tujuan untuk mewujudkan merdeka belajar bagi murid, guru dapat menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu untuk mentransfer ilmu pengetahuan.

Apalagi di tengah perkembangan tekhnologi semakin meningkat, sangat mudah untuk menyampaikan ilmu pengetahuan terhadap murid. Dalam mengimplementasikan pembelajaran yang inovatif bagi  penulis yang pertama harus diperhatikan guru harus mampu memberikan ruang pembelajaran yang interaktif bersama murid. Karena pembelajaran yang interaktif merupakan perwujudan konsep merdeka belajar yang memberikan kemerdekaan bagi siswa untuk mengekspresikan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang diperoleh.

Pembelajaran interaktif ini dapat diperoleh dengan model diskusi. Selain menciptakan ruang pembelajaran yang interaktif, kedua guru harus pandai membaca situasi murid dikelas agar dapat selalu fokus ke pelajaran. Untuk mencapai itu guru tidak hanya menerangkan mata pelajaran, melainkan menciptakan pula suasana pembelajaran yang cair seperti memberikan hiburan terhadap siswa. Hal tersebut bertujuan untuk merefleksikan psikolgi siswa agar tidak mengalami jenuh dan bosan.

Yang ketiga, guru memberikan reward kepada siswa terutama bagi mereka yang berprestasi. Hal ini bertujuan agar prestasi siswa tetap dipertahankan. Reward tidak harus berupa materi melainkan pujian dan motivasi terhadap siswa sudah masuk kategori reward.

Selain itu bagi siswa yang tidak berprestasi, jangan sampai reward juga tidak diberikan bagi mereka. Karena walau bagaimanapun guru harus mampu membaca dan mengontrol psikologi siswa. Artinya semua harus diperhatikan oleh guru jmeskipun reward yang diberikan ada perbedaan bagi mereka yang berprestsi, karena hal ini bertujuan untuk memberikan motivasi maupun inspirasi pula bagi siswa yang lain. Yang ke empat, guru harus mampu memadukan tekhnologi sebagai penyambung media pembelajaran. Karena di era tekhnologi yang semakin meningkat ini guru maupun murid harus pandai dalam mengoperasikan tekhnologi dalam menjawab tantangan perkembangan zaman.

Misalnya dalam mata pelajaran geografi tentang peta, guru dapat menyedikan LCD Proyektor dalam papan tulis yang menggambarkan bentuk peta maupun keterangan-keterangan di dalamnya. Karena hal demikian juga bertujuan untuk memudahkan guru dalam menyampaikan proses pembelajaran.

Dan yang ke empat, adalah guru dapat menciptakan suasan sekolah alam. Sekolah alam ini digagas oleh Lendo Novo yang bertujuan membuat sekolah yang berkualitas tetapi dengan harga terjangkau. Selain itu tujuan dari sekolah alam ini untuk memadukan antar teori dan praktik. Guru sekali-kali dapat mengajak murid bersama untuk terjun ke alam langsung dengan melihat kondisi realita agar lebih objektif. Misalnya mata pelajaran ilmu sosiologi tentang kesenjangan sosial seperti kemiskinan.

Guru dapat mengajak murid ke masyarakat langsung untuk mencoba menelaah teori dan memadukan dengan realita di lapangan. Seperti adakah penyebab lain yang tidak dijelaskan oleh teori tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi permasalahan tersebut. Beberapa poin-poin tersebut yang disebutkan merupakan merupakan serangkaian dalam mewujudkan konsep pembelajaran inovatif untuk mewujudkan merdeka belajar bagi siswa


Hanafi Samsi, Penulis adalah Mahasiswa Tarbiyah Prodi Tadris IPS IAIN Madura

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Ini Penjelasan Tentang 'Efikasi Vaksin Sinovac' Menurut Para Ahli https://t.co/dubGhgftVS
Sukses Jadi Petani Muda, Adi Priatna: Ada Doa Hebat Ibu di Belakang Saya https://t.co/hyOTnuZUVe
Xiaomi Bantah Tudingan Pemerintah AS, Xiaomi Bukan Perusahaan Militer China https://t.co/kVkZPy4E3w
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter