FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: Makin Religius di Tengah Pandemi

Indeks Artikel

Pandemi covid-19 mengajarkan kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sesungguhnya, manusia sejak masih di kandungan ibunya adalah suci, dan semuanya telah memiliki janji dengan Allah sebagaimana yang firman-Nya, "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (QS. Al-A'raf: 172)

Janji yang mungkin kita semua tidak ada yang ingat itu, diingatkan oleh Allah lewat Al-Qur'an. Keyakinan pada ayat Al-Qur'an sebagai wahyu membuat kita percaya bahwa perjanjian tersebut adalah bukti bahwa semua manusia sejak ruh-nya adalah suci, fitrah. Akan tetapi, perjalanan hidup membuat mereka bertemu dengan berbagai ujian, cobaan, dan tantangan yang bisa jadi menguatkan atau malah menjatuhkan iman mereka.

Pandemi covid-19 ini sesungguhnya dapat dilihat sebagai bentuk "petunjuk" untuk kita kembali pada fitrah kesucian seperti awalnya tiap kita semua. Fitrah yang suci itu perlu kita hadirkan kembali dalam kesadaran kita semua, baik itu ucapan, tindakan, dan perkataan, dengan memancarkan berbagai nilai baik kepada diri, orang lain, dan alam semesta.

Ayat-Ayat Penguat Hati

Tadi sore, keluar rumah saya melihat ada banyak rumah kos yang kosong, rumah makan yang sepi, dan beberapa kucing yang kurus. Itu sebagai tanda saja bahwa pandemi ini berdampak pada banyak sekali kehidupan kita; ekonomi jadi melorot, pertemuan berpindah ke online, dan kekhawatiran juga terkadang timbul-tenggelam di tengah ketidakpastian. Kita sama berharap vaksin bisa ditemukan pada 2021, amin.

Pada surat Al-An'am ayat ke-17, Allah swt berfirman, "Dan jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia; dan jika Allah mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." Ayat ini menguatkan kita bahwa maslahat dan mudharat yang ada di atas bumi semua berada dalam kuasa-Nya. Kita sebagai manusia tugasnya berusaha, dan selebihnya serahkan kepada-Nya.

Dalam situasi seperti ini kita tentu saja harus tetap waspada. Caranya adalah dengan mengikuti protokol yang paling lazim, yaitu pakai masker kain (jangan yang scuba), jaga jarak, rajin cuci tangan, dan usahakan lebih banyak di rumah jika tidak ada kebutuhan penting. Ketika di rumah, usahakan juga kita tetap berbuat baik, paling minimal adalah buat status inspiratif, yang menyemangati sesama agar tetap tegar di tengah kondisi sekarang.

Allah swt mengajarkan agar kita belanjakan harta untuk kebaikan, di jalan-Nya. Artinya, kuota yang kita punya ini perlu dipakai untuk sebanyak mungkin kebaikan. Dia berfirman, "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini mengajarkan kita agar: orientasikan hidup untuk kebaikan!

Menjauh dari kota yang terkena pandemi mungkin agak susah, karena saat ini di berbagai kota ada pandeminya--setidaknya di tingkat provinsi. Akan tetapi, kita tetap bisa mengikuti protokol saja, apalagi di antara kita ada yang harus tetap bekerja di luar untuk mencari nafkah di tengah kesulitan. Jika tidak keluar, mungkin tidak ada pemasukan.

Saya sering ngobrol dengan driver grab motor atau mobil. Saya tanya, "Pak gimana penumpang sekarang?" Jawabnya, "Saya turun drastis mas!" Jika biasanya dapat penumpang 10, sekarang dapat dua juga agak susah. Seorang driver online di belakang Bidakara pernah bercerita ke saya, katanya berjam-jam dia menunggu tapi tidak dapat-dapat juga. Padahal dia dalam kondisi aktif. Itu sebagai gambaran saja bahwa di tengah pandemi ini orang tetap harus bekerja, padahal mungkin mereka nggak mau, tapi mau bagaimana. Dapur harus tetap ngebul, juga.

Naik kereta dari Depok ke Jakarta juga saya lihat banyak orang diam-diaman di kereta. Ya, karena kita diminta untuk lebih diam, untuk menghindari terpancarnya droplet. Orang-orang berada dalam ketidakpastian, ingin tetap di rumah tapi pekerjaan harus tetap jalan. Sebagian memilih main game, nonton Youtube, dan sebagian kecil yang baca Al-Qur'an dari gajetnya. Jika biasanya kereta full orang, kini penumpangnya relatif terbatas. Memilih tempat yang agak pinggir, itu yang lebih--terutama saat kereta agak sepi. Dan, sebelum setelah turun stasiun segeralah untuk cuci tangan.

Tetap Optimis

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Miliki Kantor Baru, Pemdes Sukamandi Berambisi Optimalkan Potensi Wisata https://t.co/EoIpWJPRFA
Libur Panjang, Polisi di Majalengka Gencar Sosialisasi Prokes di Objek Wisata https://t.co/PKcilOrWEM
Peringati Hari Sumpah Pemuda, Karang Taruna Rawalele Donor Darah https://t.co/60jkMmdmQZ
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter