Follow us:

Emen tidak Pernah Menghantui Tanjakan Subang, Apalagi Meminta Rokok

KECELAKAAN di Tanjakan Aman (dulu Emen), Kampung Cicenang, Desa/Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kerap terjadi. Penyebab kecelakaan kebanyakan dipicu kondisi kendaraan yang tidak laik pakai, seperti rem blong, atau human error.

16 Warga Indramayu Jadi Korban Tanjakan Aman Subang
Jadi 'Tanjakan Aman', Kecelakaan Masih Terjadi di Daerah Cicenang Subang
Innalillahi, Mini Bus Terguling di Tanjakan Aman Ciater Subang

Namun, tidak sedikit pula yang mengaitkan kecelakaan di jalur tersebut dengan hal mistis. Sebagian orang percaya Tanjakan Aman ditungui sesosok hantu bernama Emen yang menjadi biang penyebab kecelakaan, sampai sering memakan korban jiwa di jalur tersebut. Lalu siapakah Emen?

Dari penelusuran langsung ke pihak keluarga Emen, Emen ternyata bukan nama sebenarnya. Emen ialah sebuah nama panggilan kepada seorang sopir oplet jurusan Lembang-Subang yang memiliki nama asli Taing pada 1955 silam.

"Nama asli bapak saya ialah Taing, Emen hanya nama panggilan yang diberikan teman-teman sesama sopir oplet lantaran ia kecanduan menonton permainan cemen saat menunggu penumpang di Terminal Mandarin, Lembang. Sampai sekarang, akhirnya Taing lebih dikenal dengan nama Emen," terang Adang Edi Kurnaedi, 65, anak kedua Taing di rumahnya Kampung Bewak, RT 1 RW 3 Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (13/3/2018).

Meluruskan berbagai versi penyebab kematian ayahnya, Adang mengaku, Taing mengalami kecelakaan saat mengemudikan oplet di tanjakan Cicenang pada September 1956 sekitar jam 10 pagi.

Sewaktu mengangkut 12 orang penumpang, tepat di jalanan menurun, rem kendaraannya blong lalu menabrak tebing dan terbalik, hingga opletnya mengalami kebakaran hebat.

"Waktu itu bapak tidak langsung meninggal, tapi di Rumah Sakit Ranca Badak (sekarang RS Hasan Sadikin Bandung) setelah beberapa minggu dirawat karena mengalami luka bakar parah. Kalau penumpangnya semua tewas di lokasi," terang Adang seraya menyebutkan Taing dimakamkan di TPU Sirna Raga, Desa Jayagiri.

Dia menuturkan, Taing juga bukan warga asli Lembang atau Subang. Taing sebenarnya warga Parung Bogor yang lahir sekitar 1927, lalu pindah ke Bandung untuk berdagang kerupuk. Sekian lama tinggal di Bandung, Taing lalu menikah dengan Ruminah, seorang perempuan asal Ciparay, Kabupaten Bandung.

Setelah banyak gerombolan, Taing beserta istrinya lalu mengungsi ke Lembang. Pascakematian Taing, rentetan kecelakaan karena rem blong dan mobil yang melaju tak terkendali mengakibatkan kecelakaan parah dan sering memakan korban jiwa.

Sebagai penolak bala, pengguna jalan sering membuang sebatang rokok saat melintas di Tanjakan Aman, melemparkan uang recehan atau sekadar membunyikan klakson dengan harapan tidak diganggu dan selamat sampai tujuan.

Adang menyatakan, sikap pengguna kendaraan tersebut terlewat batas dan tidak masuk akal. Sebab, sebelum meninggal, Taing hanya berpesan ke teman-teman sesama sopir oplet agar didoakan surat Al-Fatihah dan Al-Adlu, bukan meminta sebatang rokok atau uang.

"Saat bapak meninggal, saya enggak ingat apa-apa karena waktu itu baru berumur 3,5 tahun. Tapi, menurut ibu saya yang disampaikan teman-teman bapak, Taing hanya minta dibacakan surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas setiap malam Jumat, sebagai 'hadiah' buat almarhum kalau melintasi tanjakan tersebut," jelasnya.

Menanggapi banyaknya kecelakaan di jalur tersebut, Adang dengan tegas mengatakan bahwa biang penyebab kecelakaan di jalur Cicenang lebih disebabkan kondisi kendaraan dan sopir. Diakuinya, selama lebih dari 30 tahun menjadi sopir angkutan Elf Subang-Bandung, Adang selalu memperhitungkan kendaraan yang dibawanya saat melintasi jalur tanjakan tersebut.

Sebagai perwakilan pihak keluarga, Adang juga meminta masyarakat jangan terus menerus mengaitkan kecelakaan dan penampakan sosok aneh di sekitar tanjakan Aman dengan cerita kematian ayahnya serta selalu mengganggu pengguna jalan yang melintas.

"Yang penting konsentrasi dan mengetahui medan jalan, kondisi kendaraan, periksa rem-remnya. Selama puluhan tahun, saya dan sopir angkutan lainnya tak pernah menemui kendala saat berjalan di turunan dan tanjakan tersebut, aman-aman saja. Jadi kalau ada mitos bahwa Emen minta tumbal, itu tidak benar, kami dari pihak keluarga sangat menentangnya," kata Adang.

Di penghujung akhir hayatnya, Taing meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Istrinya, Ruminah masih hidup dan kini sudah berusia 97 tahun.

Dia kini tinggal dengan keluarga besar Adang di Desa Jayagiri tetapi sudah sering sakit-sakitan. [mediaindonesia]


Dapatkan kilasan berita lainnya via:
Twitter: @TINTAHIJAUcom
FB: REDAKSI TINTAHIJAU