FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Ratusan Sisingaan Subang Gebrak Parade Kebhinekaan

TINJAU SUBANG- 200 Sisingaan, kesenian khas Subang ikut ambil bagian pada Parade Kebhinekaan di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Kehadiran ratusan Sisingaan di sepanjang jalanan Jakarta itu berhasil menggebrak dan mencuri perhatian ribuan warga peserta Parade Kebhinekaan, termasuk dari mancanegara. Bahkan, ada diantaara mereka yang menaiki Sisingaan sambil bergoyang.

Pada Parade Bhinneka Tunggal Ika itu massa memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Meski sempat diguyur gerimis, 'Aksi Kita Indonesia' itu 'merahkan' kawasan Bundaran HI. Terlihat juga sebuah bendera Merah Putih raksasa yang dibawa berkeliling Bundaran HI oleh sejumlah peserta aksi.

Walau begitu, tak semua orang yang berkumpul di Bundaran HI adalah peserta aksi. Ada juga di antaranya adalah warga yang hendak berolahraga sebab Pagelaran Kebhinnekaan itu dilaksanakan bertepatan dengan jadwal Car Free Day (CFD)

Dari Subang, Lembaga Adat Karaton (LAK) Galuh Pakuan mengerahkan 6000 orang ke Jakarta. Mereka, diantaranya adalah masyarakat Seni dengan mengerahkaan 200 Sisingaan dan Maasyarakat Adat, Dayak Sagandu.

"Kehadiran kita bukan dukung mendukung atau politik. Sebaliknya, ini kesempatan bagus di momen besar untuk mengenalkaan dan menguatkan eksisensi seni dan budaya tradisional di tingkat Nasional. Karena sesungguhnya seni dan budaya inilah yang menyatukan rakyat Indonesia," kata Raja LAK Galuh Pakuan Ei Silviadi.

Peserta Parade Nusantara ini dipusatkan di Bundaran HI. Mereka longmarch dari Monas menuju HI. Hari pelaksanaan yang bertepatan dengan Car Free Day, membuat jalanan dari Monas menuju HI semakin semarak.

Barisan massa dari Subang, dengan ratusan Sisingaan mencuri perhatian ribuan warga yang menjejali ruas Jalan sampai di Bundaran HI. Dengan aksi ratusan seniman Sisingaan lengkap dengan perlengkapan musik, ratusan warga berlomba untuk mengabadikan dan selfie dengan latar Sisingaan. Tidak terkecuali awak media cetak dan televisi. Bahkan, tidak sedikit mereka yang naik Sisingaan dan diarak.

Sepanjang CFD, Sisingaan tidak hentinya beraksi. Tidak ada suara dari pengeras suara yang mengarah ke Politik. Sebaliknya, mengenalkan Seni Sisingaan dari Subang kerap terdengar. Bahkan saat melintass di panggung utama yang berada di Bunndaran HI, ada apreisasi khusus dari mereka yang konsentrasinya tertuju ke rombongan Sisingaan.

"Ini bukti, seni tradisional menjadi magnet bagi semua orang. Ke depan, kami berharap, Seni Tradisional di beri ruang untuk dipentaskan dalam satu momen tertentu di tingkat Nasional. Tidak saja untuk mempersatukan Bangsa Indonesia, ini menjadi salah satu cara melestarikan, dan promosi termasuk pendidikan," tandas Evi.

Selain Sisingaan dari Subang, dari pantauan, ada Onggong-onggong dari Bali, Reog dari Ponorogo dan Ondel-ondel dari Masyarakat Budaya.

________

Follow Twitter: @tintahijaucom

Like Faceboook: Redaksi Tintahijau

Iklan dan kerjasama hubungi:

WA: 081.805.117700 BBM: 2381524D email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL
Banner Kanan 1

Twitter Update

Jarak Kelahiran Terlalu Dekat Punya Dampak Buruk Bagi Anak https://t.co/NVqCdl9kKK
Ekslusive! TPA Panembong Subang Terbakar Hebat https://t.co/duS8OF2zZ8 https://t.co/BLSi65mbWP
UU SDA Disahkan, PKS: Kedaulatan Rakyat Atas Air https://t.co/FOsioBB9Bw
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page