FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Aksesibilitas, Alasan Bandara Kertajati Bukan Pilihan Utama Penumpang

BANDUNG, TINTAHIJAU.com - Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, masih belum menjadi opsi utama sebagian orang. Aksesibilitas terhadap bandara ini menjadi pertimbangan utama sebagian orang enggan memanfaatkannya sebagai titik keberangkatan mereka menuju kota lain.

Warga yang biasa memanfaatkan Bandara Husein Sastranegara di Bandung rata-rata masih gagap dengan peralihan penerbangan ke Bandara Kertajati. Mereka terutama mengeluhkan jarak, salah satunya jarak bandara ke kota besar yang dinilai jauh.

Pegiat pariwisata, Iswan Budhi Mulyanto misalnya, mengungkapkan pandangannya terhadap Bandara Kertajati melalui tulisannya kepada Ayobandung.com

Iswan yang tinggal di Bali ini salah satunya mengeluhkan jauhnya jarak bandara dengan kota besar, salah satunya Bandung yang rutin ia tuju.

"Setiap kali sekeluarga mudik ke Bandung, kami selalu mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Biasanya, begitu keluar pintu bandara, kami langsung disambut anggota keluarga. Sensasi berbeda terjadi saat pertama kali turun di BIJB Kertajati pada 5 Juli 2019 lalu. Kami baru bisa bertemu dengan keluarga setelah melakukan perjalanan ekstra 3 jam naik bus.", tulisnya.

Di bagian lain, dia juga mengeluhkan ketiadaan petugas pengecek tiket hingga membuat pengantar dapat turut masuk sampai lokasi antrean konter check in tiket. Sesuatu yang tak lazim di bandara manapun yang pernah dia datangi.

Bandara Kertajati pun dikesankannya sepi dan mubah karena luasnya bandara tak sebanding dengan volume penerbangan yang justru minim.

Dia meyakini, kondisi itu akan berubah ketika volume penerbangan meningkat sehingga penumpang hilir mudik di bandara ini. Namun, banyaknya penerbangan di antaranya mensyaratkan akses menuju bandara yang lebih cepat dan mudah.

"Kalau BIJB Kertajati lebih baik dari segi jarak, pilihan pesawat, pilihan tujuan, dan kemudahan transportasinya daripada Bandara Soekarno-Hatta, penumpang jelas akan berbondong-bondong ke BIJB Kertajati," katanya.

Sayang, lanjut dia, dari sisi fleksibilitas memilih maskapai dari BIJB juga kurang karena minimnya penerbangan. Dia pun menceritakan pengalamannya yang kurang menyenangkan akibat kondisi itu, saat pesawat kepulangannya dimajukan dari pukul 12.40 menjadi 08.20.

"Kami sempat kelabakan karena harus sudah berangkat jam 4 subuh. Sementara, maskapai hanya memberi dua pilihan, ikut jadwal mereka atau uang kembali. Tak ada pilihan ketiga, misalnya memakai pesawat siang atau sore, karena memang cuma satu-satunya penerbangan," bebernya dalam tulisan itu.

Menurutnya, situasi itu tak hanya berdampak bagi penumpang pesawat reguler, melainkan pula bagi para wisatawan. Turis yang akan berwisata ke Bandung dipandangnya hanya akan menghabiskan waktu 7-8 jam untuk pulang pergi ke bandara.

Dari kacamata Iswan dan rekan-rekannya yang lain, selama Tol Cisumdawu belum rampung, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang akan tetap menjadi opsi terbaik ketimbang Bandara Kertajati.

Fenomena ini pula dialami Bambang Jumantra, warga Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kabupaten Cirebon. Pada 19-22 Agustus lalu, dirinya bersama rombongan undangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat memanfaatkan Bandara Soetta menuju Bali.

Padahal, penerbangan ke Bali tersedia pula di Bandara Kertajati. AirAsia misalnya, menjadi salah satu maskapai penerbangan yang menyediakan penerbangan ke Bali dari Bandara Kertajati.

Menurut Bambang, pemilihan Bandara Soetta sebagai titik keberangkatan dan kepulangan rombongan ini menuju dan dari Bali, adalah keputusan pihak penyelenggara kegiatan, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar.

Bambang tak mengetahui alasan pasti pihak penyelenggara memilih Bandara Soetta ketimbang Bandara Kertajati sebagai titik keberangkatan dan kepulangan mereka. Hanya menurutnya, bagi peserta dari daerah lain, jarak ke Soetta lebih dekat.

"Dari Dinasnya (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar) kumpul di Soetta. Karena kalau di Soetta, jarak peserta dari kota/kabupaten lain, lebih dekat berimbang," tuturnya kepada Ayocirebon.com, Sabtu (31/8/2019).

Selain dirinya dan seorang lain yang mewakili Kota Cirebon, kegiatan berupa capacity building ihwal hak kekayaan intelektual (HKI) itu diikuti pula peserta dari daerah lain se-Jabar, di antaranya asal Bekasi, Bogor, Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat, Serang, Purwakarta, Subang, maupun Indramayu.

Sebagai bagian dari rombongan, Bambang hanya mengikuti petunjuk penyelenggara, meski sebenarnya bagi dirinya, jarak ke Soetta lebih jauh ketimbang ke Kertajati. Dia pun merasakan kenyamanan dan keterpuasan selama berada di Bandara Soetta yang dikesankannya ramai maupun terasa hidup. "Suasananya nyaman, fasilitasnya baik dan toiletnya bersih. Secara umum bagi saya Bandara Soetta memuaskan," cetusnya. [ayobandung.com]




FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


TINTAHIJAU CHANNEL
Banner Kanan 1

Twitter Update

Inilah Daftar Korban Keracunan Makanan di Majalengka https://t.co/Hd04Kfui4l
Posisi Empat Kepala Dinas di Subang Akan Dilakukan Open Bidding https://t.co/kiy4DA7oA1
Jumlah Korban Keracunan Makanan di Majalengka Terus Bertambah https://t.co/4FUHmaYxeO
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page