FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: Hijrah, Hijriah dan Suro

Gema dan gebyar menyambut tahun baru Islam yang sering disebut tahun baru hijriah, harus diakui tidak semeriah menyambut tahun baru Masehi yang penuh gemerlap kembang api dan berbagai acara yang dilaksanakan diberbagai tempat.

Sepinya peringatan tahun baru Islam setidaknya disebabkan oleh beberapa alasan, pertama karena tahun baru Islam, dianjurkan oleh para ulama sebagai moment untuk intropeksi (muhasabah) atas perjalanan hidup, minimal selama setahun yang sudah berlalu, dengan mengambil semangat ucapan sahabat Khalifah Umar bin Khattab RA “Hitunglah amalmu sebelum dihitung (Tuhanmu!)” dan ulama juga meneruskan anjurannya untuk jangan berhura-hura dalam menyambut tahun baru hijriah.

Kedua, ini berkaitan dengan budaya dan adat istiadat masyarakat Indonesia khusunya Jawa, yang juga memperingati tahun baru hijriah tersebut, dengan nuansa yang agak berbeda, dalam kontek akulturasi antara Islam sebagai agama dan Jawa sebagai budaya, yang sampai sekarang masih diperdebatkan tentang apakah yang terjadi adalah Islamisasi Jawa atau Jawanisasi Islam, sebuah pertanyaan berat yang sulit dijawab, tapi disini kita tidak dalam kapasitas berbicara hal itu, bahwa malam itu masyarakat Jawapun memperingati tahun baru, yang disebut “malam satu suro”, dari namanya sudah beraroma mistik, apalagi kalau mengingat film yang dibintangi Suzanna pada dekade 80-an dengan judul yang sama, bukan kemeriahan apalagi hura hura yang ada tapi nuansa perenungan bahkan aroma mistis yang terasa, plus dengan kisah hantu-hantu yang membuat bulu kuduk merinding.

Malam satu suro justru yang agak meriah terjadi di kraton Kasunana Surakarta dengan adanya kirab tururnan kiyai Slamet (kerbau bule yang dianggap kramat oleh masyarakat). Kalau dikaitkan dengan Islam kata suro disinyalir berkaitan dengan dua hal pertama dari sisi bahasa  tanggal sepuluh (yang dalam bahasa Arab disebut Asyuraa) pada bulan Muharram memiliki keistimewaan yaitu dianggap sebagai hari rayanya tiga agama Samawi yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Dari sisi sejarah Islam, Asyura merupakan sejarah kelam dalam Islam pada hari itu terjadi pembantaian yang diluar nilai-nilai kemanusiaan terhadap Husein cucu Nabi SAW di Karbala, sehingga disebut tahun dukacita (selain tahun duka cita dimana wafatnya Abi Thalib dan Khadijah RA), yang sampai saat ini peringatan Karbala dilaksanakan secara dramatikal dan emosional oleh penganut Syiah, khususnya di Iran dan di Irak dengan memukul-mukul kepala dan punggung mereka dengan benda tumpul dan tajam tajam sampai berdarah, hal ini dilakukan menurut mereka sebagai bukti kecintaan dan solidaritas kepada ahlul bait.

Mungkin karena agak kesulitan mengucapkan Muharram maka bulan itu oleh masyarakat Indonesia khususnya Jawa disebut sebagai Suro, yang kemudian diyakini bulan pantangan mengadakan pesta, hajatan, serta upacara adat dll yang bersifat hura-hura., sehingga secara berseloroh ada teman yang berkata ”saya senang kalau sepanjang tahun adalah bulan suro, karena tidak ada kondangan sehingga bisa menghemat pengeluaran!

Awal tahun dalam sejarah Islam yang menjadi tonggaknya adalah peristiwa hijrah Nabi SAW dan para sahabat, selain sebagai siasat dakwah juga yang lebih penting adalah karena perintah Allah SWT, disini kita melihat keteguhan hati, kesungguhan, perjuangan, loyalitas para Muslim periode awal yang begitu gigih mempertahankan iman mempertaruhkan harta bahkan nyawa untuk sebuah mempertahankan kayakinan dan kebenaran, keluarga yang mereka kasihi, harta yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun mereka tinggalkan demi Islam, agama yang mereka peluk dan mereka yakini sebagai agama pembebas dan rahmatan lil alamin.

Ada pandangan yang agak keliru berkaitan dengan alasan terjadinya hijrah yang mana sering digambarkan bahwa hijrah adalah karena Nabi SAW lemah, dan anggapan ini muncul selain karena keterbatasan pengetahuan kita juga terindikasi ada pihak yang ingin menggambarkan Nabi SAW sebagai sosok yang lemah, dalam tulisan ini perlu disampaikan bahwa Nabi SAW hijrah bukan karena Nabi SAW lemah justru hijrah karena Nabi SAW seorang yang kuat! berbakat menjadi pemimpin besar, pemersatu manusia dan ini disikapi dalam persfektif yang berbeda oleh tokoh-tokoh Makkah dan tokoh-tokoh Quraisy. Tokoh Makkah melihat potensi yang dimiliki Nabi SAW adalah merupakan ancaman bagi kekuasaan mereka baik secara politik maupun ekonomi, maka dijalankan berbagai cara untuk menjinakan Nabi SAW dari yang halus seperti menawari kedudukan tinggi, harta yang melimpah, bahkan wanita tercantik, yang ditolak Nabi SAW secara tegas dengan sabdanya yang sangat terkenal “Kalau seandainya mereka letakan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, dengan harapan aku menghentikan dakwah ini, Maka demi Allah aku tidak akan menghentikannya sampai agama ini benar-benar jaya atau aku mati karenanya”, sampai usaha yang kasar seperti pemboikotan dan usaha pembunuhan seperti terjadi pada peristiwa malam hijrahnya Nabi SAW, dan semua jenis usaha tersebut gagal menjinakan Nabi yang mulia tersebut.

Sementara tokoh-tokoh Madinah melihat kekuatan dan potensi Nabi dari perspektif yang sama sekali berbeda dengan tokoh-tokoh Makkah. Kondisi Madinah yang carut marut, labil dan tidak aman karena terjadinya perang antar suku yang terus menerus seolah tanpa akhir, memerlukan tokoh kuat yang disegani dan dihormati oleh semua suku yang ada di Madinah, dan semua prasyarat tersebut ada pada Nabi, sehingga mereka sepakat menganggap Nabi sebagai pemimpin mereka, kesepakatan ini diawali dengan perjanjian Hudaibiyah pertama dilanjutkan Hudaibiyah kedua.

Prediksi dan harapan mereka terbukti benar Nabi diterima mayoritas masyarakat Madinah, sehingga kota ini yang sebelumnya bernama Yatsrib, secara konsensus disepaki berganti bernama Madinatunnabi atau Madinah Al Munawarah,dengan Nabi menjadi pemimpinnya, dan aturan kemasyarakatannya tertuang dalam “Piagam Madinah” sebuah kesepakatan yang mengatur kehidupan penduduk Madinah yang beragama Islam, dengan saudaranya sesama Muslim dan juga dengan Non Muslim.

Dan ketakutan tokoh-tokoh Makkahpun terbukti kekuatan yang dimiliki Nabi, dengan adanya peristiwa Fathul Makkah atau pembebasan kota Makkah, yang terjadi beberapa tahun kemudian setelah Nabi hijrah, ini menunjukan kekuatan Nabi baik sebagai pemimpin agama maupun sebagi pemimpin pemerintahan, dan terbukti. Jadi sekali lagi Nabi hijrah bukan karena Nabi lemah justru karena Nabi Kuat!

Akhirnya, selamat tahun baru Islam, semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini, sesuai dengan sabda Nabi  “beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, merugilah yang hari ini sama dengan kemarin dan binasalah orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin!”. Wallahu A’lam Bissawab.


H. Nasrudin SPdI, SE, MSI, Penulis adalah Dosen dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Universitas Muhammaiyah Purwaorejo

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Ketua Satgas Corona: Carrier Jauh Lebih Berbahaya Daripada Corona https://t.co/wM8EzFOQv0
Acha Septiasa Sempat Dikarantina 2 Kali, Ini Kisahnya https://t.co/Y3z0G4rzyD
Teknologi Biometrik Buatan Anak Bangsa Ini Tembus 25 Besar Terbaik Dunia https://t.co/D0Jm0hbcEc
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter