FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Pemerintahan

  1. Eksekutif
  2. Legislatif
  3. Politik
  4. Subang Jawara

Megapolitan

  1. Peristiwa
  2. Ekbis
  3. Ragam
  4. Hukrim

Milenial

  1. Teknologi
  2. Opini
  3. Hijrah

Pro dan kontra terkait perlu atau tidaknya (boleh atau tidaknya) orangtua memberikan telepon seluler pintar (smart phone) pada anak – anak hingga saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat.

Sebagian pihak menilai, mengizinkan anak untuk memegang benda mungil serbaguna tersebut merupakan hal yang wajar. Siapa pun yang hidup di era digital seperti saat ini tidak mungkin terpisahkan dari gadget mengingat perangkat tersebut telah menjadi sebuah kebutuhan.

Tak hanya itu, sengaja menjauhkan diri sendiri dan anak dari peralatan canggih tersebut sama saja sebagai perbuatan yang menyia – nyiakan anugerah Tuhan dan dipandang sebagai sikap “kufur nikmat” terhadap apa yang telah kita terima. Mereka yang setuju untuk memberikan gadget kepada anaknya juga berpendapat bahwa sudah selayaknya anak – anak dididik sesuai dengan zamannya.

Lain halnya dengan orangtua yang lebih memilih untuk menunda memberikan gadget pada anak hingga mereka beranjak dewasa, memberikan benda selain gadget dipandang lebih penting bagi masa depan mereka. Anak – anak terutama yang masih tergolong pada usia keemasan (golden age) tidak semestinya diberikan benda yang justru berpotensi mengganggu proses tumbuh kembangnya. Adapun memberikan gadget sejak dini dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif bagi anak maupun orangtua mereka.

OPINI LAINNYA:

[OPINI] Guru Harus Mampu Digugu dan Ditiru

[OPINI] Urgensi Pendidikan Karakter di Era 4.0

[OPINI] Iptek, Imtaq, dan Bencana Alam



Terlepas dari dua pendapat di atas, penulis ingin mencoba menggali dampak penggunaan gadget dari dua sisi. Pertama, pesatnya perkembangan teknologi informasi diakui memang membawa manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Berbagai jenis pekerjaan menjadi lebih mudah untuk dilakukan.

Tak hanya itu, tingkat kesalahan yang diakibatkan oleh faktor manusia (human error) pun dapat diminimalisir. Adapun berkembangnya tekonolgi kecerdasan buatan (artificial intellegency) yang dapat dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan menjadikan aktivitas – aktivitas yang dilakukan oleh manusia lebih efektif dan efisien.

Namun, dunia digital atau dunia maya sejatinya ibarat hutan belantara. Selain menyediakan buah – buahan dan makanan lainnya yang dibutuhkan manusia, hutan belantara juga merupakan tempat dimana berbagai jenis binatang buas tinggal dan siap untuk memangsa setiap saat.

Dalam konteks penggunaan gadget, beragam manfaat memang dapat dengan mudah kita dapatkan. Akan tetapi bahaya yang ditimbulkan oleh benda mungil tersebut juga tak bisa dianggap remeh. Betapa tidak, beragam hal yang dapat merusak moral serta megancam keselamatan jiwa anak – anak kita dapat dengan mudah ditemukan  dalam benda tersebut. Setidaknya, ada tiga dampak yang perlu dijadikan perhatian orangtua saat mereka memutuskan untuk memberikan anaknya sebuah gadget.

Pertama, kecanduan bermain. Permainan merupakan salah satu aplikasi favorit yang terdapat pada gadget. Permainan tersebut beraneka macam bentuknya. Adapun permainan yang bernuansa kekerasan menjadi permainan yang sangat digemari di kalangan anak – anak pada jenjang pendidikan dasar.

Kebiasaan semacam ini nyatanya berpengaruh terhadap perilaku mereka. Anak cenderung agresif dan menyelesaikan persoalan dengan cara – cara kekerasan. Dalam banyak kasus, tak jarang seorang anak melakukan tindak kekerasan kepada teman sebayanya karena terinspirasi oleh adegan – adegan yang mereka lihat melalui aplikasi permainan.

Kedua, mengajarkan anak untuk menghalalkan segala cara. Beberapa jenis permainan mengharuskan para penggunanya untuk mengeluarkan sejumlah uang apabila ingin merasakan permainan yang lebih seru dan menantang. Sayangnya, tidak semua anak memiliki uang yang cukup untuk membayarnya.

Alhasil, tidak sedikit anak yang mencari cara untuk memperoleh uang tersebut dengan cara – cara yang tidak halal. Mulai dari berbohong pada orangtua, menjual barang milik orangtua tanpa sepengetahuan mereka, meminta uang kepada teman sekelasnya dengan cara memaksa serta cara – cara kotor lainnya.

Ketiga, ancaman pornografi. Kemudahan untuk mencari dan menyebarkan informasi dalam bentuk teks, gambar maupun video menjadikan gadget sangat rawan untuk disalahgunakan. Berbagai macam adegan asusila yang tidak semestinya dilihat oleh anak – anak dapat langsung menyebar melalui media sosial  hanya dalam hitungan detik. Akibatnya, mental anak pun menjadi rusak.

Anak - anak akan sulit untuk mencerna materi pelajaran di sekolah karena kepala mereka sudah terkotori. Lebih dari itu, besarnya hasrat untuk meniru adegan tersebut tertanam kuat dalam diri mereka. Tak heran apabila saat ini kita sering mendengar kabar tentang  siswa SD atau SMP melakukan tindak kekerasan seksual kepada adik kelasnya. Adapun masturbasi seakan menjadi bagian dari hidup mereka dan terbawa hingga beranjak dewasa.

Keempat, gangguan kesehatan yang mengintai setiap saat. Penggunaan gadget secara berlebihan pada anak berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang sangat serius. Kebiasaan anak memandangi layar kecil selama berjam-jam akan berdampak pada indra penglihatan mereka. Selain itu efek radiasi yang dipancarkan oleh benda mungil tersebut dalam jangka panjang juga perlu diwaspadai.

Mengingat besarnya dampak penggunaan gadget pada anak, penulis mengajak para orangtua agar lebih bijak dalam bersikap. Memberikan gadget pada anak tanpa disertai dengan pengawasan secara maksimal sama saja dengan melepaskan anak di dalam hutan belantara tanpa didampingi siapa pun. Memeriksa isi gadget anak secara berkala mutlak dilakukan oleh orangtua agar anak terhindar dari bebagai “polusi”.

Orangtua tidak semestinya mengalah pada anak apabila anak terbukti belum siap menggunakan gadget sebagaimana mestinya. Orangtua seharusnya lebih tega melihat anaknya menangis histeris karena tidak diberikan gadget daripada mereka harus menanggung masalah yang jauh lebih besar di kemudian hari.  

Ramdhan Hamdani, S.Pd, Penulis adalah Praktisi Pendidikan


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom