FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Bedug Sebagai Simbol Akulturasi Agama dan Budaya Lokal

Umat Islam yang baru tumbuh  berkembang di Madinah merasa bingung mencari cara pemanggil agar shalat berjamaah dapat dilaksanakan serempak, tidak ada yang datang terlalu awal atau terlalu akhir karena belum ada tanda atau panggilan yang disepakati bersama.

Di bawah bimbingan Rasulullah SAW, mereka bermusyawarah mencari metode dan cara apa yang paling tepat sebagai penanda datangnya waktu shalat sekaligus pemanggil umat untuk shalat berjamaah, ada beberapa usulan diantaranya dengan membunyikan lonceng, tapi seketika usulan ini ditolak karena menyerupai panggilan bagi umat Nasrani untuk melaksanakan kebaktian dan bisa membingungkan, panggilan tersebut untuk shalat atau paggilan untukkebaktian, usulan selanjutnya adalah dengan menyalakan api, usulan ini juga ditolak karena persis dengan masyarakat Majusi penyembah api akhirnya musyawarah “deadlock” karena belum ditemukan konsensus atau kesepakatan bersama menemukan solusi.

Beberapa waktu kemudian Umar bin Khattab menjumpai Rasulullah SAW untuk menyampaikan usulan bahwa dia bermimpi didatangi seorang yang mengajarkannya lapadz yang berisi panggilan untuk melaksanakan shalat berjamaah, dan ternyata mimpinya sama dengan beberapa sahabat, akhirnya setelah lafadz tersebut diperdengarkan kepada Rasulullah SAW dan disetujui Beliau, ditunjuklah Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan kalimat tersebut untuk memangil kaum muslimin melaksanakan shalat berjamaah.

Lapadz yang dikumandangkan ini kemudian disebut adzan yang artinya “panggilan“ dan orang yang mengumandangkannya disebut “muadzin”. Dan orang yang beruntung menjadi muadzin pertama dalam Islam dan juga disebut Muadzin Nabi adalah Bilal bin Rabbah RA dan atas inovasi Bilal juga lah khusus untuk shalat subuh ditambah lapadz “Asholatu khairum minnan naum “ yang artinya shalat lebih baik dari pada tidur, yang didiamkan Rasulallah SAWdan ini dimaknai bahwa  Beliau setuju.

Seiring berkembangnya Islam termasuk ke Indonesia yang diperkirakan mulai abad VII Masehi yang dibawa pedagang muslim dari tanah Arab, terjadilah akulturasi tradisi dan kebudayaan, diantaranya panggilan untuk shalat yang sudah mapan yaitu adzan berkolaborasi dan saling melengkapi dengan tradisi dan budaya lokal.

Bermula dari terbatasnya jangkauan suara adzan yang bisa didengar yang radiusnya hanya beberapa meter saja, maka digunakan metode untuk memanggil kaum muslimin untuk shalat berjamaah sebelum adzan itu sendiri dengan membunyikan kentongan, sebuah media pemanggil yang sudah biasadigunakan untuk beberapa keperluan seperti sebagai pemberitahuan atau tanda panggilan agar masyarakat untuk segera berkumpul diacara pertemuan selapanan, sebuah acara untuk “genduk-genduk roso” membahas masalah yang dihadapi masyarakat, ataupun kentongan sebagai tanda adanya bahaya seperti kebanjiran, kebakaran dan berita kematian, adapuan nada bunyi kentongan disesuaikan dengan tipe kebutuhan dan kegiatan yang dilaksanakan.

OPINI LAINNYA:

[OPINI] Corona, Mudik dan Lebaran Virtual

[OPINI] Perlukah Sanksi Sosial Bagi Pelanggar PSBB?

[OPINI] Kacaunya Data Penerima Bansos COVID-19 antara Pusat dan Daerah


Tapi dibeberapa tempat untuk memastikan bahwa panggilan ini adalah hanya panggilan untuk shalat berjamaah dan tidak berfungsi lainnya maka dibuatlah bedug, yang dibunyikan sebagai tanda tiba waktu shalat dan panggilan untuk shalat jamaah, dimana nada suaranya antara satu shalat dengan shalat yang lain berbeda dan yang paling kentara perbedaanya adalah bedug panggilan shalat jum’at.

Bahkan beberapa saat sebelum masuk waktu shalat ada bedug pertama pemberitahuan bahwa hari adalah hari jum’at, kalupun ada fungsi lain dari bedug tidak terlalu beda dengan fungsi utamanya seperti bedug tanda tibanya hari raya idul fitri dan idul adha yang masing-masing dilakukan setahun sekali, dilanjut dengan bedug pengiring takbir baik yang tetap di masjid maupun takbir keliling, adapun alat sejenis bedug untuk pengiring musik bedug yang digunakan lebih kecil dan di daerah Jawa Tengah khususnya wilayah Kedu biasa disebut Jedor.

Berbicara masalah bedug, masyarakat Purworejo patut berbangga karena memiliki bedug dengan ukuran jumbo dan sering diklaim sebagai bedug terbesar di dunia bedug ini memiliki ukuran panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm. bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit banteng.

Bedug ini dinamakan bedug pendowo limo karena dibuat dari pangkal (bonggol) kayu jati bang bercabang lima (dalam ilmu bangunan Jawa/Serat Kaweruh Kalang, disebut pohon jati pendowo), daerah tempat pohon jati ini berasal adalah Dusun Pendowo, Bragolan, Kecamatan Purwodadi.Pembuatan bedug iniatas perintah Adipati Cokronagoro I, Bupati Purworejo pertama,ukuran sangat besar dengan maksud agar dentuman bunyi bedug terdengar sejauh mungkin sebagai panggilan waktu sholat umat muslim untuk berjamaah di masjid ini yaitu Masjid Darul Muttaqien, masjid kebanggaan masyarakat Purworejo, masjid ini dibangun pada hari Ahad, tanggal 2 bulan Besar Tahun Alip 1762 Jawa, bertepatan dengan tanggal 16 April 1834 M, seperti tercantum pada prasasti yang terpasang di atas pintu utama masjid.

Saat ini fungsi bedug pendowo selain sebagai tanda waktu shalat dan panggilan waktu shalat jamaah, oleh pemkab Purworejo bedug pendowo sekaligus masjid Darul Muttaqin dijadikan asset daerah yang berfungsi sebagai lokasi wisata religi, walaupun belum memberikan kontribusi yang optimal, karena sejauh ini bedug ini baru sebatas dilihat-lihat, diambil gambar oleh pengunjung yang terdiri dari rombongan-rombongan ziarah Wali Songo yang melintas dan hendak menuanaikan shalat dimasjid sekaligus istirahat, jadi baru sebatas tempat singgah, bukan tujuan utama dari para “wisatawan religius” tersebut, tetapi kalau semua “stakeholder” di Pemkab Purworejo yang terkait dengan pengelolaan bedug dan masjid bersynergi maka bukan hal yang mustahil, asset ini bisa memberikan multi fungsi yang berlipat ganda.

Dalam bidang agama bisa menjadi alat pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan masyarakat Purworejo yang religius, toleran dan saling menghargai serta menghormati baik  dalam konteks kerukunan intern umat beragama, antar umat beragama maupun antara umat beragama dengan Pemerintah, terbukti akulturasi yang terjadi diruang agama dan budaya bisa berjalan baik saling mendukung bahkan memperkaya khazanah Islam dan budaya lokal, dan dalam konteks saling memperkaya bukan saling menguasai satu atas yang lain.

Dalam bidang pariwisata instansi terkait bisa menjadikan asset ini sebagai sarana promosi daerah Purworejo dan meningkatkan pendapatan asli daerah misalnya dengan mengadakan kerjasama dengan agen-agen perjalanan seperti bus pariwisata untuk  menjadikan masjid Darul Muttaqin dengan ikon atau maskot bedug pendowo sebagai tujuan wisata religi tentunya dengan tidak mengesampingkan  fungsi dan tujuan utamanya untuk shalat berjamaah.

Dan tidak lupa untuk meningkatkan kualitas dan pemeliharaan serta servis yang diberikan, juga perlu dipikirkan faktor pendukung misalkan membuat kaos dengan desain bertemakan masjid Darul Mutakin dan bedug pendowo, sekaligus membuat miniaturnya sebagi souvenir yang patut untuk dimiliki sebagai kenag-kenangan dari Purworejo, sekecil apaun peluang untuk memajukan Purworejo harus diambil dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya!

H. Nasrudin SpdI, SE, MSI, Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo


 

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Temuan Fosil Ungkap Fakta Bahwa Dinosaurus Berjalan Mirip Ayam https://t.co/6aWFgZ4Xj7
Kisah Tukang Becak Lulusan SD yang Jadi Pengusaha Sukses di Swiss https://t.co/WBmGOBXiqH
Ini Dia 5 Kedai Kopi di Majalengka Kota Yang Wajib Dijajal https://t.co/HGYYl8yTQ5
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter