BRPI Sukamandi Temukan Ikan Mas Tahan Infeksi KHV

Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi berhasil melakukan inovasi riset terhadap ikan Mas Unggul yang dinamai Ikan Mas Mustika atau Mas Rajadanu Super Tahan Infeksi KHV.

Ikan mas Mustika ini merupakan hasil perakitan melalui metode seleksi famili dan marka molekuler MHC II melalui uji tantang. Pembentukan populasi tersebut dilakukan melalui seleksi pada karakter ketahanan terhadap KHV menggunakan marka molekuler MHC II spesifik pada alel Cyca-DAB1*05.

BERITA TERKAIT:
PPTTG LIPI Subang Ciptakan Puluhan Olahan Makanan dari Komoditi Khas Subang
Dukung Pembangunan Pangan, LIPI Kembangkan Singkong Unggul di Subang

Hasil identifikasi marka MHC II menunjukkan bahwa persentase individu ikan mas Rajadanu tahan KHV yang membawa marka MHC II meningkat dari populasi tetua hingga turunan ketiga," kata peneliti Ikan Mas BRPI SUkamandi, Suharyanto

Pada generasi tetua ini, katas Suharyanto, persentase MHC II sebesar 60,00%, meningkat pada turunan F0 sebesar 85,70%, pada F1 sebesar 93,30%, pada F2 sebesar 86,25%, dan kemudian pada turunan F3 persentase MHC II sudah mencapai 100,00%.

Sementara untuk seleksi dilakukan dari tahun 2010-2015 dengan respons seleksi kumulatif sebagai indikator keberhasilan program pemuliaan ketahanan penyakit KHV menunjukkan peningkatan performa ketahanan KHV berdasarkan sintasan hasil uji tantang yang diperoleh yakni sebesar 68,12%.

Populasi dasar yang digunakan pada kegiatan seleksi dibentuk dari populasi ikan mas Rajadanu koleksi di BRPI Sukamandi (Sebelumnya bernama Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT) Sukamandi).

"Hasil pengujian keragaan pertumbuhan pada uji lapang (uji multilokasi dan multisistem) menunjukkan bahwa pertumbuhan dan tingkat ketahanan terhadap penyakit KHV ikan mas MUSTIKA lebih tinggi dari pada ikan mas yang berasal dari UPR Lokal (Gambar 2)," paparnya.

Berdasarkan hasil penngujian benih ikan mas MUSTIKA tersebar di Cirata (Cianjur), Jatiluhur (Purwakarta), Darma (Kuningan), Sukamandi (Subang) dan Cijambe (Subang) pada pemeliharaan fase pembesaran didapatkan data Daya tahan terhadap infeksi KHV tinggi (SRĀ  uji tantang 98,89%), Pertumbuhan relatif cepat (SGR 3,01-3,62 % bobot/hari), efisiensi pakan tinggi (FCR 1,24-2,38), produktivitas pembesaran tinggi (lebih tinggi 5-67%), toleransi terhadap cekaman lingkungan tinggi, dan proporsi daging 21% lebih tinggi dibandingkan dengan ikan mas asal UPR/masyarakat.

Dampak dari testimoni tersebut, papar Suharyanto berakibat meningkatnya permintaan kebutuhan induk/ calon induk dan larva/benih mas MUSTIKA terutama institusi/ dinas terkait maupun para UPR/ pembenih yang ada di sentra sentra budidaya ikan mas di Cianjur, Ciamis, Pasaman, dan Lombok.

Hasil pengujian keragaan toleransi terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophilla pada dosis LD50 3,9x108 CFU/mL menunjukkan bahwa benih ikan mas MUSTIKA memiliki ketahanan yang lebih tinggi (mortalitasĀ  19% pada jam ke 24 dan sintasan 29% pada jam ke 168) dibandingkan ikan mas dari UPR (mortalitas 39% pada jam ke 24 dan sintasan 27% pada jam ke 168).

"Diharapkan dengan terbentuknya strain baru ikan mas MUSTIKA dapat meningkatkan produktifitas budidaya ikan mas secara nasional dan sekaligus juga dapat meningkatkan keuntungan dan kesejahteraan para pembudidaya maupupun pengusaha atau industri yang menggunakan bahan baku ikan mas," pungkasnya

FOLLOW SOCMED
FB & IG: TINTAHIJAUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 1
Banner Kanan 2

Twitter Update

Antisipasi Dini Bencana, Tagana Subang Goes To School https://t.co/0L2fs2Cndr
Embat Motor di Pasar Malam, Warga Cirebon Babak Belur Dihakimi Massa https://t.co/hIsqTPOIXV
Pemuda asal Majalengka Masuk 3 Besar Pemuda Pelopor Tingkat Jabar https://t.co/eYsdTz1Zwa
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page