Rangginang, Mitoha dan Mimpi Majalengka

Satu panganan kampung yang tetap eksis dan bertahan dari jaman ke jaman adalah Rengginang. Panganan yang terbuat dari Beras Ketan ini tetap eksis di tengah persaingan bisnis.

Semula, Rangginang ini baru memberi rasa bagi tamu yang datang ke daerah, atau sebagai pelipur rindu ke kampung halaman. Namun belakangan, Rangginang ini menjadi solusi bisnis rumahan dengan hasil yang menggiurkan.

Satu dari ribuan pelaku usaha jajanan ini adalah Sukron Makmun warga Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Majalengka, Jabar. Dia mengawali kiprahnya menggeluti usaha jajanan rumahan ini sejak lulus MTsN dulu atau sekitar 1993.

Meskipun masih anak-anak (kala itu) Sukron sudah cukup mahir dan pengalaman soal bisnis Rangginang. Maklum saja, sejak lulus SD dia sudah membantu orang tuanya, Ilyas Bakri, yang menggeluti bisnis Rengginang.

"Awalnya ikut-ikutan dengan orang tua, lama-lama kelamaan, ngelola sendiri. Ditambah lagi ibu meninggal, dan ayah pensiun dagang. Jadi saya melanjutkan," kata Sukron

Dalam lima tahun terakhir, usaha Sukron mulai tegak berdiri. Meskipun pasaran Rangginang buatannya itu masih dilakukan konvensional, dengan berjualan langsung di Pasar Mingguan Tradisional, namun omzet dan keuntungan yang didapat Sukron cukup untuk menutup kebutuhan sehari-harinya bersama keluarga.

Bahkan, dengan banyak order pelanggan yang datang ke rumahnya itu, Sukron melibatkan dua sampai lima orang untuk proses pembuatan Rangginang.

"Kalau kerja di orang, belum tentu ya bisa seperti ini. Kerja santai, bisa membantu tetangga, dan keuntungan kita sendiri yang menetukan. Meskipun tidak seberapa, alhamdulillah, mau dolar naik, BBM naik, gak begitu banyak pengaruh," jelasnya

Berbeda dengan Sukron, Edi Juanedi Warga Jatiraga, Kecamatan jatitujuh, Majalengka selangkah lebih maju dari bisnis yang dijalankan Sukron. Meskipun produknya sama, namun Rangginang Edi sudah mmemiliki label dan pasaran dengan memanfaatkan fasilitas internet.

Rangginang Mitoha, label yang dimiliki Edi. Meskipun belum setahun atau tepatnya Juli 2018 seelpas Iedul Fitri lalu, namun bisnis Rangginag Edi jauh lebih melesat. "Kuncinya kita berani memulai dan cara baru untuk memasarkan. Selama ini, saya memanfaatkan Socmed," kata Edi.

Mental maju dan unggul dalam menjalankan bisnis, menjadi prasyarat kesuksesan Edi. Selangkah lebih maju dibanding kebanyakan orang yang memilih bekerja di tempat lain, menjadi modal besar Edi. Bahkan, tanpa gengsi bisnis yang dijalankan Edi menduplikasi usaha mertuanya.

Mitoha atau Mertua adalah inspirasi Edi. Orang tua dari istrinya itu sudah sejak lama berbisnis rumahan, Rengginang. Meskipun sistem penjualannya masih dengan cara konvensional, namun hasilnya cukup lumayan.

"Saya terpikir, andai pemasarannya dengan memanfaatkan online, mungkin akan lebih banyak penjualnnya. Dari sejak lebaran itu, bismillah kita mulai dagang Rengginang dengan label Mitoha," terang Edi.

Meskipun barang daganganya merupakan panganan yang sudah ada dari jaman dulu, tidak membuat Edi gengsi atau patah arang. Mental unggul dalam berkompetisi, membuat Edi percaya diri dan optimistis usaha yang digelutinya itu menjadi jalan keberhasilannya.

Menjual panganan jadul dengan pemasaran kekinian, strategi Edi bisnis Rangginag Mitoha. Dengan memanfaatkan social media, seperti Facebook, Rangginang Mitoha buatan warga Jatitujuh itu kini sudah melanglang buana ke sejumlah daerah di Indonesia.

Untuk pasaran di dalam negeri, kata Edi, Rangginang Mitoha itu tidak hanya dikonsumsi warga Jabar dan Tangerang dan Jakarta, tapi sudah terbang ke sejumlah daerah lain di Indonesia. Dia menyebutkan ada Pekanbaru, Papua, Padang, Lampung, Pontianak, Jateng dan Jatim.

"Alhamdulillah Rangginang Mitoha ini sudah kemana-mana ya, rezeki menantu sholih kali ya. Untuk satu minggu dari 800 sampai 1.000 pcs," kata Edi berseloroh.
 
Bukan saja rasanya yang gurih dan renyah, dalam setiap kunyahan Rangginang ini ada rindu bagi perantau ke kampung halaman. Wajar jika kue ringan buatannya itu kini sudah sampai di empat negara, seperti Swiss, Inggris, Jepang dan Belanda. Sejumlah negara lain, kata Edi segera menyusul.

"Memang belum sampai membuka pasar di Luar Negeri, mereka yang pesan itu orang Indonesia yang bermukim di sana, katanya ada rindu dengan kampung halaman," terangnya

Untuk 1 Pack ada dua varian harga, Rp30 ribu isi 20 Rangginang dan Rp15 ribu isi 10 rengginang. Sementara untuk harga mentah Rp55 ribu untuk pulau jawa dan Rp60 ribu luar Jawa untuk 1 Kg Rangginang

Bisnis rumahan seperti Rengginang, hanya satu contoh unit usaha kreatif yang dijalankan masyarakat. Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Majalengka mencatat, di 2017 lalu ada 28.113 kelompok usaha UMKM yang ada di Kota Angin tersebut.

Kelompok usaha tersebut terdiri dari usaha mikro 25.730 kelompok, usaha kecil 1.720 kelompok dan usaha menengah 863 kelompok. Sementara berdasarkan jenis Usaha, UMKM di Majalengka tercatat 28. 113 jenis usaha dengan rincian; pedagang 18.802 usaha, jasa lainnya 1.116 usaha dan industri kecil menengah 8.195 usaha.

Kepala Dinas KUKM Majalengka H. Adang Haedar menegaskan, kehadiran sarana transportasi massal, seperti BIJB, Jalan Tol Cipali dan potensi wisata di Majalengka memberi ruang kesempatan warga untuk berpacu dalam meningkatkan ekonomi.

Setidaknya, dengan fasilitas tersebut ada dua kesempatan yang salah satunya harus dimanfaatkan; kesempatan lapangan kerja dan kemandirian, kreatif dan inovasi dalam merespon perkembangan.

Di luar jumlah angkatan kerja yang mencari lapangan kerja, ada ribuan
warga yang memilih jalur ekonomi kreatif, ada yang berkreasi secara individu ada juga yang dilakukan secara berkelompok seperti lewat KUKM. KUKM ini, kata Adang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat yang berujung pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

"UMKM ini salah satu pilar utama ekonomi nasional yang harus memperoleh kesempatan utama, dukungan, perlindungan dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha ekonomi rakyat, tanpa mengabaikan peranan usaha besar dan badan usaha milik negara," papar Adang

Banyaknya pelaku UMKM di Majalengka, jelas Adang akan berdampak pada pemerataan ekonomi masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional.

Dampak yang menggembirakan dari hadirnya ribuan UMKM tersebut, Adang memaparkan, selain meningkatnya ekonomi kerakyatan dan pemerataan tingkat kesejahteraan, adalah mampu menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit.

Berdasarkan data tahun 2017, ada sebanyak 84.160 yang mendapat manfaat dari kehadiran KUKM. Mereka bergeak di bidang usaha perdagangan 33.023 orang, jasa lainnya 3.073 orang dan industri kecil-menengah 48.064 orang. "Dalam kalimat sederhana, KUKM ini multiefek. Asal pengelolaannya benar," katanya

Semakin banyaknya warga Majalengka yang mandiri dengan menjalankan ekonomi kreatif, potensi berkurangnya angka kemiskinan yang secara otomatis meningkatnya angka kesejahteraan menjadi konsekwensi logis yang harus dinikmati Majalengka pada 2-5 tahun ke depan.

Pegiat Empirium Pengkajian Islam dan Riset Sosial (Empiris) Majalengka Irvan Irawan mengatakan jika frame berfikir kebanyakan anak muda dalam merespon hadirnya BIJB dan atau pembangunan lainnya itu dengan difahami sebagai peluang untuk melecutkan potensi dengan usaha kreatif, maka dua point dar garapan visi-missi Bupati Majalengka Terpilih Karna Sobahi-Tarsono, Majalengka Maju menuju Majalengka Raharja sudah tuntas.

"Fenomena ini, saya kira kalau terus dipupuk, disupport, maka akan semakin banyak anak-anak muda yang memilih berkreasi mandiri, mencipta ekonomi sendiri. Bayangkan, jika ini menjadi gerakan anak-anak muda masa kini, maka tingkat kesejahteraan dan daya beli Majalegka dalam beberapa waktu ke depan akan semakin melesat," kata Pegiat Empirium Pengkajian Islam dan Riset Sosial (Empiris) Majalengka Asryad Ahlibait

Karna-Tarsono pada Pilakda Majalengka lalu mengusung visi-missi Majalengka Makmur menuju Majalengka Raharja. Kata Makmur itu memiliki akronim Majalengka maju, aman, kondusif, unggul dan religius. Sementara Raharja diartikan religius, adil, harmonis dan sejahtera.

"Pada kata maju dan unggul itu dalam prakteknya ya generasi muda yang kreatif dan mandiri, yang pada akhirnya akan menghadirkan kesejahteraan yang menjadi cita-cita Karna, yaitu raharja," jelasnya. [echa rachmania]

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIAJUcom
Twitter: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 3
Banner Kanan 2
Banner Kanan 1

Twitter Update

Peringati Hari Puisi, Budayawan Majalengka Gelar Macasukma https://t.co/CIyFGeOnY2
DPD PKS Subang: Kami Wakafkan Agus Masykur untuk Benahi Subang https://t.co/HyqZ6fcPTv
Ada yang Beda, Ini Penampakan Taman di Sisi Jalan Alun-alun Subang https://t.co/rRWfnWNV91
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page