FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Imajinasi Kita tentang Bahaya Laten Komunis

Indeks Artikel


Setiap masuk bulan September banyak dari kita yang akan berbicara soal komunis merujuk pada gestapu alias G30S/PKI. Sebuah gerakan yang menculik beberapa jenderal--yang disebut "dewan jenderal"--yang katanya akan melakukan kudeta kepada Presiden Soekarno.

Menurut seorang pakar, rencana PKI sebenarnya tidak bermaksud untuk sampai pada "tragedi lubang buaya", akan tetapi hanya membawa para jenderal kepada Presiden Sukarno. Akan tetapi di lapangan, rencana itu jadi berubah, dan terjadilah apa yang telah terjadi.

Sejak kecil sampai sekarang saya tidak ada respeknya kepada PKI karena tindakan sadis yang mereka lakukan kepada ulama dan santri sampai pada tragedi di lubang buaya itu. Apa yang dilakukan PKI itu adalah bagian dari pengkhianatan terhadap bangsa dan negara.

Ketika masuk reformasi, beberapa aktivis yang senang berbendera merah kerap dianggap dekat komunis. Di antara mereka juga senang membaca buku Marx, dan pengikutnya. Tapi orang yang membaca karya Marx atau Marxisme tidak lantas bisa disebut sebagai Marxist atau komunis.

BACA JUGA:
Tidak Sesuai Fakta, KITA: Film G30S PKI Perlu Direvisi
Jadwal Pemadaman Listrik Senin 28 September di Kecamatan Purwadadi dan Cikaum
Disanksi Tidak Pakai Masker, Banyak Warga Subang Tak Hafal Pancasila


Kita yang di ilmu antropologi misalnya, kita pelajari banyak sekali pemikiran Barat, mulai dari evolusionisme, strukturalisme, fungsionalisme, materialisme, interpretivisme simbolik, hingga konsensus dan konflik. Dalam "perahu besar" paradigma itu kita juga pelajari apa yang pernah dipikirkan Marx tentang masyarakat. Khusus dalam teori antropologi dan sosiologi, kata salah satu buku, "banyak berutang pada Karl Marx" karena dari pemikiran dialah banyak rumusan teori konflik dikembangkan (kalimat ini juga tidak berarti seseorang pro komunis).

Di sini saya ingin katakan bahwa orang yang membaca Marx atau koleksi bukunya bukan berarti dia Marxist. Beberapa waktu lalu misalnya kita kadang lihat berita bahwa orang dianggap pengikut suatu aliran ketika dia mengkonsumsi atau mengoleksi bacaan aliran tertentu. Padahal tidak begitu. Pun sebaliknya, orang yang baca buku Imam Samudra tentu saja belum tentu berpikiran untuk mengebom satu wilayah sebagai bentuk retaliasi solidaritas atas penderitaan yang terjadi di wilayah lain.

Dalam hal ini kita perlu membedakan antara Marxisme sebagai kajian ilmiah (akademik) dan Marxisme-Komunisme sebagai pergerakan. Sebagai akademik, pemikiran Marx itu dikaji, sama juga dengan pemikiran tentang sistem negara dalam sejarah Islam yang juga dipelajari--yang sangat beragam itu. Tujuan dipelajarinya adalah kita tahu "itu barang apa sebenarnya" yang dengan itu kita jadi paham sekaligus yakin bahwa apa yang kita punya (Pancasila) itu sudah bagus sekali sebagai titik-temu bagi sekian kaya diversitas yang ada.

Kebangkitan PKI menjadi isu yang selalu hangat. Apakah PKI tengah bangkit? Beberapa aktivis Islam percaya bahwa PKI tengah bangkit, apalagi ditambah dengan narasi dari Jenderal purnawirawan Gatot Nurmantyo yang menyebut kurang lebih sama. Penyerangan terhadap tokoh Islam, misalnya sering juga disematkan pelakunya pada PKI. Terakhir, apa yang terjadi pada Syekh Ali Jaber, seorang ulama "Arab-Indonesia" familiar, itu juga ada yang kaitkan dengan PKI.

TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Perpusda Purwakarta Jadi Percontohan di Indoensia https://t.co/lUCvNxh3W8
Fakta atau Mitos: Vagina Bisa Longgar Karena Kebanyakan Berhubungan Seks https://t.co/SSQ5KdIWPn
Indramayu Kini Miliki Laboratorium Untuk Uji Swab Sendiri https://t.co/b4LNu69r8x
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter