Demi Ekonomi Rakyat, Alun-alun Majalengka Disulap Jadi Pasar Kaget

Area alun-alun Pemkab Majalengka tampak kumuh dan sumpek. Penyebabnya, puluhan pedagang menjejali area kantor Pemerintahan Kabupaten Majalengka

Padahal menurut Kepala Pengendalian Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Majalengka Sutaryo SE berdasarkan aturan tersebut bahwa khusus bagi para PKL itu sudah disiapkan oleh Pemda yakni Jln Pramuka, Jln Siti Armilah dan sejumlah jalur lambat lainnya. Dititik itu juga memberikan kesempatan kepada warga yang tinggal dijalur tersebut untuk membuka usaha guna pendapatan perekonomian.

Sayangnya, aturan itu tidak tegas diterapkan. Satpol PP terkesan lunak dengan kedatangan pedagang yang berjualan di lokasi pemerintahan tersebut. Sutaryo beralasan Kebijakan Pemda itu untuk meramaikan sejumlah titik sebagai pendapatan perekonomian kepada masyarakat kota angin.

Para PKL yang berjualan di dekat pusat pemerintahan seperti alun-alun tersebut, imbuh Sutaryo, dibatasi mulai dari pukul 15.00 sampai dengan 22.00 WIB. "Tetapi karena adanya kebijakan membuat pemerintah daerah memperbolehkan namun dengan adanya syarat. Memang aturan tersebut tidak diberikan secara tertulis kepada para pedagang yang berjualan," kata Sutaryo

Menurut Sutaryo, terkecuali Sabtu dan Minggu seluruh PKL juga dibebaskan untuk berjualan hingga sore hari, mengingat di dua hari itu libur PNS dan perkantoran lainnya. Meski demikian, para PKL kerap fokus di titik alun-alun. Namun pemerintah telah memberikan kebijakan kepada PKL agar tidak mengganggu aktivitas pemerintahan di Pendopo Majalengka serta tidak mengotori masjid agung Al-Imam.

"Disamping kita mengamankan kebijakan tersebut, PKL juga harus menaati aturan ini. Jangan kotori lokasi dan harus bisa membuat lokasi rapi dan nyaman. Kita juga terus berupaya melakukan penataan agar PKL bisa dialihkan ke jalur yang sudah disiapkan," tambahnya.

"Pak Bupati itu menginginkan seluruh PKL ditata rapi. Seperti halnya jalan Marioboro di Jogjakarta satu titik menjadi pusat perdagangan dan perbelanjaan. Ketika ada wisatawan luar datang maka sudah mengetahui," imbuhnya

Sementara itu, salah seorang PKL di alun-alun Majalengka, Dadang mengaku siap menaati peraturan tersebut. Namun tentu harus secara keseluruhan PKL dan jangan tebang pilih. Selama ini dirinya masih menjaga kebersihan dan tidak mengurangi aktivitas pemerintahan maupun mengotori lingkungan masjid Al-Imam.

"Inginnya juga kami ini begitu, karena tidak ribet ketika harus ada penyisiran PKL dalam waktu tertentu seperti penilaian Adipura dan menjelang kedatangan petinggi di negara ini. Namun karena memang sudah menjadi lahan usaha di alun-alun karena pusat keramaian anak muda dan warga lainnya jadi masih berjualan disini," paparnya. (Echa)



Dapatkan lintasan berita Subang via:
Follow Twitter: @tintahijaucom
Like Faceboook: Redaksi Tintahijau


Banner Kanan 1

Twitter Update

Novi Sri Mahendra, Guru Cantik dari Patokbeusi Subang https://t.co/DHusTaJ4Xq
GreenThink, Wahana Wisata Edukasi di Pantura Subang https://t.co/YRMlZxidHg
Tempat Uji Kompetensi Fakultas Pertanian UNMA Direspon Penyuluh PNS Pertanian Cirebon https://t.co/FLRskdq6bx
Follow TINTAHIJAU.COM on Twitter

Facebook Page