FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

OPINI: Membaca Harmonisasi Jimat-Akur di Pilkada Subang 2023

Dalam kadar tertentu, fenomena masih dominannya parpol dijadikan sebagai “kendaraan politik” menarik untuk dicermati. Dirasakan atau tidak efeknya, seorang kontestan yang sudah terpilih namun bukan dari kalangan partai, akan meluangkan waktu membuat strategi khusus supaya bisa mendapat tiket diajang berikutnya. Tak terkecuali dengan Bupati Subang, Haji Ruhimat (Jimat).

Jimat tampaknya sangat menyadari betul, perubahan manuver Nasdem  (sebagai parpol yang pernah usung Jimat dalam Pilkada 2018 lalu) menjadikan branding politik Jimat kian terpisah dengan Partai Nasdem dan Eep. Jimat yang cepat beradaptasi dalam perkembangan politik Subang, tak berhenti membuat strategi untuk memuluskan program - programnya yang terangkum dalam "JAWARA".

Kelihaian Jimat mulai terasah, sumber daya yang dia miliki semakin dioptimalkan. Wakil Bupati Agus Masykur (Wabup Akur) yang bertipe pekerja keras, loyal, serta melekat dengan kalangan millenial, terus diberdayakan. Berbeda dengan yang lain, Jimat justru menyerahkan hal - hal yang sifatnya kewenangan dan tanggung jawab wabup kepada Akur. Kapasitas politik Jimat mampu mengukur Akur sehingga tidak akan ada matahari bayangan.

Alhasil...abra kadabra!!! Jimat semakin disegani dalam kancah politik berkat keterampilan Jimat memainkan Akur. Secara logika kepartaian Akur memiliki komunikasi yang cair dengan DPRD, pun organisasi yang baik di Partainya dengan memiliki struktur sampai ke tingkat desa. Ditambah hembusan angin surga dari Jimat, bahwa Akur akan tetap menjadi mitranya dipilkada mendatang, membuat Akselerasi Akur sebagai "pembantu" sangat cepat, pengaruhnya terhadap elektabilitas Jimat juga besar, kecenderungannya terus naik.

Dalam sisi lain, Akur yang pekerja keras (namun mudah dirayu) tidak menyadari dirinya tengah diolah menjadi frame negatif oleh "Lawan politik" yang Mulai merasakan peran Akur dalam JAWARA. Senjata ini memang dahsyat, opini  publik mudah diubah. Persepsi atas seseorang mudah dibalikkan. Hasilnya sangat besar: berubahnya penilaian meskipun ada pada satu tempat yang sama, ada dalam ruang konseptor JAWARA.

Kita melihat bagaimana saat ini para pembuat opini (kalangan pengguna media sosial di Subang) banyak menyebut nama Akur dengan framing yang negatif. Ironisnya, pemuda klimis dan ganteng (namun polos) ini senantiasa mendapatkan frame positif pada akhir episode pembulian. Yang mencuat justru kesan kecerdasan, tanggung jawab, dan tipenya yang pekerja keras serta loyal. Sesungguhnya jika kita cermati, bukan tidak mungkin Akur semakin menguatkan jaringan bawah tanahnya.

Banyak orang terjebak karena ternyata sahabatnya yang dianggap tidak simpati dengan Akur, justru menggiring framing lain pada tempat yang berbeda. Salah satu contoh yang masih hangat adalah peristiwa "perkemahan JAWARA/joged"  yang menguras perhatian publik. Bagaimana frame positif dilekatkan pada Jimat dan Frame negatif ditempelkan pada Akur pasca menjawab pertanyaan wartawan. Itulah kecanggihan opini. Realitas yang sama bisa diframing untuk menghasilkan persepsi yang berbeda bahkan bertolak belakang.

Dalam konteks ini,  Jimat adalah buah dari framing Akur yang berhasil sehingga para hatters berbalik simpati. Akur sendiri sebaliknya. Ia justru korban framing pihak lawan yang berhasil. Ini menujukan betapa framing atas tokoh atau peristiwa yang  sama, bisa menciptakan respon publik luas yang berbeda. Lagi - lagi, Akur yang terframing negatif terbiaskan oleh pembahasan lain. Dari mana kalau bukan kekuatan bawah tanah Akur siklimis lugu ini.

Akur tampak enjoy walau dibully, tiada beban karena mungkin karena pengalamannya di dunia politik, dan yang menjadi energi penggeraknya dalam ketenangan itu rupanya karena Akur senantiasa ingat dengan angin surga dari Jimat_politikus yang kian matang dalam seni komunikasi, disamping kepercayaannya pada kekuatan bawah tanah yang dia kelola.

Di era demokrasi, menjadi penguasa dimulai dengan menguasai opini publik. Ini disadari betul oleh Jimat. Agus Masykur (Akur) politikus mulitalenta, dikenal taat beragama, dan millenial, sementara ini cukup bagi Jimat untuk mempropagandakan keberhasilannya dalam memimpin (penguatan elektabilitas yang utama dari seorang incumbent adalah keberhasilan berkarya), Akur sementara ini mampu mengisi kekurangannya, mempublish kinerja JAWARA.

Jimat bukanlah orang bodoh, dia apik mendesain politik. Apakah memang Jimat hingga saat ini masih "santai" dan tidak "mikirin" partai pengusungnya pada pilkada mendatang? Bisa saja demikian karena sebagai pemain matang, Jimat saat ini hanya butuh Opini. Hanya butuh agen cerdas (tapi jinak) dan itu ada pada Akur. Besok, dengan posisinya sebagai Incumbent dia akan "disambangi partai lain asal Jimat mau".

Setelah mendekati masa pilkada, apa yang bisa diambil Jimat dari Akur yang tidak punya uang? Jimat sejauh ini sudah besar dan elektabilitasnya makin naik. Tetap menjadikan Akur yang "bokek" sebagai calon wakilnya?

PERSEPSI adalah REALITAS, dapat secara potensial memberikan sumber daya yang besar, menjadi magnet bagi politikus lain untuk menjalin kemitraan demi kemenangan kontestasi. Sisi lain, Betapapun kuatnya persepsi positif terhadap Jimat tetapi di dunia politik yang undang-undang dana kampanye tidak efektif, dan jumlah dana yang sangat besar biasanya diperlukan sebagai amunisi meskipun merugikan perkembangan demokrasi, Jimat mungkin tidak akan memilih Akur lagi sebagai calon wakilnya sebab Akur "tak punya duit".

Jimat yang lihai dan pintar akan berpikir bahwa calon wakilnya nanti bukanlah mitra yang sama-sama punya framing positif seperti Akur. Maka menjelang 2022/2023 Akur yang sudah habis nafas karena berlari untuk JAWARA, Akur yang kehabisan waktu untuk berpikir karena sibuk mewujudkan JAWARA, sebaiknya segera saja membuat kedai warung nasi atau membuat gubuk di sawah supaya punya tempat kegiatan karena kemungkinan Jimat yang memiliki tingkat keterpilihan semakin baik, sudah tidak perlu menggandeng Akur.

Jika tidak dengan Akur, siapa yang akan duet dengan Jimat? Bukan tak mungkin dengan Elita karena sejauh ini, Eep (NasDem) belum menyebut nama berikutnya setelah Elita meskipun publik membacanya Elita-Nina. Tinggal nanti Jimat nya siap tidak menjadi wakil Elita? Penulis yakin, Eep serius mengusung Elita karena pada masa pilkada 2018 pun Eep pernah mengatakan pada penulis bahwa dirinya serius mengusung Jimat dan malu jika inkonsisten.

Hal ini pasti berlaku untuk saat ini dimana Elita tetap akan jadi pilihan Eep untuk diusung. Kemungkinan lain yang akan jadi pilihan Jimat adalah usungan PAN (ARD atau nama lain). Yang pasti penulis yakini Jimat tidak akan menggandeng Akur yang tidak berduit untuk kedua kalinya karena keberhasilan JIMAT - AKUR dalam menata Subang saat ini (meski harus diakui belum sempurna), bisa diolah supaya lebih menjadi branding Jimat pribadi dan publik sudah pasti memilih yang sudah terbukti dibandingkan spekulasi memilih calon baru.

Taswa Witular, Penulis adalah Pemerhati Politik

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Polres Majalengka Bekuk Komplotan Pelaku Bobol Baterai Tower https://t.co/ofR3jM47kX
Ini Ciri-ciri Kehamilan 2 Bulan yang Wajib Mama Ketahui https://t.co/QtrAIKHCeI
Jelang Musim Hujan, Dinkes Subang Waspadai Efek Bencana Alam https://t.co/QXI1DnhbSH
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter