Setiap Tahun, 400 Warga Majalengka Jadi Janda

MAJALENGKA, TINTAHIJAU.com - Angka perceraian di Kabupaten Majalengka setiap tahunnya mencapai 32 persen dari jumlah peserta nikah sebanyak 12.000 pasangan. Atau setiap tahunnya di Majalengka ada 400 janda dan duda baru.

Menurut keterangan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka Yayat Hidayat, berdasarkan data dari Pengadilan Agama Kabupaten Majalengka yang diterima Kementerian Agama, tingginya perceraian ini di antaranya diakibatkan oleh persoalan ekonomi keluarga yang tidak terpenuhi, sehingga akhirnya mereka memilih bercerai.

"Tuntutan hidup dan kebutuhan tinggi sementara penghasilan terbatas, ada pula yang karena kemiskinan sehingga suami tidak bisa memenuhi kebutuhan standar keluarganya. Ini adalah rangking teratas yang melatarbelakangi perceraian," ungkap Yayat.

Rangking kedua penyebab perceraian adalah adanya campur tangan pihak ketiga seperti campur tangan orangtua, kakak dan keluarga lainnya. Malah kekerasan dalam rumah tangga juga cukup tinggi berada di urutan ke tiga.

Serta urutan keempat adalah diakibatkan oleh salah satu di antara mereka memiliki pacar, baik suami atau sebaliknya istrinya yang memiliki hubungan terlarang dengan laki-laki lain. Selebihnya akibat persoalan lain seperti tempat tinggal.
Penataran

Upaya Kemeterian Agama untuk menekan angka perceraian, menurut Yayat, adalah penataran bagi calon pengatin selama dua hari yang dilakukan di Kantor KUA atau desa setempat. Materi yang diberikan antara lain adalah hukum nikah, UU Perlindungan Perempuan dan Anak, psikologi serta ekonomi dan sosial yang bekerja sama dengan Dinas Sosial serta bekerja sama dengan Puskesmas menyangkut kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Selain itu ada pembinaan remaja pra nikah yang dilakukan untuk para remaja yang belum menikah.

"Kami juga terus berupaya melakukan sosialsiasi dan penyuluhan pada saat khutbah nikah. Semua penghulu diminta untuk menjelaskan peihal angka perceraian dan himbauakan untuk tidak melakukan perceraian setelah mereka menikah. Makanya benar jika penghulu di acara pernikahan baisa menjelaskan terlebih dulu soal angka perceraian karena angkanya sangat tinggi," ungkap Yayat.

Sementara itu ketua MUI Kabupaten Majalengka KH Anwar Sulaeman mengaku telah mengetahui hal tersebut karena telah menerima data dari Pengadilan Agama Kabupaten Majalengka. Kini pihaknya telah mengimbau semua tokoh agama dan ulama untuk memberikan ceramah keagamaan menyangkut hidup rukun di keluarga.

"Saya kemarin sempat nanya kepada Ketua PA Majalengka, sekarang kan status PA Majalengka kelas A, jika angka perceraian turun apakah kelas akan ikut turun atau tidak, karena kalau kelas turun itu akan berpengaruh pada tunjangan hakim dan pegawai PA, ternyata katanya tidak. Makanya sekarang kami telah mengintruksikan sejumlah ustad untuk melakukan sosialisasi untuk menghindari perceraian," kata Anwar Sulaeman. [PR]


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 1
Banner Kanan 4
Banner Kanan 5
Banner Kanan 2
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Apakah Mundurnya Achmad Zaky dari Bukalapak Karena Ditarik Jokowi? https://t.co/fC49ZBpjdF
3 Menteri Jokowi Main Drama Anti-Korupsi, Ini Sindiran Mereka https://t.co/v5hLi0FtTd
HIV/AIDS Menggila, Akademisi: Selamatkan Generasi Subang https://t.co/h74FQoagic
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page