FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Rendang Prasmanan dan Literasi Lingkungan

Beberapa waktu lalu di sebuah grup whatsapp ada teman mengirim sebuah video yang katanya sedang viral (setelah dicek sepertinya memang begitu). Video tersebut menayangkan dua ibu yang berseteru mengenai rendang yang disajikan dalam sebuah pesta.

Kejadian yang saya kira hanya ada di sinetron atau FTV saja. Namun, kali ini saya tidak akan menuliskan lebih lanjut tentang duo ibu itu atau rendang yang terkenal sebagai salah satu masakan terlezat di dunia. Saya hanya mengajak untuk kembali mengingat pengalaman teman-teman tentang budaya yang sering terjadi dalam sebuah prasmanan bernama aji mumpung.

Seringkali saat menghadiri prasmanan dalam pesta atau hajatan, saya melihat piring berisi makanan tak habis dimakan berserakan atau disimpan di bawah meja atau kursi. Bahkan, nampaknya ada beberapa makanan yang belum disentuh sama sekali namun ditinggalkan begitu saja oleh orang yang mengambilnya. Jika sudah seperti itu, serasa ada jiwa yang menjerit—bukan jiwa misqueen ya—meski dalam hati. Mbok ya kalau memang tidak suka kenapa diambil? Mbok ya kalau memang masih kenyang kenapa mengambil porsi penuh seperti selepas mencangkul sehektar sawah?

Tahukah teman-teman? Pada tahun 2016 Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO) menyampaikan bahwa sampah makanan di Indonesia mencapai 13 juta ton setiap tahunnya. Jika diumpamakan sebagai makanan layak saji, makanan sebanyak itu dapat menghidupi lebih dari 28 juta orang. Di sisi lain, pada periode Januari-Oktober 2016, data BPS menunjukkan bahwa Indonesia melakukan impor limbah sisa makanan sebesar kurang lebih Rp27 triliun. Hoho, jadi di saat kita membuang sisa makanan justru ada negara lain yang meraup keuntungan dari sisa makanan yang mereka jual dan dibeli oleh negara kita. Baik hati sekali ya kita?

Bahkan, di negara lain sudah ada beberapa aplikasi yang menyediakan layanan penjualan sisa makanan yang masih layak dimakan dengan harga yang jauh lebih murah. Makanan tersebut biasanya merupakan makanan dari restoran, kafe atau toko kue yang masih layak dimakan namun tidak terpakai. Dan uniknya, makanan tersebut menjadi rebutan. Ya iyalah, ngapain harus gengsi untuk menjaga kelestarian bumi. Justru yang harusnya malu adalah mereka yang pingin nyoba makanan ini itu gratisan di prasmanan tapi ternyata lidahnya gak cocok, hi….

Sebetulnya, jauh sebelum ada aplikasi canggih orang tua kita sejak zaman dahulu sudah lebih peduli dalam mengolah sisa makanan loh. Sebut saja nasi aking (meskipun sering digunakan untuk pakan ternak, nasi aking enak loh digoreng jadi camilan he…) atau sambal tempe semangit (tempe busuk memang enak dijadikan penyedap rasa yang sensasional). Ya mungkin karena zaman dulu susah untuk mendapatan makanan, jadi sekalinya ada maka dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin, bahkan jika perlu sampai kulitnya pun dimakan (contohnya kadedemes, makanan dari kulit singkong yang endes apalagi jika pedas). Namun, bukan berarti saat sekarang makan sudah serba mudah maka kita jadi dengan mudah begitu saja menghempaskan sisa makanan yang kita miliki. Ya jikapun memang sudah tidak layak makan, toh limbah makanan tersebut bisa diolah menjadi pupuk yang bermanfaat.

Jadi kembali ke prasmanan ya, jika memang ada kesempatan untuk hadir dalam sebuah acara maka pikirkanlah dengan matang saat mengambil makanan. Jangan sampai diri kita menambah timbunan limbah makanan di negeri ini di saat begitu banyak orang lain yang sulit untuk makan. Oh ya, saya salut dengan ibu-ibu berbaju merah di video tersebut; turut memikiran kesejahteraan orang lain, hal yang sudah mulai terkikis, hiks.

Oh ya, di daerahmu adakah olahan sisa makanan yang dapat dibuat menjadi makanan yang rasanya lezatika? Apa namanya?

Fadillah Tri Aulia, Penulis adalah Pengajar di SMPN 3 Rancabali

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom


TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Kejari Subang Sudah Kantongi Calon Tersangka Kasus BPR Syariah https://t.co/X8a1210mCx
Polres Bogor Bekuk Komplotan Begal Sadis Bersenjata Api dan Samurai https://t.co/FR1Efa9hvg
LSM AKSI Dorong Kejari Usut Semua Kasus Korupsi di Subang https://t.co/roU3bBjulJ
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page