FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Telur Jangkrik, Jadi Bisnis Alternatif Warga Majalengka yang Menggiurkan

MAJALENGKA, TINTAHIJAU.com - Bisnis telur jangkrik dan jangkrik cukup menjanjikan sebagai pakan burung. Dalam skala besar harganya mencapai ratusan juta dengan pemeliharaan dan pasar yang relatif mudah. Para pembeli datang sendiri atau dikirim sesuai permintaan.

Karminah (50) warga Desa Cibentar, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka sudah beberapa tahun mengelola usaha telur jangkrik milik adiknya Keye Sukarya. Ada lima boks jangkrik yang khusus ditelurkan.

Telur jangkrik tersebut dia jual kepada sejumlah peternak jangkrik yang setelah besar jangkrik kembali dibeli Keye untuk dijual ke pasar serta sebagian kembali dientaskan. Harga telur jangkrik mencapai Rp 250.000 per kg. Untuk mendapatkan satu kg telur lumayan lama, dan butuh telur cukup banyak.

Cara menelurkan jangkrik, jangkrik yang ada di boks kayu ditumpuki pakan berupa daun badori yang bentuknya besar dan lebih tebal dari daun rumput pada umumnya. Daun badori bisa ditemukan di sawah atau pinggir sungai. Setelah itu di bagian atasnya disimpan wadah berisi pasir. Di sana jangkrik akan berterlur.Telur jangkrik ini menempel di wadah plastik bagian pinggir.

Untuk mengambil telur tersebut, semua pasir diwadahi kaung dan di wadah tersebut telur terpisah. Setelah itu dibasahi agar telur bisa lepas dari wadah. “Jangrik ini bisa 10 kali bertelur, telurnya diambil dua hari sekali,” kata Karminah, Jumat 4 Oktober 2019.

Setelah 10 kali bertelur, jangkrik dipergunakan untuk pakan ayam, kadang digoreng sebagai cemilan atau teman nasi.

Cicih, Idik dan Atep pedagang pakan burung di Rajagaluh dan Leuwimunding mengatakan, mereka setiap harinya bisa menghabiskan jangkrik hingga 10 sampai 20 karung dengan harga 35.000 sampai Rp 40.000 per karung.

“Satu karung jangkrik tidak sampai 1 kg, karena di karung berisi daun pisang kering dan kertas bekas telur. Kalau tidak begitu, jangkrik mati atau jika terbuka pasti lepas,” ungkap Cicih.

Cara menjualnya pun, menurut dia, dengan cara dikira-kira disatukan dengan daun pisang keringnya.

“Paling dirawuan, kalau beli Rp 2.000 ya dua rawu (genggam) atau tilu rawu,” kata Cicih sambil tertawa.

Idik penjual aneka pakan burung dan pemilik pasar burung yang cukup luas, setiap harinya bisa menjual hingga 20 karung. Bila hari pasar setiap Rabu dan Minggu penjualan jangkrik bisa meningkat lebih tinggi.

Karena banyak penjual burung yang sedang masar membeli jangkrik untuk pakan saat berada di pasar dan untuk dibawa pulang ke rumahnya. Beberapa pembeli juga pemilik kios  pakan burung di beberapa daerah.

“Usaha jangrik pasarnya tinggi, kadang saya juga kalau kekurangan barang mengambil dari Jawa Tengah. Malah seringnya dari Jawa Tengah karena produsen di Majalengka sedikit,” kata Idik. [pikiran-rakyat.com]


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 1
Banner Kanan 4
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Open Mic, Menertawakan Majalengka Bersama Wakil Bupati https://t.co/tiioexdY0s
Siaga Bencana, Polres Majalengka Dirikan Posko Tanggap Darurat https://t.co/jLs4gDoOZR
Aksi Bersih-bersih di Daerah Perbatasan Subang Purwakarta https://t.co/43gUb2sXdM
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page