[OPINI] Pemimpin Besar adalah Guru Hebat

Tidak sedikit sosok pemimpin-pemimpin besar yang pada kehidupannya memiliki latar belakang profesi pendidik atau guru di berbagai aspek kehidupan mereka.

Presiden Amerika yg paling dikenang seperti Jimmy Carter, Lyndon Johnson, Barrack Obama adalah  dosen di universitas-universitas sebelum menjadi presiden. Mayoritas pahlawan nasional Indonesia di era penjajahan adalah guru ngaji atau ulama sebelum memutuskan berjuang melawan penjajah. Jenderal Sudirman, jenderal terbesar yang dimilik Indonesia, adalah guru  di sekolah Muhammadiyah.

Nabi Musa, Nabi Isa Alaihimissalam adalah guru bagi kaumnya. Baginda Rasululllah Muhammad SAW, pemimpin terbesar dunia, tokoh yang paling berpengaruh versi Michael H Hart dalam buku worldwide bestseller-nya, 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh, sejak awal bahkan secara gamblang memproklamirkan bahwa dirinya diutus sebagai seorang guru. Innama buitstu Mualliman.

Murid-murid beliau adalah sosok-sosok yang masuk dalam daftar catatan sejarah emas di buku 100 Tokoh itu. Abu Bakar, Umar bin Khattab adalah dua diantara murid yang bisa mengubah arah sejarah dunia karena mendapatkan didikan langsung oleh Sang Pendidik Agung.

Profesi guru (muallim) memang juga dikatakan adalah profesi yang paling dekat dengan tugas kenabian. Prophetic Message. Hampir-hampir seorang muallim menjadi (fungsi) seorang nabi. Kaada al Muallima an yakuuna Nabiyyan. Begitu pepatah Arab berbunyi.

Dari catatan pribadi penulis saat mondok di Gontor, Kyai Syukri Zarkasyi sering mengatakan, bahwa seorang pendidik pastilah seorang pemimpin. Tetapi tidak semua pemimpin merupakan pendidik.

Kyai Syukri berkeyakinan bahwa politik tertinggi adalah pendidikan. Politik tertinggi adalah bagaimana kita mempersiapkan kader pemimpin melalui pendidikan.

Keyakinan itu juga dimiliki di tingkat lembaga yg beliau asuh, Gontor. Pondok ini adalah tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan pesantren yang paling banyak melahirkan pemimpin berpengaruh bangsa Indonesia pasca kemerdekaan, tercatat mulai dari Idham Khalid, Perdana Menteri Indonesia, Nurcholis Madjid, Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Hidayat Nur Wahid, Lukman Hakim Saifuddin, AM Fachir adalah sedikit contoh diantara alumninya.

Lembaga ini juga secara sadar sejak awal menentukan visi lembaga mereka dengan membuat sistem pendidikan bervisi Muallim. Kulliyatul Muallimin Al Islamiyah. Lembaga kaderisasi pemimpin ummat. Gontor memposisikan sebagai lembaga kaderisasi guru. Pabrik pendidik. Produsen pemimpin.

Tak semua alumninya memang memilih profesi keguruan sebagai jalan hidup.

Tapi alumni pondok ini dan pondok-pondok turunannya yang mengadopsi sistem dan semangat yang sama seperti Darunnajah, Al Amien Madura, Darul Qolam, Pabelan, terkenal memang banyak yang mampu menjadi pemimpin di masyarakat tempat mereka hidup. Menjadi pendidik di lingkungannya.

Lalu, kualitas apa yang mampu mengantar para pendidik itu menjadi pemimpin besar?
Dalam dunia leadership modern, perubahan memang sedang berjalan pasti.

Hari-hari di mana komando dan kontrol yang menjadi ciri kepemimpinan di era industri telah perlahan hilang. Ia tak lagi menjadi syarat utama untuk bisa sukses.  Di era informasi seperti sekarang, sudah bukan zamannya lagi pemimpin menyembunyikan informasi  untuk bisa berkuasa.

Sebaliknya, kunci sukses pemimpin di era ini adalah bagaimana seorang pemimpin, CEO, atau presiden bisa melakukan fungsi sebagai guru, sebagai pendidik, dengan menshare pengetahuan mereka, untuk menciptakan hubungan baik dan meningkatkan produktifitas dan kepuasan anak buah mereka.

Jack Welch, CEO General Electric yang dianggap sebagai salah satu pemimpin tersukses dan berpengaruh di era manajemen Modern mempelopori konsep The Leader-as-Teacher yang dikenal luas dalam dunia manajemen saat ia menyampaikan ide: “As a leader, you have to have a teachable point of view.”

Ya, pemimpin besar=guru hebat!

Setidaknya ada tiga kemampuan terkait keguruan/kependidikan yang sama-sama banyak dimiliki oleh pemimpin sukses dan guru hebat yang dikemukakan oleh Gordon Tregold, Founder and CEO Leadership Principles:

Pertama, pemimpin besar dan guru yang hebat sama sama mampu mengeluarkan potensi terbaik dari orang lain. Pemimpin mengeluarkan potensi anak buahnya dalam setiap situasi. Guru mengeluarkan potensi terbaik dari anak muridnya.

Hampir bisa dipastikan, jika kita diminta untuk menyebutkan guru terbaik yang pernah kita miliki, niscaya kita menyebut nama seseorang yang tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi guru yang mampu mengenalkan kepada potensi diri, memotivasi jiwa, dan memberdayakan potensi diri untuk mengejar mimpi kita.

Kedua, pemimpin dan guru hebat menginspirasi kepercayaan. A great leader inspires trust.

Kepercayaan adalah komponen terpenting dalam scenario belajar apapun.  Bahkan dalam dunia pesantren, percaya kepada kyai dan guru adalah syarat mutlak keberadaan santri di pondok.

Santri boleh saja belum faham ajaran kyainya, namun ia harus tetap percaya bahwa yang diajarkan akan memberi manfaat untuk masa depannya. Jika ia tidak percaya, haram hukumnya berada di pondok.

Dalam film Karate Kid, ketika sang anak yang ingin berguru kepada kungfu master, ia tak lalu langsung diajarkan jurus jurus kungfu, tetapi malah diminta untuk mengepel, mengecat, mencuci dan sebagainya.

Ia hanya harus percaya kepada gurunya, bahwa ada manfaat dari setiap gerakan yang ia lakukan dalam pekerjaan2 itu. Hanya murid yg sabar dan percaya sepenuhnya yg bisa mengambil manfaat terbesar dari apa yg diajarkan oleh gurunya.

Ketiga, pemimpin besar dan guru hebat adalah juga teladan yang baik.

Pemimpin yang besar memimpin dengan contoh nyata kehidupan yang ia jalani. Mereka besar bukan dengan ceramah atau pidato, tetapi karena keteladanan dan keteguhan hidup yang mereka lakukan. Lihatlah kehidupan para nabi. Hidupnya adalah pengorbanan untuk umat mereka.

Pola keteladanan inilah yang dipertahankan dan dilestarikan dalam pendidikan pesantren.

Itulah kenapa Kyai sebuah pondok harus tinggal di lingkungan yang sama dengan santrinya. Karena anak membutuhkan contoh teladan yang bisa ia saksikan dan rasakan langsung dalam kehidupan mereka sehari hari. Tidak hanya MEMBERI contoh, tetapi MENJADI contoh.

Meminjam istilah Kyai Hasan Sahal, tidak ada keberhasilan tanpa disiplin, tidak ada disiplin tanpa keteladanan.

Ketiga kemampuan pendidik yang diungkapkan oleh Gordon Tregold di atas nampaknya sulit didapatkan dan berkembang didalam sistem sekolah yang hanya sekedar menjalani konsep yang bertitik berat pada kemampuam akademis semata. Konsep pendidikan yang berorientasi nilai angka hasil ujian. Konsep "menuang air ke gelas kosong".

Namun, ia akan terus berkembang dan bertahan di dalam sistem pendidikan yang lebih utuh mendidik peserta didik.

Pendidikan yang sesuai dengan konsep 'anti-intelektualisme', konsep dan cita2 bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Konsep pendidikan merawat tunas pohon untuk tumbuh sesuai kodratnya.

Pendidikan yang banyak ditemukan didalam pendidikan ala pesantren.

Hadiyanto Arief, Praktisi Pendidikan/Pengasuh Pesantren Annur Darunnajah 8


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


Banner Kanan 1
Banner Kanan 4
Banner Kanan 5
Banner Kanan 2
Banner Kanan 3
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Friendly Match, Timnas Pelajar U-18 Vs Kesebelasan Subang https://t.co/UNS3Hx9yCl
Kurangi Kantong Plastik, Kader Muda Golkar Deni Rahayu Bagi-bagi Boboko https://t.co/uGMLTPML6P
UNESCO: Pencak Silat Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia https://t.co/Jxngb7SR8e
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page