FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] Dedi Mulyadi dan Peta Politik di Pilkada Subang

Disadari ataupun tidak, Kepala daerah sebagai petahana memiliki insentif elektoral. Hal ini rupanya disadari oleh para bakal calon penantang di Pilkada Subang 2022/2023.

Asep Rohman Dimyati (ARD) - ketua DPD PAN Subang yang dengan kapasitasnya telah mampu melakukan penguasaan beberapa lembaga yang dapat mendongkrak popularitasnya.

Pergerakan ARD leluasa karena kini menjadi orang nomor satu di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO Subang),dan sebagai ketua KONI Subang terlebih ada agenda Porda mendekati masa pilkada mendatang. Demikian halnya Elita Budiarti - Ketua DPD Golkar Subang yang terus terjun langsung ke lapangan memaksimalkan posisinya sebagai wakil ketua DPRD Subang. Dua sosok ini kegiatannya rutin menghiasi pemberitaan di beberapa media online.

Untuk penantang idealnya memang demikian. Tidak ada bahasa “terlalu dini” untuk memulai sosialisasi. Durasi bisa dioptimalkan untuk meyakinkan pemilih, mengapa harus berganti pilihan dari incumbent. Menariknya, Elita justru berani memberi kesan dukungan kepada Bupati saat ini sebagaimana dilansir sebuah media. Bukankah perlunya ganti Bupati itu ketika penantang memiliki konsep dan arah yang berbeda? Dari sini kita melihat bahwa memang terkait waktu yang cukup panjang para bakal calon kontestan masih kesulitan menentukan secara pasti lawannya.

Berbeda dengan NasDem melalui Eep Hidayat (Ketua DPD NasDem). Tidak lama setelah istrinya dilantik sebagai anggota DPRD Jabar, Eep yang adalah salah satu pengusung Ruhimat pada Pilkada 2018 lebih berani berspekulasi dengan menampilkan antitesis dari beberapa Kebijakan Ruhimat. Diyakini bahwa kelak yang akan Eep orbitkan sebagai pemimpin Subang adalah istrinya.

Kondisi ini dijawab oleh Ruhimat dengan segera mencari kendaraan lain sehingga nanti bisa memberinya tiket ke perhelatan pilkada 2023 meskipun kemudian dalam pencalonannya sebagai ketua DPC PDIP gagal. Tentu saja ini kabar baik bagi Eep sekaligus kesempatan bagi Maman Yudia yang kembali menjadi pimpinan banteng Subang untuk mengorbitkan putranya, Niko Rinaldo.

Meski demikian, Ruhimat tetap memiliki nilai yang tinggi karena posisinya saat ini. Dia belumlah habis, masih ada PKB atau Gerindra yang saat ini tampak belum memiliki bakal calon.

Kita fokus memaknai dinamika yang menonjol dalam beberapa pekan terakhir.

Elita tampak menampilkan kemesraan dengan NasDem (Eep). Ini menguatkan pernyataan Eep yang menyebut Elita sebagai bakal calon bupati dari NasDem. Serta merta publik pun menggandengkan nama Nina Hidayat dengan Elita. Dinamika Golkar - NasDem ini perlahan mencubit partai - partai lain untuk segera membuat manuver tandingan. Golkar dan NasDem Subang kini menampilkan percintaan yang romantis. Namun tentu saja bukan tak mungkin hal ini hanya sekedar teknik kuda troya atau teknik decoying yang dilakukan NasDem terhadap Golkar maupun sebaliknya.

Jikapun keduanya tulus saling mencintai dan publik merespon positif, masih ada tantangan yakni meyakinkan DPP nya masing - masing. Beberapa kasus menunjukan percintaan kandas atas dalih keputusan DPP.

Dipastikan hanya satu saja alasannya ketika DPP Golkar tidak merestui duet ini yakni keraguan DPP atas konsistensi power Elita saat kelak partainya berbagi panggung dengan sitangan dingin,Eep. Tanpa panggung saja Eep mampu merampas kantung - kantung suara di Pileg. Padahal, saat itu stigma negatif sebagai mantan narapidana masih sangat menempel. Disusul usungannya menang pada Pilkada. sehingga jika DPP Golkar menolak duet Elita - Nina, alasannya mungkin untuk mempertahankan Golkar Subang dalam jajaran partai jangkar di Subang. Eep bukanlah kawan yang harus diberi panggung.

Namun sepertinya akan lebih berpeluang ke pelaminan jika perkawinan ini didukung oleh senior Elita,yakni Dedi Mulyadi (DM). Lahir di Subang dan sukses meraih prestasi politik melalui Golkar Purwakarta menjadikannya memiliki kharisma kuat di dua kabupaten sekaligus. Dedi diyakini memiliki jaringan komunikasi yang cair dengan DPP Golkar. DM ada kans di dengarkan.

Sejatinya, disanalah pengorbanan terbesar dari seorang DM bagi Golkar Subang khususnya Elita. Dukungan DM terhadap Koalisi Golkar - NasDem di Pilkada Subang adalah antitesis dari Impian yang kini dia bangun di Purwakarta. Setelah berhasil menghantarkan sang istri sebagai Bupati Purwakarta menggantikannya, DM pun sukses memindahkan mahkota partai yang dia pakai kepada putranya meski masih berstatus mahasiswa.

Sejarah akan mencatat, Purwakarta adalah kota miliknya keluarga DM. Dimana berturut - turut Bupatinya adalah seorang Ayah-ibu-anak. Ya, jika tidak disiapkan untuk menggantikan ibunya sebagai Bupati, hendak apa putra mahkota didudukan sebagai ketua DPD Golkar Purwakarta?

Memang, mimpi besar DM tidak sirna hanya dengan mendukung Elita berduet dengan Nina Hidayat, istri dari Eep sang legendaris. Namun justru ketika ini berhasil menjadi pemenang pilkada maka sebagai putra kelahiran Subang, prestasi dan kharisma politik DM harus rela terbagi.

Langkah Eep dan Elita tak jauh beda dengan DM. Upaya Eep melanggengkan kharismanya melalui sang istri yang kini duduk di DPRD Jabar, sedangkan Elita melalui putranya bahkan mencatatkannya sebagai anggota DPRD Jabar termuda. Jika kemudian Elita jadi Bupati Subang, prestasi politik DM terimbangi.

Dengan panggungnya nanti, Elita yang cerdas dan pekerja keras bisa melampaui DM. Terbukti pada Pileg 2019, ditengah krisis kepercayaan terhadap Golkar Subang karena kasus OTT terhadap Kader Golkar, Elita mampu mengembalikan kepercayaan bahkan Golkar nyaris menjuarai Pileg di Subang.

Pengorbanan DM nanti, dengan mendukung Koalisi Golkar - NasDem adalah bentuk jiwa besarnya. Bahkan ketika turut memobilisasi fansnya di Subang untuk memilih Elita, namanya tetap tidak akan lebih banyak disebut dibanding Eep yang notabene pelaku politik di Subang. Disana Eep justru memperpanjang torehan prestasinya sebagai mantan Bupati Subang yang mendalangi 2 kemenangan pilkada secara beruntun tanpa diimbuhi "pergerakan DM".

Politik memang indah, lawan dengan mudah menjadi kawan. Pada sisi lain menampilkan aura lucu ketika waktu menuntut mereka yang romantis untuk saling beradu punggung mencapai tujuan yang sama pada jalan yang berbeda. Sesungguhnya dinamika tersebut bukanlah bukti stigma yang selama ini beredar bahwa konon dalam politik tiada kawan dan lawan yang abadi.

Politik adalah ilmu suci, kawan tetaplah kawan yakni perjuangan melawan ketidakadilan serta kesenjangan ekonomi. sedangkan lawan tetaplah lawan, yakni nafsu kebumian para pelaku politik yang kerap melupakan janji dan tanggung jawabnya setelah menjabat atau nafsu angkara murka yang membawanya pada kedzoliman karena lawan kontes dimatanya bukan saudara seperjuangan.  


Taswa Witular, Penulis adalah pemerhati politik Subang



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Menuju Industrialisasi, Ketua DPRD Subang: Jangan Lupakan Industri Pangan dan Wisata https://t.co/aYm0QnSwcR
Polres Majalengka Bekuk Komplotan Pelaku Bobol Baterai Tower https://t.co/ofR3jM47kX
Ini Ciri-ciri Kehamilan 2 Bulan yang Wajib Mama Ketahui https://t.co/QtrAIKHCeI
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter