FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

[OPINI] New Normal, Literasi Media, dan Gelombang Kedua

Euforia masyarakat di beberapa negara maju dalam menyambut kebijakan pencabutan lock down oleh pemerintahnya masing – masing nyatanya berpengaruh terhadap kebijakan yang diambil oleh pemangku kebijakan di negeri ini.

Selang beberapa hari setelah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan secara nasional, pemerintah justru mengeluarkan kebijakan yang cenderung bertentangan dengan semangat untuk mencegah penyebaran wabah yang lebih luas di negeri ini.

Kritik keras pun disampaikan oleh mereka yang saat ini tengah bekerja keras untuk menurunkan jumlah warga yang tertular. Mulai dari kepala daerah sampai tenaga medis turut berkomentar dan menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan pemerintah pusat yang dikenal dengan istilah relaksasi tersebut.

Di sisi lain, jawaban atas pertanyaan tentang kapan sebenarnya wabah ini akan berakhir di tanah air justru berpotensi menjerumuskan bangsa ini ke dalam gelombang kedua pandemi. Temuan yang dipublikasikan oleh beberapa peneliti ataupun lembaga survey Pemilu terkait waktu berakhirnya pandemi nyatnya disikapi secara kurang bijak oleh sebagian masyarakat maupun pemerintah.  

OPINI LAINNYA:

[OPINI] Melanggengkan Muatan Baik di Era New Normal

[OPINI] Corona, Mudik dan Lebaran Virtual

[OPINI] Perlukah Sanksi Sosial Bagi Pelanggar PSBB?



Sesaat setelah temuan tersebut dipublikasikan, masyarakat mulai berbondong – bondong melakukan pelanggaran terhadap protokol kesehatan yang semestinya dipatuhi untuk melindungi keselamatan mereka. Sebagian masyarakat terlampau percaya (diri) dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa wabah di negeri ini akan segera berakhir dalam waktu dekat  tanpa lebih jauh mempelajari syarat – syarat yang harus dipenuhi agar kondisi tersebut dapat terealisasi. Alhasil, kerumunan orang – orang pun kembali terjadi dimana – mana menjelang hari raya.

Setali tiga uang, pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab atas keselamatan warganya justru terkesan tidak mampu menghadapi dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh wabah Covid -19. Alih – alih memperketat pengawasan terhadap jalannya PSBB, pemerintah justru memberikan kelonggaran dengan membuka kembali jalur transportasi umum seperti terminal, bandara serta pelabuhan.

Adanya persyaratan khusus (surat jalan dan surat keterangan sehat) bagi mereka yang hendak bepergian menjadi alasan untuk membenarkan kebijakan tersebut. Kenyataannya, kebijakan semacam ini tidak sedikit dimanfaatkan oleh mereka yang hendak pulang ke kampungnya masing – masing. Tak hanya itu, berbagai dokumen yang diperlukan bahkan dapat diperoleh dengan mudahnya melalui toko online. Merasa jengah dengan perilaku (sebagian) masyarakat serta kebijakan pemerintah yang (terkesan) plinplan, kalangan tenaga medis pun akhirnya buka suara.

Menggunakan tagar “Indonesia Terserah” yang menggema di jagat maya, mereka pun meluapkan kekecewaannya. Besarnya pengorbanan yang mereka berikan kepada bangsa ini seakan tidak ada artinya apabila menyaksikan perilaku tidak disiplin yang dipertontonkan oleh (sebagian) masyarakat serta kebijakan pemerintah yang kian jauh panggang dari api.  Tenaga medis pun semakin hari kian banyak yang tertular dari pasien yang mereka tangani sehingga berdampak pada pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

Di saat kurva jumlah penderita Covid-19 yang tak kunjung melandai dan vaksin yang belum juga ditemukan, pemerintah justru merencanakan membuka kembali pembatasan akses yang selama ini dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah. Istilah “new normal” pun digaungkan dengan maksud  mengajak masyarakat untuk menjalani kehidupan baru berdampingan dengan Covid-19. Adapun faktor ekonomi menjadi alasan utama dikeluarkannya kebijakan yang cukup kontroversial tersebut.

Berbagai fasilitas umum akan segera dibuka secara bertahap dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan (yang oleh sebagian kalangan diragukan efektivitasnya). Mulai dari tempat usaha, tempat ibadah, sampai dengan sekolah akan kembali dibuka sesuai dengan jadwal yang dipublikasikan kepada masyarakat. Kekhawatiran akan terjadinya gelombang kedua (second wave) pandemi pun disampaikan oleh berbagai kalangan yang saat ini tengah berjuang keras melawan penyebaran virus mematikan tersebut.

Guna mencegah terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan, literasi media menjadi bagian yang sangat penting untuk diperhatikan di samping protokol kesehatan. Untuk itu peran para jurnalis dalam menyuguhkan berita – berita secara objektif turut menentukan masa depan bangsa yang besar ini.

Dalam konteks pembukaan kembali Lembaga Pendidikan misalnya, pengelola Lembaga mesti teliti dalam membaca situasi serta cermat dalam menghitung resiko yang mungkin terjadi. Artinya, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah hendaknya dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum benar – benar dilaksanakan.

Sebagai contoh, sebelum pengelola sekolah membuka kembali sekolahnya sesuai dengan instruksi pemerintah, ada baiknya apabila menyimak terklebih dahulu pendapat yang diutarakan oleh para pakar seperti ahli epidemoilogi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), serta para ahli lainnya sesuai dengan bidangnya. Selain itu kesiapan orangtua pun menjadi hal yang juga perlu untuk diperhatikan. Hal ini perlu dilakukan agar sekolah tidak menjadi klaster atau episentrum baru penyebaran wabah.

Jika berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan pengelola lembaga ternyata resiko penularan lebih besar, tidak ada alasan bagi sekolah untuk tetap memaksakan diri melaksanakan kegiatan belajar secara tatap muka. Keselamatan jiwa anak terlalu berharga untuk dipertaruhkan di masa pandemi ini.

Selain itu kita pun tidak menginginkan sekolah menjadi salah satu penyumbang terbesar pasien Covid – 19 dan akhirnya menambah beban para tenaga medis. Bukankah yang harus mereka tangani tidak hanya pasien Covid saja ? Bukankah di sana ada pasien dengan gangguan kesehatan lainnya yang juga memerlukan penanganan khusus ?.

Oleh karenanya, penulis kembali mengingatkan agar seluruh pihak lebih berhati – hati dalam mengambil keputusan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi Lembaga Pendidikan saja, melainkan institusi – institusi lainnya. Dengan begitu, gelombang kedua pandemi yang berpotensi memakan korban jiwa lebih besar pun dapat kita hindari. Semoga.

Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan, Sekjend JSIT Kabupaten Subang


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Kenali Waktunya Saat Penis Berhenti Tumbuh https://t.co/oyimXxrJc7
Wow, Angka Kasus Covid-19 Indonesia Masih Tertinggi di Asia Tenggara https://t.co/MHStprby93
Innalillahi, Komedian Omas Meninggal Dunia https://t.co/CXxzkZBhJM
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter