FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Bergejala Mirip Corona, 2 Warga Majalengka Positif DBD



Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Majalengka menunjukkan kenaikan dibanding Januari lalu dan kasusnya dinyatakan telah diatas rata-rata.

Sebarannya hampir merata baik di suhu udara dingin maupun panas. Penyebab utama tingginya kasus DBD hingga tahun ini ada yang dinyatakan meninggal adalah karena kurang kesadaran dari masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

Puja Dewangga (19) dan Kiangka Yuga (5) warga Perumahan Bumi Cikal Asih, Desa Tenjolayar yang rumahnya saling berdekatan kini harus menjalani perawatan di RSUD Majalengka.

BACA JUGA:
Di Tengah Pandemik Corona, Warga Subang Tewas Terjangkit DBD
DBD Serang Belasan Warga Cipeundeuy, Subang
Dua Bulan, 83 Warga Majalengka Terjangkit DBD


Keduanya dinyatakan positif menderita DBD hampir bersamaan. Kiangka Yuga masuk Rumah Sakit sehari sebelumnya, esoknya Puja masuk Rumah Sakit dengan kondisi yang sama.

Semula keluarganya kaget menduga mereka diserang virus corona, karena saat ini musim covid-19 dan anyak orang langsung tertuju ke covid-19, karena ciri-ciri yang hampir sama yaitu panas demam disertai sesak.

“Hanya kan tidak ada riwayat kontak dengan penderita dan selama ini berada di rumah. Sesaknya diduda dari asma,” ungkap Devi orang tua Puja.

Setelah kondisi anaknya yang semakin menghawatirkan, setelah dua hari demam akhirnya dibawa ke RS dan dokter Rumah Sakit mendiagnosa DBD.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular di Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka Titin Wartini mengatakan, sejak awal tahun penderita DBD di Kabupaten Majalengka cukut tinggi.

Berdasarkan data pada bulan Januari Januari terdapat 33 kasus dengan sebaran tertinggi berada di Kecamatan Panyingkiran dan Sumberjaya.

Pada bulan Februari naik hingga hampir 100 persen atau mencapai 62 kasus, satu orang dinyatakan meninggal, sebaran tertinggi terdapat di Kecamatan Cigasong, Majalengka dan Sindangwangi dengan jumlah kasus masing-masing 9 penderita. Serta Bulan Maret sebanyak 50 kasus sebaran tertinggi di wilayah Puskesmas Munjul.

Menurut Titin, jumlah sebanyak itu sebetulnya sudah bisa dinyatakan kasus luar biasa, sehingga harus ada upaya pencegahan yang masif.

Upaya yang paling epektif adalah semua masyarakat berupaya membersihkan lingkungannya yang menjadi sarang nyamuk.

“Persoalannya sekarang ini ada kekurang pedulian masyarakat terhadap kondisi kebersihan lingkungan. Masyarakat disinyalir kurang kesadaran terhadap kebersihan, “ ungkap Titin.

Karena menurutnya fogging adalah langkah kedua ketika dinyatakan jentik positif dan sarang di  lingkungan telah dibersihkan.

“Fooging dilakukan di 20 rumah sekitar penderita. Tapi kebersihan wajib dilakukan,” ungkapnya.

Sumber: Pikiran-Rakyat | Foto: Ilustrasi

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Catat Girls!, Kata-kata Ini Tidak Mau Didengar Pria dari Pacarnya https://t.co/ALbh4FA7X7
Jelang Idul Adha, Mentan Kunjungi Peternak di Purwadadi Subang https://t.co/XU7exO4wy9
Satu Pasien Terkonfirmasi Covid-19 di Subang Meninggal Dunia https://t.co/BkQGdlP9ts
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter